Mental Miskin

Processed with VSCO with c1 presetFranz Kafka pernah berkata bahwa ia tidak bisa membuat orang lain mengerti mengenai apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Dan saya pikir hal ini terjadi pada semua orang. Selalu ada sesuatu yang besar di dalam jiwa kita yang sulit kita pahami. Hanya saja, ada orang yang mau meneliti dirinya lebih dalam, dan tidak sedikit yang membiarkan dirinya terlunta-lunta, terbawa arus, membiarkan dunia membungkus jiwanya, pasrah pada lingkungannya, dan berjalan seperti mayat hidup.

Saya tidak bilang saya bijak, tetapi saya bisa bilang bahwa saya memilih untuk terus belajar. Bertahun-tahun berjuang sekuat tenaga mengalahkan sesuatu yang buruk dalam diri saya untuk menjadi seperti apa saya saat ini. Mengalahkan racun yang tumbuh di dalam diri. Masuk kedalam badai batin yang sangat parah. Saya pernah berpikir bahwa saya tidak akan pernah selamat. Saya berpikir bahwa racun ini yang akan membunuhku. Racun ini yang akan mencabikku dari dalam. Penyakit yang sepertinya banyak menyerang manusia di Indonesia. Karena menurut saya, banyak sekali kekacauan di negeri ini yang diakibatkan oleh racun yang satu ini. Racun ini kunamai “Mental Miskin”. Orang lain mungkin menggolongkannya sebagai inferiority complex.

Saya lahir dan besar di pulau Samosir saat di mana uang adalah hal langkah. Seperti desa-desa lainnya, tidak ada pergerakan uang yang nyata. Orang-orang hidup sengsara oleh kemiskinan. Atau bisa dibilang telah dimiskinkan, diperas, dibodohi, dikucilkan dari peradaban. Namun bukan siapa yang memiskinkan dan bagaimana  yang akan saya bicarakan saat ini (mungkin suatu saat nanti akan saya ceritakan), tapi saya akan membahas tentang dampak kemiskinan pada mental.

Menjadi anak perempuan dan hanya memiliki beberapa potong baju dan tidak memiliki sandal untuk dipakai sudah cukup membuat harga diri terperosok ke sumur kehinaan saat berhadapan dengan para pendatang yang berpakaian rapih bersih lengkap dengan sepatu berkilau. Kepala akan terasa sangat berat dan mata akan terasa panas ingin menangis. Belum lagi hal besar lain yang kita sadari tidak pernah kita miliki dan lihat namun dimiliki dan sudah dilihat oleh orang lain.

Saya pernah menganggap bahwa turis manca negara yang datang ke tempat kami datangnya dari surga, orang-orang yang harus dihormati, orang-orang yang harus dipuja sekaligus ditakuti. Saya pernah iri pada orang kota yang berkunjung ke desa kami, bahkan pada saudara sendiri. Saya merasa terhina setiap kali ada orang yang memberikan pakain bekas atau bantuan lainnya padaku dan keluargaku. Saya merasa bahwa dunia ini tidak adil pada kami. Saya malu melihat orang-orang desaku meminta-minta pada turis. Saya malu saat menyadari bahwa kami anak-anak berebut gembira ke pembuangan sampah yang dibawa oleh truk kuning dari seberang pulau ke sungai kami. Mengorek-orek sampah seperti berada di tengah-tengah harta karun. Saya malu. Saya terhina. Saya tidak tahu kenapa. Dan itulah yang saya alami setiap saat di masa kanak-kanak dulu. Rasa hina bertumpuk-tumpuk setiap harinya, membuatku sesak bernafas. Kemiskinan di sekitarku membuatku ingin pamit saja dari dunia ini. Ingin sekali melarikan diri dari semua kemelaratan yang kusaksikan di depan mataku. Melarikan diri dari anak-anak yang ingusnya mengering membungkus wajahnya. Tidak ingin melihat ibu-ibu hamil yang kurus kering kerontang. Melarikan diri dari orangtua yang memukuli anak-anaknya. Tidak mau mendengar pertengkaran keluarga yang terjadi di sekitarku karena ketidakadaan sesuatu untuk dimakan. Ingin sekali melarikan diri dari lingkungan yang memuja-muja orang yang memiliki banyak uang dan membangga-banggakan anak-anak berkulit lebih putih, dan dengan terang-terangan menyatakan mereka yang putih adalah cantik.

Dan rasa hina ini ternyata tanpa kusadari tertanam kuat dalam diriku, sekalipun keadaan sudah berubah. Saat saya pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah, hal baru sangat menekan jiwaku. Banyak sekali hal berat yang harus saya hadapi seorang diri di usiaku yang masih remaja. Saya hidup sendiri di kota besar. Saya memikul rasa hinaku yang sudah kutumpuk-tumpuk, berusaha sekuat tenaga mengangkat kepala, berjuang menghadapi hidup seorang diri, dan berusaha tetap sadar agar tidak pingsan di tengah jalan.

Banyak pengalaman pertama di masa remajaku yang menimbulkan emosi yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Betapa beratnya bagiku menghadapinya seorang diri. Bahkan hal kecil seperti pengalaman pertama menonton film di bioskop membuat lututku bergetar. Berkunjung kerumah sakit untuk pertama kali membuatku berkeringat dingin karena tidak tahu harus memulai dari mana kunjungan itu. Dokter-dokter tampak seperti dewa bagiku. Tidak terjangkau dan suci. Saya hidup seperti di awang-awang. Jatuh cinta dan patah hati. Semuanya seperti badai yang tak berkesudahan. Masa remajaku kuhabiskan dengan keringat dingin ketakutan dan lutut bergetar karena keheranan. Saya merasa linglung.

Tahun-tahun terlewati begitu saja. Saya masih tidak bisa berhenti mengamati orang-orang dan lingkungan di sekitarku. Saya memiliki ketertarikan mengamati semua hal yang terjadi di dalam kehidupan ini. Seperti ingin menyerap semuanya dan meletakkanya di pundakku. Bahkan saat teman-temanku tampak tidak peduli tentang keadaan temannya sendiri, saya malah sudah mencari tahu tentang perang di Iraq.

Banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal terjadi dalam hidup ini. Hal yang bahkan sedikitpun tidak pernah terlintas dalam kepala, bisa terjadi begitu saja. Dulu saya berpikir bahwa semesta ini akan dengan senang hati membenturkan kepalaku ke tembok dan menertawakan darah yang mengalir di pipiku. Dunia ini seperti mempermainkanku dengan keji. Satu contoh yang pernah terjadi dalam hidupku dan pernah menyayat hatikku sangat dalam tanpa pernah kuduga akan terjadi adalah ucapan seorang laki-laki padaku melalui telephon. Hingga saat ini saya tidak tahu siapa dia. Namun aku tahu dia mengenaliku. Jika dia membaca tulisan ini, saya hanya mau dia tahu bahwa saya selalu menduga-duga apa yang sudah semesta ini lakukan padanya sebagai balasan untuk perkataannya yang sangat tidak beradap padaku. Saya tidak pernah ingin membalas perbuatannya. Saya hanya ingin dia menyadari kesalahannya. Dan jangan pernah meminta maaf padaku. Meminta maaflah pada Tuhan. Saya menjadikan pengalaman itu sebagai pengingat agar selalu berusaha, sekuat tenaga, untuk tidak mengucapkan kata-kata yang bisa membuat orang lain sedih. Karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya apa yang sudah dan sedang dialami oleh seseorang. Kita tidak tahu luka apa yang sedang diderita oleh jiwa seseorang.

Pertama kali menyadari bahwa saya memiliki mental miskin adalah saat saya mendengarkan orkestra. Saya ketakutan setengah mati. Merasa bahwa saya tidak layak mendengarkan musik klasik. Musik klasik hanya untuk orang kaya, hanya untuk orang kota. Berhari-hari perang batin terjadi di dalam diriku setelah kejadian itu. Benarkah ada orang yang tidak layak menikmati keindahan? Benarkah hanya orang kaya yang berhak bahagia? Benarkah orang berkulit gelap tidak cantik? Benarkah orang kampung adalah orang bodoh?

Tidak bolehkah orang kampung memiliki cita-cita tinggi? Tidak bolehkah wanita berkulit coklat percaya diri? Tidak bolehkah orang miskin bahagia? Tidak bolehkah kami anak dari desa tinggal di kota dan memiliki pekerjaan yang layak?

Saya sepertinya tahu apa jawaban orang banyak untuk semua pertanyaan itu, kita yang seumur hidup sudah diajari, ditekan, diguna-gunai, baik secara sadar atau tidak, oleh keluarga dan lingkungan bahwa uang adalah satu-satunya yang harus dikejar di dunia ini dan penampilan adalah satu-satunya yang membuatmu dihargai atau tidak oleh orang lain.

Kau tidak perlu memiliki empati, asal kau punya banyak uang maka segala puji bagimu. Kau tidak perlu memiliki keahlian, asal kulitmu putih bersih dengan make-up sempurna maka kau diagung-agungkan. Kita semua berusaha menjadi sempurna tanpa menyadari bahwa manusia bukan robot yang bisa disempurnakan. Kita berusaha menjadi sama. Kita dipaksa sama oleh korporasi. Kita didorong ke lembah kehancuran oleh iklan dari para kapitalis. Mereka menciptakan standar-standar yang harus dimiliki agar bisa digolongkan sebagai manusia sempurna, agar produk-produk mereka dibeli. Lingkungan kita mengajarkan pada kita bahwa semua orang kaya adalah orang-orang yang diberkati Tuhan, hanya orang yang berpendidikan tinggi yang boleh berpendapat, penguasa adalah tangan-tangan Tuhan, orang-orang miskin adalah orang terkutuk, perempuan tidak berhak mengajukan keberatan. Dan kita tidak sadar dan tidak memiliki kesempatan untuk berpikir seberapa jauh kita sudah tenggelam dalam kehancuran mental. Mental miskin. Kita dibuat memiliki mental miskin. Kita dirancang menjadi pemuja uang, pemuja penampilan. Orang-orang korupsi. Para pejabat tidak malu untuk disuap. Semua karena uang.

Saya mengalami apa yang dikatakan orang-orang tentang jiwa sakit menyerang fisik. Saat mental miskin karena tekanan lingkungan memuncak, tubuh saya collapse. Saya runtuh. Saya pingsan di tengah keramaian. Benar-benar pingsan dalam arti yang sebenar-benarnya.

Saya tidak tahu seberapa banyak orang seperti saya. Mungkin ada yang mengalami derita lebih parah dari saya atau lebih ringan. Orang-orang yang lahir tidak dengan bergelimang harta, orang-orang yang lahir tidak berkulit putih, orang-orang yang lahir tidak sesuai dengan standar cantik atau tampan dari dunia masa kini, orang-orang yang tidak pintar seperti yang diharapkan dunia ini, saya tahu betapa derita itu menekan jiwa kita. Membuat kita memohon-mohon agar mati saja.

Buku-buku yang menyelamatkanku. Musik menyelamatkanku. Film-film menyelamatkanku. Karya seni menyelamatkanku. Karya dari seniman sejati akan menyadarkan kita bahwa kita sedang ditipu dunia, dan itu yang akan membebaskan. Mengenali diri kita, berani menjelajahi dan menghadapi batin kita sendiri membuat kita sadar betapa berharga kehidupan ini. Kita tidak butuh menjadi manusia sempurna seperti apa yang diharapkan dunia ini untuk kita. Memberontaklah. Bebaskan diri dari cengkraman kapitalis. Merdekalah. Derita di sekitar kita sudah cukup. Jangan biarkan racun yang dituang padamu membunuhmu. Lawan! Lawan dengan karya. Lawan dengan karya seni. Belajar menciptakan sesuatu. Dengan berkarya, kita tidak lagi harus ikut meminum darah orang lemah yang tidak berdaya, kita tidak lagi harus menelan racun dunia ini. Menikmati hasil jerih payah tanpa menyakiti orang lain. Dan dengan berkarya, semoga mulut kita tidak lagi memakan makanan yang membuat kita takut berbicara saat harus mengungkapkan kebenaran. Belajarlah untuk tidak menyakiti orang lain. Mari terus belajar untuk tidak ikut menabur racun di dunia ini. Bantu orang lain.

Dan sebagai penutup, saya memberitahukan sekali lagi, bahwa saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang sudah saya alami. Karena di awal tulisan ini juga saya sudah mengutip perkataan Franz Kafka, penulis tersohor itu, bahwa ia tidak bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan tidak bisa memaksa orang lain untuk mengerti.

 

Advertisements

Harga Mati

Saya punya permohonan pada semesta, jika kelak saya menulis novel, maka tidak akan ada satu orang pun yang mati dari awal hingga akhir cerita. Semua orang hanya berjuang mengalahkan sifat jahat dalam dirinya, dan membantu orang yang butuh bantuan. Semua orang mencoba bertumbuh dan berkembang untuk kebaikan hidup di dunia. Bekerja sama agar bumi menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi semua mahkluk. Indah sekali membayangkan dunia itu, hingga saya ingin menangis saja karena gembira.

Namun novel itu belum ada, dan saya masih tetap berjuang untuk berkembang dan bertumbuh di dunia nyata ini, di mana setiap hari disuguhi dengan berita kematian. Di mana-mana orang dimatikan. Di mana-mana orang ingin mematikan orang lain. Di mana-mana ada orang yang mematikan dirinya sendiri. Di mana-mana orang berteriak “Singkirkan orang-orang itu!” Di mana-mana ada yang bilang “Mereka berbeda, matikan!” Di mana-mana saya membaca “RI harga mati!”

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kehancuran dan kematian yang diakibatkan oleh kebodohan dan kejahatan yang dirancang adalah tidak ada batasnya.

Di Indonesia, kekerasan bukan hal tabu. Hanya persoalan sex saja yang tabu. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin anak-anak di negara ini akan mati jika melihat orang lain ciuman atau melihat pakain sexy. Di Indonesia, mungkin lebih baik melihat mayat bertumpuk-tumpuk daripada melihat bencong yang berpegangan tangan. Lebih baik menemukan perempuan yang menggantung diri di kamar, daripada menemukan perempuan yang bergembira bersama temannya di bar pada malam hari. Sedangkan pelaku kekerasan dan kejahatan? Mereka akan masuk pemberitaan dan terkenal.

Di negeri ini, laki-laki yang memperkosa perempuan dewasa dan anak-anak adalah hal biasa dan dijatuhi hukuman ringan, atau dinikahkan saja kalu masih hidup dan terlanjur hamil atau diselesaikan secara kekeluargaan, sedangkan LGBT akan dikutuki masuk neraka, disiksa, dirampas hak mereka sebagai manusia, dan kalau boleh terlebih dahulu dipukuli ramai-ramai hingga mati atau dibakar hidup-hidup. Walau mereka tidak sedikitpun melakukan kejahatan, walau mereka tidak sedikitpun menyentuh ujung rambutmu. Kejahatan mereka adalah karena mereka berbeda. Kita biasa mendengar seorang copet yang dikeroyok massa hingga hampir kehilangan nyawa dan kemudian dipenjara, dan koruptor yang mencuri uang negara hingga miliaran rupiah, akan senyum-senyum di depan kamera, kemudian dipenjara beberapa tahun saja lantas berhak mencalonkan diri lagi untuk menjabat jika sudah bebas. Artinya, jika memang ingin menekuni sebuah profesi, tekuni dengan sepenuh hati. Jika ingin menjadi pencuri, sekolah saja dulu, lalu jadi pejabat atau penguasa, kemudian mencurilah dengan curian besar. Jangan mencuri sandal atau mencopet dompet yang belum tentu ada uang di dalamnya. Atau paling tidak, pintarlah berlakon, jadi penyambung lidah dunia nyata dan dunia tuhan-tuhanan. Kau akan punya uang. Katakan saja dengan restu Tuhan Yang Maha Esa dan doa-doa yang dipanjatkan dengan tekun sekali, maka semoga saja uang yang kau sentuh akan berlipat ganda. Akan sangat banyak orang yang percaya, bahkan orang yang sudah mengecap pendidikan di perguruan tinggi sekalipun akan ada yang menjadi pengikutmu jika kau bersungguh-sungguh berlakon.

Kehidupan seolah tidak berharga. Kasih sayang hilang dari hati. Banyak orang bertindak beringas dan menjijikkan. Orang-orang rela mati demi sesuatu. Orang-orang diracuni pikirannya. Katanya, kekerasan bagian dari cinta. Sesuatu yang indah katanya hanya bisa diperoleh dengan menyerahkan tumbal nyawa terlebih dahulu. Seperti cerita prasejarah saja. Orang-orang jahat mengelabui yang lain. Mereka membunuh arti cinta yang sesungguhnya, membunuh kasih sayang yang suci dan lembut. Orang-orang, banyak yang gila kekuasaan serta gila harta.

William Burroughs, penulis yang memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba karena katanya obat-obatan itu membuat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa dan ia merasa mati, memperkirakan bahwa apa yang bisa diakibatkan oleh obat-obatan terhadap manusia juga bisa dilakukan oleh hal-hal lain. Salah satunya adalah kekuasaan. Banyak orang yang ketergantungan pada kekuasaan. Keinginan yang jahat untuk menguasi orang-orang yang tidak berdaya. Orang-orang yang ketergantungan pada kekuasaan ini, yang merasa diri paling benar dan selalu benar, akan menderita luar biasa saat kehilangan kekuasaan. Persis sama seperti pengguna narkoba. Orang-orang yang ketergantungan ini akan melakukan segala hal untuk medapat kekuasaan. Orang-orang seperti ini adalah perusak kehidupan. Dan kita tahu apa yang sudah diperbuat orang-orang jenis ini di negeri ini dan di negara lain. Mereka membunuh orang-orang. Mereka menghancurkan kehidupan.

Republik Indonesia, negara yang kita cintai ini, negara di mana rakyatnya berseru-seru “RI harga mati!” pernah ikut berperan melakukan pembunuhan massal, melakukan tindakan tidak bermoral pada rakyatnya. Hasil keputusan final sidang Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) di Den Haag menyatakan negara Indonesia bertanggungjawab atas 10 tindakan kejahatan HAM berat yang terjadi pada 1965-1966. Ratusan ribu orang mati dibunuh. Negara ini bertanggungjawab untuk kematian itu. Pemerintah negara ini seharusnya meminta maaf kepada semua korban, yaitu para pemimpin PKI, anggota atau simpatisannya, loyalis Sukarno, anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), serikat buruh, serikat guru, dan khususnya kalangan Tionghoa atau yang berdarah campuran, kepada penyintas, dan keluarga mereka. Namun sampai hari ini kita tidak pernah mendengar permintaan maaf itu, malahan kita ditakut-takuti (entah siapa yang menakut-nakuti) dengan lambang palu arit dan kabar-kabar bahwa negara Cina sebentar lagi akan menjajah Indonesia.

Tidak hanya di Indonesia, jenis kejahatan seperti ini juga banyak terjadi di negara lain. Kematian seolah bukti cinta. Membunuh dan dibunuh seolah bukti patriotisme. Salah satu kejahatan di mana negara berperan pada kejahatan HAM namun pemerintah tidak mau meminta maaf pada korban dan keluarganya adalah kejahatan HAM di Okinawa, sebuah pulau kecil di Jepang. Pada saat perang dunia ke-2, pihak tentara Jepang memerintahkan penduduk yang tinggal di Okinawa untuk melakukan bunuh diri massal. Tentara pada saat itu mengatakan pada penduduk pulau itu bahawa orang Amerika sangat kejam, bahwa tentara Amerika akan memerkosa semua wanita dan akan membunuh semua laki-laki. Jadi, sebelum tentara Amerika mendarat, sebaiknya mereka bunuh diri. Lebih dari lima ratus orang mati bunuh diri. Para kakek membunuh anaknya, para suami membunuh istrinya. Dan pemerintah Jepang tidak mau meminta maaf, mengatakan bunuh diri massal itu adalah sikap patriotisme.

Orang-orang yang gila kekuasaan, orang sakit jiwa yang bernafsu mengendalikan segala sistem kehidupan ini akan melakukan segala cara demi kekuasaan. Nyawa orang-orang  yang mencoba menghalangi mereka tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka akan mengarang berbagai cerita untuk mendapat simpatisan. Agama dan patriotisme adalah hal-hal yang sering sekali ditunggangi. Orang-orang yang gila kekuasaan ini tidak pernah tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang mampu menguasai dunia ini. Dan menurutku, hal itu disebabkan karena mereka tidak pernah membaca buku sastra. Mereka tidak sadar bahwa dunia ini sangat kompleks. Tidak seorang pun bisa mengendalikan semuanya. Orang-orang yang gila kekuasaan ini adalah perusak. Tidak bermoral dan harus dilawan. Jadi, demi apapun, jangan pernah mau membunuh, dibunuh apalagi bunuh diri. Cintai nyawamu. Cintai nyawa orang lain. Cintai kehidupan ini.

Saya Minoritas di Indonesia

gorgabatak_raymondsitoruswordpress-1

Gorga Batak Toba. ps:saya bukan pemilik foto ini

Akhir-akhir ini saya banyak kecewa dengan ucapan dan tindakan orang-orang di negeri ini. Jauh dari rasa kecewa yang pernah saya alami sebelumnya. Saya sudah cukup banyak mendengar, membaca dan belajar tentang sejarah bangsa ini. Semenjak saya bisa menggunakan otak di kepala sampai nanti menutup mata akan tetap menjadi bagian dari sejarah negeri ini. Namun baru belakangan ini saya sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa saya adalah bagian dari kelompok yang dikucilkan. Saya adalah bagian dari kelompok yang terancam. Saya adalah anggota dari kelompok minoritas yang mungkin besok bisa mati di rumah ibadahnya dengan kepala hancur dan tubuh tercerai-berai. Saya bisa mati seperti itu, dan kematianku hanya dianggap pengalihan isu.

Segala kebanggaanku pada Indonesia tiba-tiba runtuh. Kecintaanku pada adat budayaku seperti terkoyak. Cita-citaku seperti lenyap sekejap dari pandangan mata.

Saya berusaha mengulang membuka-buka halaman buku yang pernah saya baca. Mencari-cari apa sebenarnya yang sedang terjadi pada saya dan kelompokku. Berusaha untuk tidak marah, berusaha mencari jawaban untuk jiwaku  yang sangat kalut. Jujur, saya sangat takut. Sangat takut dengan teror yang tersebar di mana-mana. Teror pekat di udara yang kuhirup. Saya curiga pada orang-orang yang berbeda keyakinan denganku. Menerka-nerka, apa yang akan mereka perbuat padaku dan o rang-orang yang kucintai? Dengan cara apa mereka akan membunuhku?

Mungkin karena saya banyak membaca buku-buku, pergerakan kemarahan, dan keangkuhan mayoritas ini sangat mudah terlihat oleh mataku. Jika ini terus berlanjut, saya tahu akan seperti apa saya dan kelompokku.

Negeri ini tempat lahir nenek moyangku. Tapi saya dianggap asing karena kepercayaan yang saya anut. Kepercayaan yang dicocolkan kepadaku tanpa persetujuan. Saya dihina oleh orang-orang yang sejarah nenek moyangnya sendiri dia tidak tahu. Saya dihina oleh orang-orang yang tidak tahu sejarah negerinya. Kelompokku diancam akan diusir dari tanah air sendiri oleh pengecut bodoh tak tahu diri. Kelompokku diancam akan dibunuh oleh orang-orang bengis yang mengumbar amoral milik mereka. Anggota dari minoritas dibunuh begitu saja karena mereka berbeda keyakinan.

Saya ingin menjerit sekuat tenaga di tanah leluhurku di Samosir. Saya ingin mengadu pada nenek-moyang suku Batak Toba, menuntut pada pendahuluku kenapa memilih beragama Kristen? Kenapa mereka terlalu mencintai anjing, hewan berburu kesayangan mereka itu? Apakah mereka lebih sayang anjing daripada anak cucu mereka? Kenapa mereka suka memakan daging babi? Tidak bisa kah mereka mengganti kepala babi dengan kepala kambing di pesta adat mereka? Kenapa mereka tidak mau melepas adat budaya mereka, dan kemudia memilih agama yang banyak dipilih oleh orang-orang di negeri ini? Sebegitu berharganya kah filsafat suka Batak Toba hingga sulit disatukan dengan agama yang dipilih oleh kebanyakan orang di negeri ini?

Saya mendengar orang-orang tertawa. Mereka menertawakan apa yang mereka anggap sebagai dosa saya, dosa yang diberikan oleh leluhurku dengan penuh kebanggaan dan senyum di wajahnya. Orang-orang itu menertawakan leluhurku dan diriku yang mereka anggap hina ini. Saya mendengar mereka memanggilku kafir. Saya mendengar mereka mengatakan leluhurku dan kelompokku akan dicampakkan ke neraka. Saya mendengar anggota dari kelompokku, anggota yang paling lugu dan cantik telah mati dibunuh oleh mereka yang memanggil kami kafir.

Saya patah hati. Patah harapan. Saya kembali membuka halaman-halaman buku. Mencari jawaban di buku sejarah. Tidak ada jalan keluar yang kutemukan. Hanya penggalan-penggalan peristiwa yang sangat mirip. Saya mengingat-ingat apa yang pernah saya baca dari buku-buku sastra, membaca kembali beberapa bagian. Dan hanya itu yang akhirnya bisa menenangkan jiwaku. Membantuku mengerti dan memahami kehidupan di sekitarku.

Jadi, saya akan berbagi padamu, orang-orang yang saya cintai, orang-orang yang menjadi anggota kelompok minoritas di negeri ini, orang-orang yang masing menginginkan kedamaian, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di bangsa ini menurut apa yang sudah saya pelajari dari buku-buku sastra. Semoga juga bisa menenangkan jiwamu yang sedang kalut itu. Mungkin akan terlihat sangat sederhana penjelasan yang saya tulis ini. Karena ini hanya rangkuman yang saya buat sendiri dengan waktu yang sangat terbatas. Maka tolong bacalah buku-buku sastra. Agar kita semua lebih paham apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Agar kita tahu melangkah dan bersikap dengan gagah berani. Karena lawan kita bukan anak-anak kecil nakal. Lawan kita adalah orang-orang dewasa yang memiliki alibi yang sempurna untuk menjalankan kejahatan mereka.

Kita sedang menghadapi para penjahat yang menggunakan topeng agama. Mereka menilai diri mereka sendiri sebagai orang-orang suci, pembela Tuhan. Jadi, mari kita sebut mereka orang suci. Seperti kata Albert Camus, bahwa dewasa ini ideologi cuma peduli pada penolakan manusia lainnya, mereka yang sendirian bertanggung jawab terhadap kepalsuan. Sejak itulah kita membunuh. Maka mari kita pahami alasan kenapa orang suci di negeri ini berteriak “Bunuh!” dan membunuh. Dari kemarahan dan dendam mereka itu, apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka tuntut?

Dari rekaman video-video yang tersebar luas, dari berita yang saya baca di media-media pemberitaan yang terpercaya, dan juga dari tulisan yang langsung saya baca dari orang-orang yang saya kenal maupun tidak kenal di media sosial, maka dari berbagai sumber itu, saya bisa menyimpulkan bahwa orang-orang itu sedang terjangkit pemikiran salah. Mereka dibelenggu satu sistem dari intelijen yang tersesat yang mengingini kekuasaan, menyenangi kemenangan yang gelap di mana langit dan bumi dihancurkan.

Paham sesat seperti yang tersebar saat ini sudah lama ada. Hanya saja kini kejahatan itu tanpa rasa malu diumbar. Kejahatan itu mengglobal, menjamur rata di setiap sudut bumi. Sejarah sering menyebut akar dari tindakan sesat ini sebagai Nihilisme.

Diyakini bahwa paham Nihilisme adalah akar yang melahirkan nazi di Jerman, paham yang melahirkan fasisme. Kejahatan yang menganggap kelompoknya atau golongannya sendiri saja pemilik dari segala hak. Kelompok ekstrem seperti ini harus terlebih dahulu sekuat tenaga memusnahkan kelompok yang berbeda dengan mereka. Kemudian merebut kekuasaan untuk diri mereka sendiri. Paham sesat ini juga akhirnya harus memiliki seorang pemimpin, pemimpin mereka harus diktator dalam pemerintahan otoriter.

Kita menerima atau tidak, saat ini kita hidup di dunia yang dikungkung oleh kapitalis. Dan menakutkan mengetahui bahwa bangsa yang menganut sistem pemerintahan Demokrasi seperti negara Indonesia ini ternyata juga sangat bisa berubah dengan sangat cepat. Selain kapitalis yang mencekiknya, paham seperti Nihilisme bisa dengan mudah mengancam kesatuan bangsa. Hanya dengan menanam hayalan pada kepala mayoritas bahwa kelompok mereka akan mendapat surga dunia dan surga kayangan dengan cara-cara tertentu, maka negara yang bersistem pemerintahan demokrasi sekalipun akan berubah menjadi negara fasis.

Sialnya, selain kecenderungan fasisme, negara kita juga terancam oleh orang-orang yang ingin melakukan revolusi. Entah revolusi apa. Mereka menyerukan revolusi untuk Indonesia, baik secara malu-malu atau secara terang-terangan. Mereka seperti orang-orang mabuk, orang mabuk berwatak lemah. Mereka tidak pernah sadar dan paham bahwa mimpi profetik Marx dan inspirasi yang kelewat batas dari Hegel atau dari Nietzsche harus dibangun di atas teror. Mereka tidak mau tahu bahwa setiap kaum revolusioner berakhir dengan menjadi penindas atau pembangkang.

Saya tidak lagi heran mengetahu bahwa dunia yang beringas ini mengekang para wanita. Saya tidak heran mengetahui bahwa hampir semua sistem pemerintahan dan ideologi merampas hak para wanita sebagai manusia. Saya tidak heran karena dari buku-buku yang pernah ada, dari tulisan orang-orang yang sekuat tenaga menjunjung kemanusiaan, kebanyakan dari mereka adalah lelaki, menyatakan bahwa kelemah lembutan dan rasa kasih sayang adalah titik kelemahan orang pandai yang bertugas untuk mencapai kekuasaan penuh, kekuasaan yang mengkehendaki kelompoknya mempunyai segala hak.

Maka, untuk semua orang yang masih mencintai kedamaian, untuk kita wanita yang dianggap lemah dalam sebuah sistem yang sedang berlaku saat ini, yakinlah kita yang lebih mengenal kelemahlembutan dan kasih sayang ini adalah lawan yang paling berbahaya untuk kerakusan kekuasaan. Cinta kita pada kehidupan, keindahan, kemanusiaan dan masa depan anak-anak kita adalah lawan dari setiap ekstremis. Jangan diam, karena diam di dunia kapitalis adalah berarti setuju dengan kejahatan yang sedang terjadi. Jangan membiarkan pemikiran bahwa kejahatan ini bisa dibenarkan karena kita hanyalah manusia yang penuh kekurangan. Kekurangan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk membunuh dan merampas hak orang lain. Albert Camus yang teguh memegang nilai-nilai kesusilaan itu mengatakan bahwa tugas kita bukanlah untuk mengumbar pengasingan kita, kejahatan-kejahatan kita, kerusakan-kerusakan kita sebagai manusia di bumi ini, tapi menjaga mereka dalam diri kita dan dalam diri orang lain. Jadi, mari kita bertindak, mari kita menyebar kasih sayang dan kelemah lembutan sebelum terlambat. Sebelum kejahatan, sebelum pembunuhan dan kerusakan merajalela di negeri ini.