DANAU TOBA DAN PULAU SAMOSIR SANGAT LAYAK DIPERJUANGKAN (Pemenang Penulisan Artikel Festival Danau Toba 2013)

Gambar

Danau Toba dan pulau Samosir bukanlah tempat yang asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan warga negara asing, dan mungkin saja danau Toba adalah danau yang paling populer di dunia karena sejarah dari keberadaannya serta keindahan alamnya yang mengagumkan. Tapi apakah saat ini orang yang mendengar nama danau Toba langsung ingin mengunjunginya? Apakah sekarang ini mereka yang berniat untuk berkunjung mendapatkan informasi yang jelas tentang bagaimana caranya untuk melihat keindahan alam danau Toba dengan mata sendiri? Apakah sekarang ini orang yang pernah mengunjunginya akan merindukanya dan merasa tak sabar untuk kembali bersua?

Tentu saja tidak.

Saya adalah putri asli dari Samosir. Saya lahir di sana, begitu juga ayah saya, ibu saya, opung saya, semuanya asli orang Samosir. Dan rumah saya tepat berada di tepi danau Toba. Saya sangat mengerti kehidupan di Samosir dan perubahan apa saja yang terjadi pada danau Toba, rasanya, sampahnya, pasang surutnya, ombaknya, perubahan apa yang terjadi padanya dan warna langitnya jika akan terjadi perubahan musim, legenda tentangnya dan bahkan tempat-tempat mana saja yang dianggap mistis. Saya juga sangat menyadari tentang perubahan wisatawan yang datang berkunjung.

Pengalaman tinggal di luar daerah Samosir dan mengunjungi beberapa tempat wisata lain di Indonesia meyakinkan saya tentang alasan apa yang membuat adanya perubahan pariwisata di danau Toba dan dampaknya bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sebagai penyandang danau terluas di Indonesia bahkan di Asia Tenggara dan merupakan danau yang memiliki pulau besar di tengah-tengahnya. Danau Toba memang sangat bisa menarik wisatawan manapun untuk melihat keindahan alam ciptaan Tuhan yang luar biasa ini dan menikmati peningglan sejarah serta hasil seni masyarakat Batak yang mengagumkan. Para wisatawan manca negara datang berkunjung dan merasa terkagum-kagum dan puas, mereka mengajak dan menganjurkan wisatawan lain untuk berkunjung ke danau Toba.

Singkat cerita danau Toba pun populer, para pemilik modal berlomba untuk membeli tanah di tepi danau Toba dan membangun kerajaanya disana (bahkan, beberapa tempat yang dulunya diyakini masyarakat setempat merupakan tempat para hantu pun kini berdiri hotel, restoran dan penginapan dan kemudian menjadi tempat privasi, namun mereka tidak pernah melihat hantu yang menyeramkan seperti hantu yang ada di dalam cerita para orang tua. Apakah para hantu juga terusir dan terkucil oleh para pendatang? Saya tidak tahu).

Para wisatawan dari manca negara semakin banyak yang berkunjung. Para pemilik hotel dan penginapan mendapat untung, para masyarakat yang tinggal di dekat pantai, para masyarakat yang tinggal di tempat yang cocok untuk menikmati pemandangan alam dan tempat peninggalan sejarah suku Batak berhasil menjual soevenir karya seni Batak dari kios-kios mereka. Para wanita penenun ulos menjadi terkenal. Anak-anak bebas meminta permen dan berbagai hadiah dari para turis yang berseliweran di banyak tempat. Para wisatawan petualang yang gigih mencari sendiri apa dan tempat mana yang menarik hati mereka, memberitahukanya pada orang-orang. Lalu mereka datang semakin banyak. Semua mendapat untung. Semua bahagia.

Tapi, semua kejayaan itu tiba-tiba hilang. Lenyap seperti hantu-hantu dari tempat angker yang dulu kami yakini berpenghuni.

Tahun 1997/1998 merupakan tahun dimana kejayaan itu tiba-tiba hilang. Para wisatawan hampir tidak terlihat lagi, mereka ikut-ikutan hilang seperti hilangnya para hantu. Ini semua akibat kekacawan politik dan krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1997/1998. Kejadian ini menghantam rakyat yang tinggal di Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang tinggal di Samosir dengan sangat keras. Wisatawan yang tiba-tiba hilang mengejutkan para pedagang dan pemilik hotel serta penginapan hingga mereka tidak tahu harus berbuat apa. Harga pangan yang melambung tinggi seakan mencekik masyarakat. Sampah-sampah di tepi danau Toba terlihat berserakan sebagai pengingat bahwa kejayaan itu pernah terjadi dan semakin menambah duka. Semua kini tinggal kenangan. Suram.

Jalan-jalan tidak pernah diperbaiki dengan benar, hotel dan penginapan banyak yang tutup, para penjual soevenir merana. Tidak ada perbaikan, perawatan atau pun bantuan dari pemerintah. Sampah-sampah bertebaran di tepi danau akibat tidak adanya pengelolaan yang benar. Limbah Hotel dan rumah tangga, baik yang berasal dari pinggiran danau maupun yang terbawa sungai dari dataran tinggi memenuhi danau. Dan diperparah lagi oleh keramba ikan milik investor luar yang menggunakan pelet untuk pakan ikan mereka meraja lela dan ikut mencemari air danau Toba. Semua terlihat usang dan semakin meredup. Sangat tercemar. Hutan di tebangi, sebahagian dibakar untuk membuka lahan. Masyarakat banyak yang kembali menjadi petani.

Waktu berlalu, dan kini para wisatawan yang penasaran kadang-kadan datang dengan jumlah yang sangat sedikit. Dan kadang sangat banyak pada liburan hari raya, sekedar melihat-lihat. Namun tidak banyak menguntungkan masyarakat.

Saat ini, pemerintah mengadakan event tahunan dengan tujuan mempromosikan/mengundang wisatawan dan berharap bisa mebangunkan kembali pariwisata danau Toba. Tapi saya merasa bahwa event tahunan seperti ini tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa. Orang sudah tahu danau Toba itu karya Tuhan yang sangat luar biasa, tidak ada yang menyamainya dan tidak ada yang menyangkalnya.

Kesampingkan sejenak tentang promosi bahwa ada danau bernama Toba dan ada pulau di tengah-tengahnya bernama Samosir. Mari kita ingat kembali pada saat wisatawan datang berlomba-lomba. Apa yang membuat mereka datang dan betah? Tentu saja keramahan masyarakat, air danau yang masih bersih dan sehat, adanya penunjuk dimana saja tempat yang harus dikunjungi, rasa aman dan nyaman. Apakah semua itu masih ada?

Tidak, semuanya sudah rusak.

Danau tercemar, bukit tandus, jalan berlobang bahkan di beberapa daerah tidak pantas lagi disebut sebagai jalan karena mengalami rusak parah. Tidak adanya transportasi publik serta kenyataan bahwa tidak layaknya sebahagian besar akses menuju tempat-tempat wisata membuat wisatawan malas untuk berkunjung. Para pengamat lingkungan menyalahkan masyarakat, masyarakat menyalahkan pemerintah, pemerintah pura-pura tidak mendengar dan tidak melihat dan sibuk mempertahankan kekuasaannya untuk periode berikutnya.

Semuanya sudah rusak, kita semua tahu itu, dan yang rusak ini lah yang seharusnya diperbaiki terlebih dahulu. Jangan menyebarkan undangan pernikahan padahal pengantinnya tidak siap. Kerja keras untuk memperbaikilah yang paling penting saat ini.

Keindahan dan pesona danau Toba tidak pernah hilang, dia seperti berlian, walau di lumuri lumpur atau ditutupi sampah, danau Toba tetap adalah berlian. Kita hanya perlu menyingkirkan segala yang mencemarinya dan mengadakan atraksi-atraksi yang variatif dan kreatif untuk menghibur wisatawan agar betah dan kembali lagi berkunjung.

Merugikan tamu (wisatawan) dengan membebani mereka dengan harga yang tidak masuk akal, menjual produk rusak, dan bicara tidak sopan adalah tidak beradat, bodoh dan pengecut, adat istiadat Batak tidak pernah mengajarkan hal itu. Kita diajarkan untuk menyambut tamu dan melayani tamu sesopan dan sebaik yang kita bisa. Dan untuk para investor asing dan wisatawan, jangan lagi membuang limbah dan sampah ke danau. Ada sebuah legenda Batak menyatakan bahwa di dasar danaua Toba ada huta (kampung) yang berpenghuni, maka membuang sesuatu ke dalam danau Toba adalah pantang bagi orang Batak, dan jika pembuangan terjadi walaupun itu hanya air liur, penghuni danau akan marah dan mendatangkan musibah. Bagi yang tidak percaya legenda, anggap ini  sebuah kearifan lokal yang harus dipatuhi.  Mari kita sama-sama merawat danau Toba demi kelangsungan hidup bona pasogit kita, asal usul suku Batak, tanah kelahiran dan peristirahatan nenek moyang kita, sumber kelangsungan hidup keluarga kita, keindahan alam kebanggan bangsa Indonesia.

Danau Toba dan pulau Samosir harus diperbaiki. Jangan kita sia-siakan. Pemerintah harus segera turun tangan. Danau Toba dan Pulau Samosir sangat layak diperjuangkan. Pesona danau Toba dan pulau Samosir lebih dari cukup, bahkan berpotensi sangat besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dan juga salah satu yang berpotensi besar sebagai sumber devisa negara Indonesia yang kita cintai ini.

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 31 August 2013, in Article. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: