Berjalan Lunglai di Halaman Museum

Gambar

Dalam waktu 15 menit, saya selesai melihat semua koleksi museum Batak yang ada di desa Simanindo, Samosir. Ketika saya duduk di anak tangga salah satu rumah adat Batak yang masih merupakan bahagian dari museum setelah melakukan perjalanan satu jam dari desa Tomok dengan mengendarai motor, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan berikutnya. Setelah melakukan perjalanan panjang ini, seharusnya saya mendapat imbalan perasaan bahagia dan bangga. Saya tidak mendapatkan perasaan itu.

Adalah sebuah kesalahan bagi saya untuk kembali mengunjungi sebuah museum yang sama. Memiliki koleksi baru pada sebuah museum adalah seperti melihat gerhana matahari, hal yang sangat langkah terjadi. Saya merasa bodoh. Ini wisata yang sangat membosankan, seolah saya akan hidup di dunia ini untuk selamanya. Patung yang sama menatap dengan tatapan yang sama saat saya berkunjung tiga tahun sebelumnya.

Mungkin ekspektasi saya berlebihan. Melewati jalan panjang berliku dan sesekali dihadang segerombol kerbau di perjalanan dan mendapati koleksi usang di balik kaca buram tak sebanding dengan mengunjungi Kota Tua, Jakarta. Mengunjungi museum Wayang, museum Sejarah Jakarta, museum Seni Rupa, museum Keramik, dan yang lainnya, lalu menikmati atraksi-atraksi di Taman Fatahillah.

Memang tak adil bagi saya untuk membandingkan berbagai tempat wisata, mulai dari Kampung Gajah di Bandung yang tak seekor pun gajah yang saya temui kecuali patung gajah namun menyajikan banyak sarana hiburan dan kuliner, hingga Ancol yang memiliki hampir semua wahana permainan dan juga kuliner yang seakan menghipnotis agar lupa pulang.

Museum bukanlah tempat hiburan. Di museum, pengunjung hanya mengangguk-angguk beberapa kali tanda paham dan berwow-wow ria menunjukkan rasa kagum saat mendengar penjelasan pemandu. Selesai. Pengunjung keluar dari museum. Lalu apa?

Pengunjung menginginkan hiburan. Kemudian menginginkan makanan. Setelah puas, pengunjung membeli soevenir untuk dipamerkan pada teman atau saudara.

Mengunjungi museum Batak di desa Simanindo seperti mengunjungi rumah kerabat jauh. Saya tak tahu harus melakukan apa lagi setelah salaman dan bertanya kabar.

Setelah 15 menit melihat koleksi dan memotret, saya berjalan lunglai di halaman museum. Saya merasa hampa. Saya berharap akan ada hiburan di sekitar museum. Saya lapar. Saya membayangkan setelah melewati gerbang saya akan menikmati kuliner Batak yang di hidangkan di atas sapa (piring kayu tradisional Batak) di luar sana. Namun itu hanya harapan saya saja. Saya hanya melihat seekor kerbau yang mulutnya berbusa sedang diikat di pohon.

Dua puluh lima menit saya berada di kawasan museum, saya langsung pulang. Saya ingin segera duduk-duduk di Tio Beach, Silimatali,  sebelum mandi di danau Toba dan segera menikmati ikan mujahir bakar.

Jika anda belum pernah mengunjungi museum Batak di desa Simanindo, Samosir, kunjungilah. Tapi usahakan anda hanya fokus ingin melihat koleksi saja. Jangan berharap akan ada gedung hiburan atau wisata kuliner di sekitar museum.

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 31 August 2013, in Article. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: