Kuburan Kecil di Tengah Sawah

Gambar

Ada baiknya kau sesekali memperhatikan dengan seksama bangunan atau tempat  yang ada disekitarmu dan mencari tahu kebenaran dari awal pembuatan bangunan itu, atau beranikanlah dirimu menanyakan tentang bangunan atau tempat yang baru pertama kali kau kunjungi.

Sekarang aku akan menceritakan kepadamu tentang sebuah kuburan kecil di tengah sawah. Dalam cerita ini aku akan mencoba memasuki sebuah momen dimana momen ini terjadi sebelum aku lahir dan mencoba menyelam ke dalam diri seseorang yang tak kukenal dan menjadi dirinya menurut perasaanku saja, jadi maafkan aku jika ada cerita yang meleset. Satu hal lagi yang kau harus tahu, kisah ini diceritakan oleh ibuku kepadaku di minggu sore dan ini bukan kisah karangan ibu karena kuburan pemilik kisah itu masih ada hingga saat ini.

Kuburan ini mungkin akan menyampaikan cerita agar kau lebih menjaga tindak tandukmu. Maksudku, kau pasti akan merasa orang paling terkutuk jika seluruh keluargamu mendapat musibah dan semua keturunanmu mendapat cacat. Mungkin kau merasa bahwa tidak ada orang yang melihat, atau kalau pun ada orang yang melihat saat kau berbuat sesuatu yang tidak pantas, kau bisa membenarkan perbuatanmu karena kau memiliki kekuasaan atau kekayaan saat itu. Namun walaupun kau kaya atau berkuasa jika melakukan kesalahan tetap saja itu sebuah kesalahan. Bagaimanapun sebuah kesalahan harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang melakukan kesalahan. Banyak orang mengatkan bahwa karma itu berlaku di dunia ini.

Jadi, jagalah tingkahlakumu baik-baik. Memang balasannya tidak selalu datang padamu segera setelah kau melakukan kesalahan, tapi tetaplah jaga tingkah lakumu dengan baik. Selanjutnya aku akan menggunakan kata “aku” yang bukan aku, sebutan itu kugunakan untuk mewakili orang yang sudah mati.

Kudengar kabar kematian ibuku saat aku berada di sawah pada musim padi mulai menguning. Siang itu aku dan keponakanku  menjaga padi dari serbuan burung-burung yang tampak kesurupan saat meliaht padiku yang mulai menguning dan melimpah indah. Burung-burung itu sama persis seperti keponakanku yang sedang berdiri bodoh di pematang sawah, hanya ingin makan dan tak ingin bekerja. Saat itu sekelompok burung menukik menyerbu padi, keponakanku yang kurus kering, bodoh dan yang bermalas-malasan itu hanya berteriak pelan, ah.. itu tak pantas disebut teriakan, itu hanya bisikan anak laki-laki nakal yang tak tahu berterimakasih. Karena kesal, bukanya berlari sekuat tenaga ke arah burung-burung yang sedang merampok padiku, malahan aku berlari kearah keponakanku yang berdiri mematung seperti tongkat yang tertancap dalam di pematang sawah. Aku memukul kepalanya agar dia sadar kesalahan apa yang diperbuatnya. Namun dasar anak bodoh, dia tak mengerti. Keponakanku itu menangis membuat darahku naik hingga ke ubun-ubun, aku mencubit pinggangnya, tangisnya semakin kuat dan membuat kepalaku semakin pusing saja, dan saat aku ingin kembali memukul kepala keponakanku, seorang laki-laki yang menangis juga datang menghampiriku, dan tanpa sengaja mengejutkan burung-burung yang hinggap di padi dan membuat mereka terbang jauh. Tangisan laki-laki dewasa itu beda, tangisan itu datang memberitahuku bahwa ibuku sudah mati.

Aku sulit bernafas mendengar berita itu dan semakin sulit lagi karena aku harus menyerahkan sawahku yang aku tahu nantinya akan memberikan hasil melimpah untuk dijaga keponakanku yang bodoh. Setelah sebentar menengadah, menghirup udara sebanyak mungkin, aku baru bisa bernafas normal dan bisa kembali berpikir. Aku memerintahkan keponakanku untuk menjaga padi sebaik-baiknya dan melarangnya meninggalkan persawahan barang sekejap mata. Aku meninggalkan keponakanku dan mengikuti laki-laki dewasa pembawa berita. Anak kecil itu memang cucu ibuku, tapi dia tidak pantas menghadiri acara kematian. Dia pembawa sial. Ayahnya mati setelah ibunya mengandungnya dan ibunya ikutan mati segera setelah melahirkannya. Itulah alasan kenapa dia diberi nama Holso. Dan sialnya lagi, akulah yang harus memberinya makan. Si Holso sangat lamban bergerak, seperti pohon pinus yang melambai di tiup pelan oleh angin disiang bolong, membuat orang yang melihatnya mengantuk.

Memang, aku orang paling terpandang di kampung ini dan juga paling kaya, tapi itu bukan berarti aku mau memberikan dia makan dengan cuma-cuma. Semua ini tidak kudapati dengan mudah. Aku harus bekerja keras saat masi muda untuk mengelolah sawah yang diberikan ayahku padaku hingga sawah itu menghasilkan padi yang berlimpah ruah saat musim panen. Hasil panen tidak pernah kugunakkkan untuk berpoya-poya seperti yang dilakukan orang lain. Aku menyimpannya, dan setelah bertahun aku bisa membeli sawah dan kerbau, dan mengelolanya sebaik mungkin dan sepintar mungkin. Hingga akhirnya aku memiliki banyak sawah, ladang, kerbau, dan tentu saja kekuasaan serta kehormatan dari orang-orang kampung. Ini juga lah alasan yang membuatku benci pada tingkah laku si Holso yang lamban. “Aku lapar. Aku belum sanggup melakukannya.” Katanya tiap kali aku menyuruhnya. Sebelumnya sudah kukatakan padamu, dia itu hanya ingin makan saja seperti burung. Mengatakan namanya saja aku emosi.

Setiba di rumah, kepalaku pusing melihat banyaknya orang yang datang melawat. Aku tahu, kebanyakan dari mereka punya maksud lain. Mereka itu seperti hewan pengerat, tidak malu menggerogoti apa yang ada padaku. Tapi aku tidak sebodoh yang mereka pikirkan, aku akan menyuruh istriku untuk tidak memasak berlebihan. Aku orang yang sedang kemalangan, kehilangan seorang ibu, seharusnya merekalah yang memberi kami sumbangan.

Setelah upacara kematian selama tuju hari tuju malam, dimana kami harus menyambut banyak sekali keluarga dan orang-orang dari berbagai daerah, aku tersadar tentang sawah padiku dan keponakanku. Aku keluar rumah menuju halaman. Dalam keadaan panik aku meneriaki istriku walau dia tidak berada jauh dari tempatku berdiri, dia menyahut, tapi tak jelas apa yang dikatakannya. Suara-suara berisik masih berdengung di telingaku walau musik gendang dan kecapi serta teriakan orang-orang sudah berhenti sejak semalam.

“Apakah kau melihat si Holso?” tanyaku. Istriku mengerutkan dahi, mengingat sejenak, dan melihat sekeliling mencari-cari. Aku mengikuti pandanganya dan segera bertanya lagi. Sejak kapan dia tidak melihatnya?

Dia menggeleng kepalanya tanda tak yakin. “Mungkin sejak kematian ibu. Mungkin dia ikutan mati. Bagus, bukan?” katanya dengan suara halus yang diuat-buat “kenyataan bahwa tidak akan ada anak yang bau dan kudisan lagi yang akan masuk ke rumah kita adalah berita bagus.”

Istriku badannya kurus, padahal makannya sangat banyak. Suaranya menggelegar seperti guntur. Aku masih ragu apa sebenarnya yang menjadi kesukaannya, keramas atau mengumpulkan berita? karena tiap hari dia pergi keramas ke permandian dan tiap hari juga mengumpulkan berita dari ibu-ibu dan anak-anak yang ditemuinya di sana. Kadang ada untungnya dia membawa berita, tapi lebih seringnya dia memberitahukan hal-hal yang tidak penting. Seperti bulan lalu, dia memberitahuku bahwa ubi rebus tetangga kami menghitam gosong hingga mereka terpaksa masak ubi lagi.

“Aku akan mencarinya di sawah. Anak bodoh itu mungkin melakukan apa yang harus dikerjakannya” kataku. Aku meninggalkan istriku yang sedang berpikir. Aku menaiki rumah panggung yang luas yang kini menjadi milikku, mengambil rokok dan korek api yang tak sengaja tertinggal di atas meja. Aku mendengar teriakan istriku dari luar. Ia kedengaranya marah saat tersadar apa maksud dari ucapanku tentang anak bodoh yang melakukan sesuatu. Aku tidak memperdulikannya.

Aku mendapati semua burung di jagad raya sedang berpesta pora menghabiskan sisa-sisa padiku. Aku berjalan di pematang sawah, menyapukan jari-jariku kebatang padi yang kini berdiri kurus dengan beberapa butiran padi yang masih menempel. Kakiku sepertinya tidak lagi menginjak tanah. Aku mencari sekeliling. Dimana anak kurang ajar itu sekarang? Anak itu tak terlihat, mungkin sudah mati, pikirku. Aku berjalan memutar ke arah gubuk di sudut persawahan, mungkin dia mati disana. Anak itu tetap tak ada, hanya cangkul yang kutemui disana. Aku mengankat cangkul dengan tangan kiriku dan menggoyang-goyangkan seperti menimbang-nimbang beratnya. Aku berjalan ke arah pematang di bagian paling tengah sawah, posisi yang paling pas untuk tidak kelihatan. Cangkul kubawa bersamaku. Dan benar saja, makhluk kecil menjijikan itu terbaring di tanah dan sedang mengunyah sesuatu yamg membuat ujung bibirnya yang retak-retak memutih.

“Sedang apa kau?” tanyaku. Dia tidak menjawab. Matanya menatapku seakan kami baru kenal. “Kau selalu tiduran disini?” tanyaku lagi. Dia menggerakkan kepalanya saat mendengar pertanyaanku yang kedua seakan baru tersadar dari lamunan. Aku menatapnya. Dia seolah berjuang untuk bangkit dari tidur, itu perilaku pura-pura yang sering dilakukannya. “Baiklah kau bisa menunggu di sini sebentar, kan?” kataku tanpa menunggu jawaban.

Aku menggali lubang, mengeluarkan korek api dari kantong celanaku dan melemparkannya ke dalam lubang dan menyuruh keponakanku itu melompat untuk mengambilnya.

***

Kerbauku mati semua terserang penyakit. Sawah dan ladangku tak pernah lagi menghasilkan. Cepat dan pasti hartaku semuanya habis terjual, kebanyakan untuk mengobati anak-anakku yang sakit-sakitan. Istriku tiba-tiba kehilangan akal, dia tertawa saat tidak ada yang lucu dan kemudian menangis meraung-raung tanpa sebab. Anak-anakku dan juga putriku menjadi pekerja kasar diladang orang. Mereka menikah dengan orang-orang malas yang tidak laku dan melahirkan cucu-cucuku yang sebahagian cacat tubuh dan sebahagian lagi lahir sempurna. Namun cucu sempurna itu pun setelah remaja semuanya  menjadi gila. Cucu-cucuku yang cacat ada yang menikah dan melahirkan anak yang sama denganya dan juga sebahagian lagi sama dengan saudara-saudaranya yang gila. Umur anak dan cucuku juga tak ada yang panjang. Mereka menderita saat mencari sebutir beras. Umurku panjang dalam merasakan penderita yang amat sanagat. Aku kelaparan siang malam, sakit di seluruh tubuh tak berkesudahan, busuk kulitku gatalnya tak tertahankan. Aku menjadi bahan olokan dan caci maki orang-orang, diserang mimpi buruk setiap malam, digigit binatang setiap kali aku berjalan di luar rumah. Penderitaan ini tak mampu kuakhiri.

Disore yang bergerimis dan dingin, saat aku menanti kematianku yang tak kunjung tiba, aku mendengar bahwa cucu-cuku membangun sebuah kuburan kecil di tengah sawah milik tetanggaku yang dulunya merupakan sawah milikku. Kuburan itu kecil, dan diperuntukkan  bagi seorang anak yang telah mati karena dikubur hidup-hidup disana.

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 8 October 2013, in Cerita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: