Politik Menelan Korban di Daerah Antah-berantah

black whiteeee

Mungkin politik adalah hal yang membosankan untukmu, namun tetaplah membaca cerita politik yang akan kuceritakan kepadamu. Tak apa jika kau terhantuk-hantuk, tapi tetaplah membaca. Ini adalah tentang politik yang seolah-olah tidak mampu berdampingan dengan adat budaya kita dan mengakibatkan hilangnya dua nyawa dan ini tak seharusnya terjadi. Politik dan adat kita seperti air dan minyak, tidak bisa menyatu satu dengan yang lainnya. Mungkin di kampungmu pernah terjadi, atau mungkin belum, kekacauan saat Pemilu. Kekacauan politik pernah terjadi di kampungku. Budaya kita tampaknya semakin hilang dan ikatan persaudaraan kita semakin renggang karena urusan politik.

Aku akan memulai ceritaku, cerita yang datang dari daerah antah-berantah dan aku berharap kisah ini jangan sampai terjadi di kampung halaman kita. Berjagalah jangan sampai kisah seperti ini terjadi lagi.

***

Tangan dan pakaian Bonar berlumur darah. Tubuhnya mengeras seperti patung batu. Bumi sepertinya sudah berhenti berputar. Matahari ketakutan dan tak sabar untuk menyembunyikan dirinya ke balik bukit. Semua orang terdiam. Bahkan langit tak sabar ingin runtuh saja. Tak ada yang mampu bergerak. Tanah yang mereka injak seolah mencengkeram kaki-kaki mereka dan mungkin akan mengutuk mereka atas darah yang tertumpah hari ini.

Dua tubuh yang tak lagi bernyawa milik sahabat sekaligus saudara Bonar kini tergeletak di atas tanah di bawah langit yang sama di hari yang sama. Mereka begitu akrab sebelum mencalonkan diri menjadi kepala desa. Dulu mereka menghabiskan hari di lapo/ tempat penjual minuman yang sama. Mereka berdua dan juga satu lagi teman mereka yakni Bonar, sering diminta untuk menyanyi di pesta adat pernikahan di kampung mereka, hingga orang-orang mengumpamakan hal-hal yang tak mampu dipisahkan dengan keeratan pertemanan mereka bertiga. Dan mereka berdua saling bunuh karena alasan memperebutkan teman mereka yang tak ikut mencalonkan diri sebagai kepala desa, Bonar.

            Kematian dua calon kepala desa ini lebih dari cukup membuat semua warga untuk bersumpah bahwa pemilihan tidak akan dilakukan lagi oleh semua warga desa dan seluruh keturunannya sampai kapanpun dan dimanapun.

***

Ketika bangun pagi, saat matahari belum terbit, Bonar langsung teringat akan masalahnya yang belum jua terselesaikan. Masalah itu seperti cacing yang menggerogoti otaknya dan tak berniat pergi, sampai-sampai mengikut ke dalam mimpi. Ia berusaha melupakannya dan mengatakan dalm hati “Semua akan baik-baik saja”, tapi tetap saja hal itu datang mengganggu. Walau berpikir keras, tidak ada pilihan baik yang didapatinya. Ia melangkah lunglai ke dapur, langkah kakinya menimbulkan bunyi decit pada lantai kayu rumah panggungnya yang reot. Istrinya duduk menanak nasi dalam diam. Memikirkan hal yang sama dengan yang dipikirkan Bonar.

            “Aku tak akan kesawah hari ini.” kata Bonar sembari mengisi cangkir plastik berwarna hijau kusam dengan air dingin dari teko bergambar bunga tulip di atas meja kayu tua.

            “Dan aku tak akan memilih.” Kata istrinya.

            “Apa maksudmu tak akan memilih? Semua orang harus memilih hari ini.” kata Bonar. Ia tahu apa maksud istrinya. Ia hanya tak paham bagaimana istrinya memilih pilihan untuk tidak memilih.

            “Aku akan pura-pura sakit dan mengatakan pada mereka aku tidak mungkin datang ketempat pemilihan.”

            Bonar tertegun sebentar. Ia memandangi air dalam cangkir. Air itu terlihat tenang walau barusan saja terpisah dari bagian dirinya yang lain. Air itu hanya terguncang sebentar lalu diam.

            “Aku berharap aku juga bisa menggunakan alasan itu, tapi tidak mungkin kita sama-sama sakit hari ini.” kata Bonar. Ia menenggak minuman dari cangkirnya. Minuman itu sangat tidak enak di tenggorokannya. Dingin dan hambar. “Tidak enak padahal tak memiliki rasa, hampir sama seperti masalah yang kuhadapi saat ini, tidak enak, padahal tak akan berpengaruh apa-apa pada penghasilanku nanti.” kata Bonar dalam hati.

            “Jadi, siapa yang akan kau pilih?”

            “Aku belum memilih, aku akan memikirkannya lagi.” Kata Bonar. Ia menggantungkan kembali cangkir yang sudah dipakainya ke rak piring kayu yang di buatnya minggu lalu, hasil dari kayu yang diberikan tulangnya yang anaknya mencalonkan diri jadi kepala desa­­­­­ saat ini. Bonar melangkah turun dari tangga dapur menuju tepi danau di belakang rumahnya. Ia menggarut-garut kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya aku tak benar-benar berpikir, karena sebenarnya sejak awal aku tak ingin memilih satu dari antara mereka. Biarkan orang lain saja yang memutuskan siapa yang akan menjadi kepala desa.” Katanya dalam hati.

            Bonar mendorong sampannya ke dalam danau. Tidak seperti biasanya, hari ini tenaganya cukup terkuras saat mendorong sampan yang hanya berisi dayung dan sepotong kayu sebagai tempat duduk. “Lain kali, aku tidak akan menempatkan sampan ini terlalu jauh di darat. Tidak mungkin air danau naik tiba-tiba dan menghanyutkan sampanku hanya karena menempatkanya satu meter saja jauhnya dari tepi air, dan tidak mungkin mereka memusuhiku jika aku tidak memilih salah satu dari mereka. Mereka tidak mungkin tiba-tiba tahu bahwa aku tidak mencoblos foto mereka nanti saat pemilihan.” kata Bonar dalam hati. Ia menaiki sampannya, mendayung ke arah timur, seolah akan menjemput matahari yang sinarnya mulai mengintip dari balik bukit.

            Di tengah danau, di tempat jaring ikan miliknya dipasang kemarin sore, Bonar menimbang kembali keputusannya sembari menaikkan jaringnya perlahan ke atas sampan. Ia berpikir kembali bahwa keputusannya untuk tidak memilih adalah keputusan seorang penakut dan pengecut. Ia mungkin takut bahwa ia akan dikatakan tak tahu balas budi, tapi ia bukanlah pengecut.

            “Bah, kau kelihatan murung, apakah tangkapanmu kurang?” kata seorang laki-laki dari arah belakangnya. Laki-laki itu benar-benar mengagetkan Bonar hingga Bonar hampir saja melompat dari atas sampanynya. Ia menoleh, dan mendapati seorang laki-laki bertopi hitam dengan gambar padi dan kapas serta pohon beringin di bagian depannya. Bonar tidak menyadari keberadaan laki-laki yang sampanya sangat dekat dengan sampan miliknya. Betapa pikirannya menguras segalanya, hingga hal besar lain di sekitarnya tidak mampu dilihatnya.

            “Kurang atau lebih bukan caraku untuk mengukur tangkapan. Seberapa banyak yang kudapat selalu kusyukuri.” Kata Bonar. Ia melanjutkan kegiatannya dengan jaring ikannya.

            “BAGUS KALAU BEGITU. SEANDAINNYA SEMUA ORANG BERSYUKUR SETIAP WAKTU SEPERTIMU, DESA KITA INI PASTI AKAN DAMAI DAN SEJAHTERA. TIDAK AKAN ADA ORANG YANG MENGELUH DAN KEPALAKU TIDAK AKAN PUSING LAGI. AKU INGIN SEKALI MELIHAT DESA KITA INI NANTINYA MERUPAKAN DESA PERCONTOHAN__”

            “Maaf! Aku harus ketempat lain, disini sudah selesai” kata Bonar memotong pidato calon kepala desa yang ucapannya sudah seperti kepala desa sungguhan.

            “Oh, aku tidak sadar kau sudah selesai, kau tahu aku terlalu bersemangat. Aku memang selalu bersemangat melakukan apapun. AKU MEMANG ORANG YANG MEMILIKI SEMANGAT TINGGI DAN SATU-SAATUNYA ORANG YANG LAYAK UNTUK DIPILIH MENJADI KEPALA DESA. KAU HARUS TAHU ITU.” Kata laki-laki yang dipanggil Sigolap, walau berkulit putih penuh, dengan nada tegas dan percaya diri dan tak lupa mengangkat dagunya. Laki-laki itu dipanggil Sigolap karena ia selalu tertarik dengan ilmu hitam dan hal-hal mistis. Bonar memandang sekelilingnya, berpura-pura mengingat-ingat di mana ia memasang jaringnya yang lain, dan berusaha membuat laki-laki yang bersemangat itu mengerti bahwa ia tidak diharapkan berada bersamanya saat ini. Namun namanya laki-laki bersemangat seperti yang sudah diakui laki-laki itu, laki-laki itu tetap melanjutkan perkataannya, mengutarakan siapa dirinya, kelebihannya, impian-impiannya, dan juga tidak lupa tentang keburuka-keburukan sainganya yang juga mencalonkan diri sebagai kepala desa.

            “Aku harus ketempat lain. Apakah ada hal yang ingin kau katakan ke padaku?” kata Bonar dengan senyum palsu di wajahnya. Laki-laki yang sudah berkata banyak itu mengerutkan dahi. Ia seperti lupa sedang berada dimana saat ini.

            “Ah, aku hanya mau memintamu untuk memilihku nanti. Kau tahu, aku sangat yakin bahwa kau dan…, emm.. aku menyesal istrimu ternyata sakit, dan aku baru tahu tadi pagi bahwa sudah seminggu dia menderita demam tinggi. Nanti pilih aku saja.”

            Bonar mengangguk tanda paham dan berkata, “Aku paham”. Dan ia mendayung sampannya meninggalkan laki-laki bersemangat yang kini diam seperti laki-laki yang kehilangan semangat hidup namun memikirkan rencana terakhir yang masih tersisa di otaknya yang buntu.

Istrinya sudah berhasil keluar dari masalah ini, sekarang tinggal ia saja yang masih bergumul untuk memutuskan memilih anak tulangnya, sahabatnya, laenya, atau tetangga dekatnya yang pernah meminjamkan uang padanya untuk membeli sekarung pupuk.

Laki-laki yang menemuinya di tengah danau bukan bagian dari masalah. Bonar tidak pernah menganggap laki-laki itu salah satu calon kepala desa. Kalau bisa jujur, Bonar membenci laki-laki itu sejak pertama kali laki-laki itu menginjakkan kaki sebagai menantu di kampungnya. Di jidat laki-laki itu, Bonar bisa membaca dengan jelas tulisan “munafik”. Tidak mungkin ia memilihnya, bahkan jika laki-laki itu sampai terpilih menjadi kepala desa, Bonar sudah memutuskan untuk pergi dari desa itu dan tinggal di desa tempat istrinya berasal. Hanya orang yang menilai kebancian sebagai kebaikanlah yang akan memilih laki-laki itu untuk menjadi kepala desa.

            Matahari sudah tinggi. Bonar masih saja di tengah danau. Ia sudah menaikkan semua jaringnya ke atas sampan. Ia menatap jauh ke arah perkampungan. Ada asap hitam yang menjulang ke langit, mungkin seseorang membakar sampah, pikirnya. Ia membayangkan tempat pemilihan sudah ramai dan hampir semua orang yang terdaftar sebagai pemilih sudah memilih. Pemilihan dimulai pukul sepuluh pagi, sekarang mungkin sudah hampir jam dua belas. “Beberapa orang mungkin mencariku. Tidak ada yang rahasia dan tidak ada yang bisa hilang tanpa diketahui oleh semua orang di seluruh kampungku.” Kata Bonar dalam hati. Ia mendayung sampanya menuju tepi daratan. Bonar sudah terlalu lama mengambang. Matahari  semakin membakar kulitku saja, seolah aku kehabisan jatah untuk bisa tetap berada disini, batin Bonar. “Aku akan berterus terang kepada mereka bahwa aku tidak akan memilih karena aku tidak mungkin memilih salah satu dari mereka, ya itu benar.” Kata Bonar kepada dirinya sendiri. “Kenapa aku tidak mengatakannya dari dulu?” Imbuh nya dengan nada menyesal.

            Saat sudah mendekati tepi danau, Bonar melihat istrinya melambai-lambai ke arah nya. Gerakan istrinya terlihat gelisah. Sesuatu pasti telah terjadi.

            “Kenapa kau lama sekali? Apakah kau memutuskan untuk mati juga di atas danau?” teriak istrinya dari tepian.

            Bukannya mempercepat laju sampan, Bonar malahan memperlambat. Ia memicingkan matanya. Apakah ia salah dengar? Tidak mungkin istrinya mengatakan hal yang barusan didengarnya. Ia berpikir keras, menebak-nebak apa yang sebenarnya dikatakan istrinya. Mungkin istrinya itu jengkel saja. Tapi, apa masalah yang memungkinkan istrinya yang mengaku sakit itu berani berdiri tanpa berpura-pura lemah sedikitpun di tempat terbuka, meneriakinya keras-keras, dan tampak… mengerikan.

            “Temanmu saling bunuh. Kata Sigolap, kau akan memilih satu dari mereka untuk menjadi kepala desa.”

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 9 November 2013, in Cerita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: