Monthly Archives: May 2014

KERETA

stasiun kota

Stasiun Kereta

Naik kereta komuter. Aku sangat suka naik kereta, sangat sangat sangat.. aku sangat sangat suukaaaaaaaaaa… naik kereta. Okay, kalau begini tulisannya, pertanda bahwa kalimat sebelumnya kurang tepat, kurang cocok. Perasaanku lebih dari suka, aku cinta, iya, aku cinta. Aku jatuh cinta dengan kereta dan apapun yang berhubungan dengannya, hiruk-pikuk stasiun, gerbong, pintu, kursi, jendela, cahaya, hingga peta jalur kereta yang menempel di atas pintu. Rasanya, seperti memasuki dunia yang berbeda, dunia di mana seolah-olah ketidakabadian mampu menembusi keabadian dengan sesuka hati. Dan seolah-olah gerbong kereta adalah sebuah gerbong ketidakpastian yang pasti. Kita seakan dibawa memasuki sebuah dunia ganjil, di mana jiwa-jiwa yang tak saling mengenali mampu menyatu pada waktu dan tempat yang sama.

Setiap menaiki kereta, dunia terasa aneh, seperti lebih pekat, lebih syahdu, romantis, dan terkadang lebih kuat untuk menonjok pemikiran. Ada banyak kejadian yang cukup aneh, mungkin sedikit penemuan unik untuk diriku oleh diriku saat berada di dalam gerbong kereta, seperti petapa yang mendapat ilham dalam gua kesunyian, hanya saja aku mendapatkanya dengan tidak sengaja dan di tempat yang sangat ramai dan berisik.

Ingatan pertama yang kuat melekat dan menarik dalam ingatanku saat menulis tulisan ini adalah satu senja di Stasiun Jakarta Kota. Saat itu hari Senin, suasana kota Jakarta sangat tegang dan panas. Langit perlahan mulai meredup, Stasiun Jakarta Kota pun membludak oleh calon penumpang. Aku berdiri di peron di antara keramaian, sedang menonton banyak raut wajah, menunggu kereta menuju Stasiun Bogor.

Saat itu suara-suara aneh menggema di udara (Tidak akan aneh jika tidak didengar dengan seksama), seperti suara yang datang dari dunia lain, membuat merinding. Kereta datang dan pergi di hadapanku, orang-orang berlarian, berebut, berteriak, dan banyak pula yang berdiri saja dan sibuk dengan gadget. Kemudian perasaan aneh itu datang. Aku tiba-tiba mengenali mereka semua, merasa menyatu dengan mereka, merasa seperti bisa menembus tubuh mereka, merasa seperti bagian dari hidup mereka. Aku merasa aku adalah mereka dan mereka adalah aku. Berdiri di sana saat itu sama persisnya seperti segulung ombak. Ombak yang berbeda-beda, namun pada kenyataannya adalah satu. Semua ombak adalah bahagian dari laut, kita adalah ombak. kita adalah samudra itu sendiri, kita adalah air yang sama.  Dan kejadian di stasiun itu mengingatkanku pada perumpamaan tentang manusia dan ombak oleh Paulo Coelho, seorang penulis dari Brazil itu. Pemikiran atau mungkin bisa disebut pemahaman yang datang dengan tak di sadari, atau ilham yang menghampiri. Kita adalah satu. Kita Manusia.

Demikianlah salah satu kisah dari banyak kisah yang kualami dengan kereta dan sahabat-sahabatnya. Kereta yang seperti mampu membawaku melayang dan masuk ke dunia lain. Kereta yang mampu menempuh dunia di mana aku kehilangan diriku, tetapi pada akhirnya aku menemukan diriku yang lain sedang berdiri berdekatan dengan diriku yang lama. Iya, aku sangat mencintai suasana yang berhubungan dengan kereta. Aku akan menulis kisah lain, lain waktu. Sampai jumpa lagi, semoga kita akan bertemu di gerbong kereta yang sama suatu saat nanti dan kemudian berbagi kisah.

Advertisements

Merah

Merah

Sumber foto: Google

 Hujan gerimis. Angin sudah berhenti. Semua basah dan lembab. Tanah di halaman rumah tampak hitam seperti godokan dari segala kegelapan. Dan udara yang dingin penuh kabut pekat sedang menggeliat bersama duka. Perkampungan ini tampak terlalu sepi. Matahari masih bersembunyi di balik awan, seakan segan menampakkan diri pada alam. Hujan sudah turun sepanjang malam, dan tidak juga berhenti hingga pagi. Jenis hujan ini biasanya turun dengan sangat ngotot, seperti seseorang yang sedang marah dan ingin melampiaskan kekesalan. Seorang wanita paruh baya dengan sarung hitam yang melilit kepalanya terlihat berjalan di atas tanah becek. Ia menuju rumah tempat para gadis beristirahat.

Kokok ayam pagi hari sudah berhenti bersamaan dengan gerakan manusia yang mematung tak percaya. Jeritan wanita paruh baya itu telah merobek pagi yang sangat sunyi dan teramat kaku. Jeritan yang membuat jantung perkampungan itu tiba-tiba berdegup kencang seperti degup jantung rusa jantan yang melarikan diri dari kejaran singa, menelan semua suara tanpa terkecuali. Ia tidak menemukan putrinya di pembaringan. Seorang gadis telah hilang, hilang tak berjejak pada malam saat hujan badai.

Di kejauhan, di tepi perkampungan, barisan pepohonan yang diselimuti kabut abu-abu tampak berat, menakutkan, dan membisu. Pepohonan itu adalah tepi hutan. Hutan itu tempat para hantu berdiam diri dan sesekali iseng memanggil-manggil jiwa-jiwa dari perkampungan. Tidak ada yang ingin memasuki hutan itu, namun apa daya, jiwa hutan itu terlalu kuat untuk diabaikan. Hutan itu mengingini tumbal pada waktu tertentu dengan merayu-rayu jiwa yang tertidur di malam hari. Akan tetapi, saat ini, penduduk percaya bahwa gadis yang hilang itu tak mungkin ditelan kegelapan hutan. Jiwa gadis itu dilindungi sang pencipta. Sudah banyak korban yang di persembahkan di bawah langit untuk perlindungannya. Sejak ia dalam kandungan, hingga ia lahir dan kemudian tumbuh dewasa, korban itu tak putus-putusnya dikorbankan untuk mendapat perlindungan. Jiwanya kuat tak terayu, jiwanya adalah jiwa para kaum bangsawan. Tak mungkin hutan menelanya.

Read the rest of this entry