Merah

Merah

Sumber foto: Google

 Hujan gerimis. Angin sudah berhenti. Semua basah dan lembab. Tanah di halaman rumah tampak hitam seperti godokan dari segala kegelapan. Dan udara yang dingin penuh kabut pekat sedang menggeliat bersama duka. Perkampungan ini tampak terlalu sepi. Matahari masih bersembunyi di balik awan, seakan segan menampakkan diri pada alam. Hujan sudah turun sepanjang malam, dan tidak juga berhenti hingga pagi. Jenis hujan ini biasanya turun dengan sangat ngotot, seperti seseorang yang sedang marah dan ingin melampiaskan kekesalan. Seorang wanita paruh baya dengan sarung hitam yang melilit kepalanya terlihat berjalan di atas tanah becek. Ia menuju rumah tempat para gadis beristirahat.

Kokok ayam pagi hari sudah berhenti bersamaan dengan gerakan manusia yang mematung tak percaya. Jeritan wanita paruh baya itu telah merobek pagi yang sangat sunyi dan teramat kaku. Jeritan yang membuat jantung perkampungan itu tiba-tiba berdegup kencang seperti degup jantung rusa jantan yang melarikan diri dari kejaran singa, menelan semua suara tanpa terkecuali. Ia tidak menemukan putrinya di pembaringan. Seorang gadis telah hilang, hilang tak berjejak pada malam saat hujan badai.

Di kejauhan, di tepi perkampungan, barisan pepohonan yang diselimuti kabut abu-abu tampak berat, menakutkan, dan membisu. Pepohonan itu adalah tepi hutan. Hutan itu tempat para hantu berdiam diri dan sesekali iseng memanggil-manggil jiwa-jiwa dari perkampungan. Tidak ada yang ingin memasuki hutan itu, namun apa daya, jiwa hutan itu terlalu kuat untuk diabaikan. Hutan itu mengingini tumbal pada waktu tertentu dengan merayu-rayu jiwa yang tertidur di malam hari. Akan tetapi, saat ini, penduduk percaya bahwa gadis yang hilang itu tak mungkin ditelan kegelapan hutan. Jiwa gadis itu dilindungi sang pencipta. Sudah banyak korban yang di persembahkan di bawah langit untuk perlindungannya. Sejak ia dalam kandungan, hingga ia lahir dan kemudian tumbuh dewasa, korban itu tak putus-putusnya dikorbankan untuk mendapat perlindungan. Jiwanya kuat tak terayu, jiwanya adalah jiwa para kaum bangsawan. Tak mungkin hutan menelanya.

Lalu, kemanakah gadis itu? Tak ada yang bisa menebak. Ia seperti hilang digerus hujan dan lenyap ditelan kabut. Nama gadis itu Ulina, gadis tercantik yang pernah ada. Darahnya darah paling berharga dan nyawanya tak sebanding dengan apapun di dunia. Ia gadis yang didambakan dan paling dikagumi. Para hantu bahkan merasa iri saat melihat kesempurnaanya. Tidak ada cela, bahkan tutur katanya sehalus kain sutra, sesejuk tetesan embun pagi.

“Aku juga tidak melihat si pengasuh. Mungkinkah sang putri bersammanya?” tanya seseorang pada raja. Ia tidak tahu bahwa sang raja menutupi kebenaran.

“Mungkin saja. Cari si pengasuh, dan penggal kepalanya.” Perintah raja pada para pengawal. Suaranya parau, lututnya gemetar, dan tangannya mengepal kuat hingga kukunya menembus kulit. Tingkah laku raja ini sangat aneh. Namun, seorang raja tidak boleh dicurigai. Para penduduk desa tidak akan mencurigai seorang raja. Ia berkuasa, maha tahu, pemberi hukuman.

Tapi walau pun ia seorang raja, ia tetap manusia, dia boleh di curigai. Hanya dua orang saja dari sekian banyak orang di perkampungan itu yang tahu ke mana gadis itu menghilang. Kenapa raja harus dicurigai? Karena dia tidak pergi untuk mencari, karena dia tidak kalap mendengar jeritan. Ia bertingkah seolah semua ini bisa diterima begitu saja. Dan memang begitulah kebenarannya. Ia tahu. Raja sudah tahu. Dan hanya sang raja dan pemahat yang sedang berdiri kaku di sudut ruangan rumah yang penuh sesak yang tahu ke mana gadis itu. Sementara di sudut ruangan lain, sang istri raja, ibunda dari sang putri yang hilang, terbujur tak sadarkan diri di atas dipan. Para wanita meraung-raung seperti induk singa. Mereka meminta sang pencipta mengembalikan jiwa kecintaan mereka, walau mereka tahu bahwa sang pencipta tidak akan mencuri apa yang sudah diberikannya. Lalu ke mana mereka akan mencari? Ke hutan kah? Ke dalam danau kah? Atau ke dunia hitam?

Sekarang, setelah asumsi ditebarkan oleh banyak kepala, ada pikiran-pikiran ganjil yang mulai merayap di udara. Merayap seperti seekor lipan hitam. Mendesis seperti ular piton, jika ular itu bisa mendesis. Menakutkan tapi sangat nyata dan kuat. Pikiran itu menjalar cepat tak terkendali. Pikiran itu akhirnya mengatakan bahwa sang kegelapan yang iri lah yang telah mencuri sang putri yang cantik jelita. Jadi, mari kita mengadakan upacara. Sang hantu akan terbujuk oleh asap hewan bakaran. Darah ayam jantan akan meluluhkan hatinya. Dan akan kembali jinak jika mendengar doa-doa permohonan. Kita berharap sang putri bisa kembali.

Hujan sudah berhenti. Matahari bersinar cerah, seakan abai akan duka para penghuni perkampungan. Mungkin dia sudah muak dengan sandiwara dan tak ingin ikut andil dalam tawa. Asap korban bakaran masih mengepul, tapi darah dalam baskom sudah membeku di bawah pohon beringin di sudut perkampungan. Sang raja kini duduk di pelataran, di atas batu besar dekat gerbang perkampungan. Ia berpikir dan berduka, ia tahu putrinya sudah mati. Bagaimana dia harus mengungkap kebenaran? Haruskan dengan kejujuran yang menyakitkan? Tidak. Tidak akan dibongkar. Dia memutuskan untuk mengalihkan kesalahan. Si pengasuh harus di tuntut. Si pengasuhlah akar dari semua bencana ini. Jika saja si pengasuh tahu diri, maka sang putri akan tetap merekah harum seperti bunga mawar hingga saat ini. Tapi di mana si pengasuh berada? Tidak satu pun tahu, kecuali pepohonan dan jangkrik.

Jauh di tengah hutan, seorang gadis berlari linglung. Kakinya yang tak beralas berderap ringan bagaikan kaki kelinci di lantai hutan. Ia tidak lagi merasakan duri-duri yang menancap di kakinya, dan juga serpihan-serpihan tajam yang merobek kulitnya sudah seperti kapas yang menyentuh kulit, tak terasa sakit. Ia hanya berlari tak tentu arah dan sesekali menoleh ke belakang. Air matanya sudah kering. Ia menangis semalaman, menangisi sahabatnya dan menangisi dirinya sendiri. Suara jerit tertahan itu masih jelas terdengar di telinganya. Ia bahkan merasakan ngilu itu di lehernya. Tubuhnya terasa berat walau ia sebenarnya kurus. Ia sedang memikul pengakuan dosa, bahwa ia adalah si penghianat yang tak termaafkan. Ia adalah si pengasuh yang sedang dicari.

Si pengasuh berumur hampir sama dengan sang putri raja. Ia besar bersama sang putri dan memiliki pemikiran yang sama dengan gadis yang derajatnya sangat tinggi dari dirinya itu. Kelas mereka seperti langit dan bumi, sangat jauh dan tak bisa disama-samakan. Namun, cara berpikir dan kosa kata mereka seperti kembar identik. Sungguh malang nasib si pengasuh ini, yang lahir dari rahim seorang budak, namun tumbuh besar dengan seorang putri. Dia mengenal sebuah kehidupan yang bermartabat, tapi tak akan bisa menarik atau mendorong dirinya ke dalam dunia itu. Ia hanya memiliki darah budak dalam tubuhnya. Tidak ada yang bisa mengubah nasibnya, kecuali sang raja yang maha kuasa. Dan saat ini sang raja sudah mencarinya, menentukan nasibnya. Tetapi, bukan untuk mengangkat derajatnya, raja mencari untuk menentukan harga dari perbuatannya, memenggal kepalanya. Si budak tetap jadi budak, si raja tetap jadi raja, begitulah hukumnya.

Si pengasuh takut mati. Ia melarikan diri karena jiwanya sudah takut akan bertemu dengan jiwa sahabatnya di dunia para roh. Apa yang akan dikatakan sang putri padanya? Bisa kah sang putri menerimanya? Akan kah dia mati berulang kali? Mati dari dunia ini kemudian dimatikan lagi di dunia para roh? Tentu saja tidak. Bukan. Bukan begitu. Ini tidak benar. Ada yang salah di sini. Tidak akan seperti itu.

Gadis di tengah hutan itu tiba-tiba tersentak. Ia berhenti berlari. Ia menyadari kebodohan dan kenaifannya. Jantungnya masih berdegup kencang saat ia berdiri mematung. Ia menatap nanar celah pepohonan yang gelap seperti sarang para hantu. Sinar matahari yang berhasil menembus atap hutan tampak seperti tombak yang menghujam dirinya. Ia masih bergeming di tengah sinar. Tampak berkilauan di antara suram hutan. Tak mungkin setelah mati akan bertemu, pikirnya. Air mata penyesalannya mengalir di pipinya yang lembab. Ia keturunan budak. Para budak tak memiliki roh. Setelah mati, ia takan ke mana-mana, kecuali dagingnya kembali menjadi tanah, darahnya menjadi air, dan kemudian menguap ke udara tak berjejak tak memiliki arti. Sementara sang putri akan menuju dunia yang berbeda. Keturunan bangsawan, walau tubuhnya sudah mati, tetapi jiwa dan rohnya tetap hidup, dan akan bertemu dengan para roh-roh di dunia roh dan menunggu giliran untuk dilahirkan kembali menjadi manusia bermartabat.

Suara hutan sudah kembali. Si pengasuh bersandar layu bagai tak bertulang di balik pohon pinus. Ia tersembunyi. Ia pasrah kepada hutan. Matanya yang terbuka tak mampu melihat. Semua kabur di telan duka dan penghianatan. Menggerakkan jari untuk menyingkirkan ulat yang menjalar di lehernya pun ia tak sanggup. Atau niat menggerakkan kakinya untuk menakuti luwing yang merayap perlahan ke lututnya pun dia tidak punya. Dia tak berdaya, sudah tertelan oleh ketiadaan.

Sementara para pengawal raja yang terlatih dan berpengalaman seperti anjing pelacak yang gigih, sudah mendekat. Ia pasti akan di temukan. Hutan sudah kembali senyap, hanya jeritan monyet lamat-lamat terdengar di kejauhan. Gerakan mereka sangat cepat. Hanya beberapa jam saja, mereka sudah mampu menyelusuri hutan yang di tempuh si pengasuh semalaman suntuk. Para pengawal yang bertubuh besar dan sangar dengan senjata di tangan melintas berderap di sekitar si pengasuh. Namun mereka tak mampu menyadari adanya tubuh yang tak berdaya itu. Dan lucunya, si pengasuh juga tidak menyadari adanya orang-orang yang melintas di sekitarnya. Dunia ini memang aneh. Ia seperti selembar air jika air bisa dilembarkan seperti kertas, ia tembus pandang, dan tubuhnya sudah sama baunya seperti lumpur di sekitarnya. Dia mematung dan menyatu dengan hutan.

Sementara di perkampunganan, duka semakin memuncak. Sang istri raja meratap meraung-raung. Wanita itu merobek pakaiannya, memukuli dadanya, menjambak rambutnya sendiri, merauk lumpur dan menyapukanya ke wajahnya, dan meneriaki sang pencipta. Ia meminta agar dirinya saja yang dibawa pergi. Ia meracu seperti orang mabuk, menjerit, menangis memilukan dada. Tentu saja dia sedang gila. Dia betina gila karena kehilangan anak. Tak ada yang bisa membohongi insting seorang wanita. Tak ada yang bisa menipu firasat seorang ibu. Ia tahu putrinya sudah mati. Dan akan tetap seperti itu. Putrinya tak akan kembali ke pelukannya. Ia kini gila. Dan selamanya akan gila. Ia sudah kehilangan tuhan dari dalam dirinya. Ia tubuh tak berjiwa.

Musim berganti, tahun-tahun berlalu. Duka itu masih ada walau para penduduk perkampungan sudah kembali bekerja seperti sedia kala sebelum bencana itu datang. Sang putri tak pernah kembali, dan memang begitulah kenyataannya. Si pengasuh tidak ditemukan. Sang raja berdiam diri menunggu mati.

Dan saat ini, kebenaran itu sudah diketahui oleh tiga orang. Sang raja, pemahat, dan istri si pemahat. Rahasia itu mengalir pelan tetapi pasti. Dan pada akhirnya, semua orang akan tahu. Kebocoran rahasia itu mengalir pertama sekali pada satu petang yang dingin dan pekat. Langit sangat gelap, akan turun hujan. Si pemahat berdiri kaku di gerbang perkampungan. Angin berhembus tiba-tiba dari belakangnya, dari luar gerbang, dan memutar di pelataran, membentuk pusaran di tengah halaman rumah-rumah yang berbaris melingkar berhadapan. Dan tak lama kemudian hilang perlahan meninggalkan sesuatu yang ganjil. Ia menggigil hebat tapi tak roboh. Gigignya bergeretak memilukan. Ia melihat sosok yang dikenalinya di tengah halaman di depan rumah sang raja. Sosok itu adalah sang putri yang sedang menenun. Sang putri sudah mati tak mungkin kembali. Yang dilihatnya adalah hantu. Kejadian itu berulang lagi di hadapannya, kejadian yang sangat jelas, seakan bisa disentuh. Hingga kemudian istrinya mendapatinya, menanyainya, dan menanggung rahasia itu juga di tubuhnya sebelum menyebar ke tubuh yang lainnya.

Beginilah awal mula dari pagi yang bergerimis penuh duka itu. Satu sore, sebelum bencana, sang raja dan si pemahat sedang duduk di atas batu besar dekat gerbang perkampungan, merencanakan pemberian warna pada ukiran rumah yang baru saja di bangun. Sang raja mengusulkan agar warna merah untuk pahatan pada di dinding rumahnya yang baru itu berasal dari merah darah asli. Mereka pun menghitung jumlah ternak yang harus di sembelih untuk mendapatkan darah, menimbang-nimbang apakah sudah pas. Tepat saat mereka berbincang-bincang, si pengasuh melintas di halaman, dan saat itu pula pikiran keji melintas dalam kepala si pemahat. Ia menyampaikan rencananya pada sang raja dengan sangat hati-hati dan malu-malu. Dan ternyata sang raja menyetujui usul si pemahat jahat.

Esok harinya, sang raja membicarakan taktik di bawah pohon beringin bersama si pemahat, dan meyakini bahwa tidak ada yang akan mendengar dan mencurigai. Namun mereka gagal menyadari akan keberadaan si pengasuh di balik batang pohon tempat mempersembahkan sajian-sajian kepada roh-roh yang mereka takuti itu. Mereka tidak tahu bahwa si pengasuh selalu berada di sana setiap sore secara diam-diam. Dia sembunyi-sembunyi ikut memberikan sesajennya di bagian sisi belakang pohon beringin, meminta pengampunan dan pengasihan dari sang pencipta agar diberikan roh seperti yang dimiliki para kaum bangsawan dan bukan kekosongan jiwa seperti layaknya budak-budak.

Si pengasuh gemetar hebat mendengar rencana itu dari balik pohon. Rencana yang membuatnya mual dan dadanya sesak seperti akan segera meledak. Isakannya tertahan, tanganya menggenggam kuat akar pohon yang mencuat, seakan tubuhnya akan terlepas dan pecah berkeping-keping jika melepaskan genggamannya. Si pemahat berencana akan meminta dirinya untuk mengenakan gelang jerami nanti sore. Gelang itu akan menjadi tanda agar mudah dikenali di tengah gelap di malam saat semua sudah terlelap. Dengan begitu, si pemahat akan mengetahui yang mana si pengasuh dan mana sang putri. Dan saat mengetahui yang mana si pengasuh, maka si pemahat akan membekapnya, membawanya ke hutan, dan menyayat lehernya untuk memperoleh darah murni untuk dijadikan cat merah rumah sang raja.

Pada tengah malam saat badai itu, si pemahat memulai aksinya. Ia melangkah pelan seperti hantu di gelapnya malam, menuju pembaringan sang putri dan si pengasuh. Semua orang sudah terlelap. Suara angin dan hujan seakan menghipnotis mereka agar tidur terlelap hingga limit maksimal dari kelelapan, walaupun terkadang tersentak saat bunyi gemuruh memecah malam, namun mereka segera terlelap kembali. Si pemahat meraba sangat pelan, mencari lengan, mencari keberadaan gelang jerami yang dijadikan sebagai petunjuk

Namun semua rencana itu gagal. Si pengasuh tidak pernah tidur di malam badai itu. Ia membuka ikatan gelang jerami dari tangannya, dan kemudian mengikatkannya pada lengan sang putri yang tertidur. Pura-pura terlelap saat si pemahat mendekat dan meraba-raba. Dan kemudian mengikuti si pemahat yang memikul tawanannya di atas pundaknya ke dalam hutan. Ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri saat si pemahat membunuh sang putri di bawah pohon besar di tengah hujan yang dingin gelap dan menakutkan. Si pengasuh ingin sekali menerjang si pemahat, namun dia tak sanggup bergerak, dan tak mungkin bisa melawan pemahat bertubuh kokoh itu. Ia hanya bisa gemetar ketakutan di balik pakis-pakis. Namun tak lama kemudian si pemahat kemudian menyadari kesalahannya. Darah dalam baskomnya adalah darah bangsawan. Ia baru tersadar saat tangannya tak sengaja menyentuh kepala korbannya. Rambut wanita yang di bunuhnya tergelung rapi. Ia membuka gelungan itu saat tubuh tak bernyawa di pangkuanya sudah terbujur kaku. Rambut hitam itu terurai ke tanah basah. Dan tentu saja seorang budak tak berambut panjang. Sang putri yang sempurna telah mati dengan keji di tangan pemahat, suruhan ayahnya sendiri.


Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 6 May 2014, in Cerita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: