Monthly Archives: July 2014

Kamu Berasal dari Keluarga Baik-baik?

family“Pilihlah yang berasal dari keluarga baik-baik.” Kalimat ini sering sekali digunakan orang-orang sebagai salah satu dari daftar nasehat untuk seseorang yang ingin mendapatkan jodoh. Aku berpikir, apa kriteria keluarga baik-baik? Apakah itu artinya dari keluarga kaya? Atau keluarga pemuka agama? Ataukah keluarga para pejabat? Atau dari jenis keluarga yang lain? Sebenar-benarnya, aku tak ingin menggolongkan jenis-jenis keluarga, karena aku tidaklah pintar membeda-bedakan, namun kalimat “berasal dari keluarga baik-baik” ini memaksaku membaginya agar tidak ruet pemikiranku. Aku pernah bertanya pada seseorang, apa itu keluarga baik-baik menurut pendapatnya, dia menjawab dengan tersenadat-sendat dan dengan pertanyaan pula walau sudah bengong untuk waktu yang cukup lama, “Mungkin, emm.. mungkin keluarga baik-baik adalah keluarga yang baik. Anggota keluarganya baik semua?”

Aku pikir, banyak ucapan yang terucap tanpa bertanya terlebih dulu apa makna dari ucapan itu sendiri, dan ucapan tersebut kemudian beranak pinak di udara tanpa tahu menahu pengertian apa yang diberikanya pada orang yang menghirupnya. Aku ambil contoh dari perihal tanya-jawab antar teman. Temanku pernah bertanya manakah masa yang paling kusenangi, masa anak-anak, masa SD, masa SMP, masa SMA, ataukah masa kuliah? Aku tak mampu menjawabnya. Aku tak mampu menyuruh kepalaku untuk berpihak pada hal-hal yang dijaring orang pada waktu, pun pada apa saja yang bisa tampak oleh  mata. Aku tak senang jika aku mengatakan aku paling senang saat SMA atau saat kuliah, karena aku tak paham apa yang membuatku senang dengan istilah “SMA” atau pun “Kuliah”.  Aku menyenangi sesuatu yang abstrak, yaitu perasaan senang itu sendiri. Dan jika sesuatu itu sudah mewujud menjadi sesuatu yang tampak oleh mataku, maka pikirku, bukan ini yang membuatku senang. Karena jika sesuatu yang bisa disentuh itu bisa dihancurkan, maka artinya kebahagiaanku itu pun hakikatnya bisa dihancurkan. Aku sudah belajar dan masih tetap belajar untuk tidak menempatkan rasa bahagiaku di luar dari diriku. Jadi, jika aku kembali menempatkanya di luar dari diriku, atau memberikannya pada orang lain atau benda, maka bodohlah aku.

Kembali pada istilah “Keluarga baik-baik”, terus terang belum juga aku mengerti ucapan ini. Namun, aku terus mencoba untuk memahami mengapa istilah ini bisa merebak bak bunga dan mengumbar baunya ke mana-mana. Aku belum menikah dan belum tahu siapa kira-kira jodohku, namun dalam menanti jodoh aku tidak menerapkan “carilah jodoh yang berasal dari keluarga baik-baik”. Alasan utamaku adalah karena aku tidak paham apa maksud dari keluarga baik-baik itu sendiri dan dari mana istilah ini berasal. Jadi, agar tidak pusing saja, aku mengurai istilah rumit ini dalam kepalaku menjadi seperti ini, seseorang yang memiliki orang tua yang baik, dan terkenal senang membantu orang lain, kemungkinan besar dihormati orang banyak. Hal ini secara langsung ataupun tidak akan membantumu kelak untuk bersosialisai dengan orang banyak jika kau menikahi anak dari orang tua yang baik. Dengan kata lain, tidak akan dirumitkan oleh persoalan keluarga baru yang punya musuh di mana-mana karena berkelakuan buruk atau gagal bersosialisasi. Hanya dari sisi itulah keuntungan menikahi orang yang berasal dari keluarga baik-baik.

Menurut pemikiranku, yang tak kutahu seberapa besar kebenarnya, adalah, setiap orang itu berbeda-beda, tidaklah tergantung baik buruk orang tuanya atau saudara-saudaranya atau dari jenis keluarga mana ia datang. Seorang yang baik bisa lahir dari keluarga yang keadaanya buruk, atau miskin, atau kulit hitam, atau tak berpendidikan atau pun dari kota, dan begitu juga sebaliknya. Salahlah jika seseorang dewasa menyalahkan keluarganya atas keadaannya yang buruk. Aku yakin, setiap orang diberi hak untuk memilih jalan yang ingin ditempuhnya. Jika hidupnya buruk, pada akhirnya itu adalah kesalahannya sendiri. Jadi, jika kelak ada yang bertanya apakah seseorang yang kucintai berasal dari keluarga baik-baik, maka jawabku adalah, AKU TIDAK PEDULI. J

Politik Tidak Penting?

Aku perempuan dan aku mengamati politik. Jika ditanya apa yang pertama kali membuatku tertarik dengan politik, maka jawabanku adalah buku. Aku merasa beruntung diberi kesenangan untuk membaca. Dan beberapa buku yang membuatku tertegun tentang pentingnya dunia politik dalam kehidupan bernegara adalah, “1984” karya George Orwell, “Confessions” karya Kang Zhengguo, “Les Miserables” karya Victor Hugo, “Beatrice and Virgil” karya Yann Martel, dan dari penulis Indonesia yaitu Pramoedya Ananta Toer “Anak Semua Bangsa” serta “Berani Mengubah” yang ditulis oleh Pandji Pragiwaksono.

Aku melihat bahwa banyak sekali orang yang menganggap politik tidak perlu. Mereka menulis status/twit di media sosial mereka bahwa pemilu tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi kehidupan mereka. Padahal seorang pemimpin sangat berperan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan fakta yang tidak bisa kita acuhkan adalah bahwa kita hidup berbangsa dan bernegara. Jadi, dari sisi mana-kah pemimpin itu bisa kita pandang sebagai hal yang tidak penting?

Pemimpinlah nantinya yang akan memutuskan kita boleh berpendapat atau tidak, yang boleh kita gunakan atau tidak, yang boleh kita lakukan atau tidak, dan bahkan mungkin saja, pemimpin mengatur apa yang boleh kita makan atau tidak dan apa yang boleh kita pakai atau tidak.

Kita harus ingat, kemanusiaan bisa tenggelam dalam kebobrokan jika kita salah memilih pemimpin negara.

Sejarah membuktikan bahwa seorang pemimpin mampu melakukan kekejaman yang luar biasa pada rakyatnya, salah satu kekejaman seorang pemimpin adalah dengan melakukan genosida. Bagi yang belum tahu, genosida adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan/ membuat punah bangsa tersebut. Contohnya, pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi, bangsa Helvetia oleh Julius Caesar,pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat oleh rezim Khmer Merah, dan yang paling sohor ke seluruh dunia yaitu genosida oleh Nazi yang dikenal dengan Holocaust dan dipimpin oleh Adolf Hitler di Jerman. Nazi membantai Orang Yahudi, Orang Rom, komunis, tahanan perang Soviet, homoseksual, orang cacat, saksi Yehuwa, musuh politik dan keagamaan. Dan menurutku, setelah membaca “1984” karya George Orwell, di Indonesia sudah pernah terjadi genosida, genosida budaya, yakni penghancuran sejarah oleh salah satu pemimpin kita.

korban nazi2

Tahanan yang kelaparan di kamp Mauthausen, dibebaskan pada Mei 1945

korban nazi

Kuburan massal korban Holocaust di kamp konsentrasi Bergen-Belsen, di foto oleh seorang tentara Inggris setelah pembebasan kamp itu pada bulan April 1945.

Kita memang kecewa oleh beberapa pemimpin bangsa, bahkan beberapa di antara kita pernah menderita karena kekejaman yang dilakukan pejabat atau pemimpin negara. Seperti dalam buku “Beatrice and Virgil”, Yann Martel mengatakan “Sekali kau dihantam kekejaman, kau mendapat beberapa pendamping yang tidak pernah benar-benar meninggalkanmu: Kecurigaan, Ketakutan, Kegelisahan, Keputusasaan, Kemurungan. Senyum alami telah terampas darimu dan kesenangan alami yang pernah kau nikmati kehilangan daya tariknya.” Namun se-kecewa apapun kita pada pemimpin sebelumnya, sebaiknya kita tetap optimis untuk negara ini, kita harus terus berusaha, kita harus berani bertanggungjawab, belajar menilai berdasarkan kejujuran, dan memilih pemimpin yang jujur yang menghargai HAM. Walau kejujuran sering kali tak menang, paling tidak kita sudah berusaha untuk kebaikan  masa depan kita nantinya, serta ikut berpartisipasi untuk menyelamatkan penerus bangsa agar tidak perlu menerima kepahitan dari seorang pemimpin yang kejam.