Kamu Berasal dari Keluarga Baik-baik?

family“Pilihlah yang berasal dari keluarga baik-baik.” Kalimat ini sering sekali digunakan orang-orang sebagai salah satu dari daftar nasehat untuk seseorang yang ingin mendapatkan jodoh. Aku berpikir, apa kriteria keluarga baik-baik? Apakah itu artinya dari keluarga kaya? Atau keluarga pemuka agama? Ataukah keluarga para pejabat? Atau dari jenis keluarga yang lain? Sebenar-benarnya, aku tak ingin menggolongkan jenis-jenis keluarga, karena aku tidaklah pintar membeda-bedakan, namun kalimat “berasal dari keluarga baik-baik” ini memaksaku membaginya agar tidak ruet pemikiranku. Aku pernah bertanya pada seseorang, apa itu keluarga baik-baik menurut pendapatnya, dia menjawab dengan tersenadat-sendat dan dengan pertanyaan pula walau sudah bengong untuk waktu yang cukup lama, “Mungkin, emm.. mungkin keluarga baik-baik adalah keluarga yang baik. Anggota keluarganya baik semua?”

Aku pikir, banyak ucapan yang terucap tanpa bertanya terlebih dulu apa makna dari ucapan itu sendiri, dan ucapan tersebut kemudian beranak pinak di udara tanpa tahu menahu pengertian apa yang diberikanya pada orang yang menghirupnya. Aku ambil contoh dari perihal tanya-jawab antar teman. Temanku pernah bertanya manakah masa yang paling kusenangi, masa anak-anak, masa SD, masa SMP, masa SMA, ataukah masa kuliah? Aku tak mampu menjawabnya. Aku tak mampu menyuruh kepalaku untuk berpihak pada hal-hal yang dijaring orang pada waktu, pun pada apa saja yang bisa tampak oleh  mata. Aku tak senang jika aku mengatakan aku paling senang saat SMA atau saat kuliah, karena aku tak paham apa yang membuatku senang dengan istilah “SMA” atau pun “Kuliah”.  Aku menyenangi sesuatu yang abstrak, yaitu perasaan senang itu sendiri. Dan jika sesuatu itu sudah mewujud menjadi sesuatu yang tampak oleh mataku, maka pikirku, bukan ini yang membuatku senang. Karena jika sesuatu yang bisa disentuh itu bisa dihancurkan, maka artinya kebahagiaanku itu pun hakikatnya bisa dihancurkan. Aku sudah belajar dan masih tetap belajar untuk tidak menempatkan rasa bahagiaku di luar dari diriku. Jadi, jika aku kembali menempatkanya di luar dari diriku, atau memberikannya pada orang lain atau benda, maka bodohlah aku.

Kembali pada istilah “Keluarga baik-baik”, terus terang belum juga aku mengerti ucapan ini. Namun, aku terus mencoba untuk memahami mengapa istilah ini bisa merebak bak bunga dan mengumbar baunya ke mana-mana. Aku belum menikah dan belum tahu siapa kira-kira jodohku, namun dalam menanti jodoh aku tidak menerapkan “carilah jodoh yang berasal dari keluarga baik-baik”. Alasan utamaku adalah karena aku tidak paham apa maksud dari keluarga baik-baik itu sendiri dan dari mana istilah ini berasal. Jadi, agar tidak pusing saja, aku mengurai istilah rumit ini dalam kepalaku menjadi seperti ini, seseorang yang memiliki orang tua yang baik, dan terkenal senang membantu orang lain, kemungkinan besar dihormati orang banyak. Hal ini secara langsung ataupun tidak akan membantumu kelak untuk bersosialisai dengan orang banyak jika kau menikahi anak dari orang tua yang baik. Dengan kata lain, tidak akan dirumitkan oleh persoalan keluarga baru yang punya musuh di mana-mana karena berkelakuan buruk atau gagal bersosialisasi. Hanya dari sisi itulah keuntungan menikahi orang yang berasal dari keluarga baik-baik.

Menurut pemikiranku, yang tak kutahu seberapa besar kebenarnya, adalah, setiap orang itu berbeda-beda, tidaklah tergantung baik buruk orang tuanya atau saudara-saudaranya atau dari jenis keluarga mana ia datang. Seorang yang baik bisa lahir dari keluarga yang keadaanya buruk, atau miskin, atau kulit hitam, atau tak berpendidikan atau pun dari kota, dan begitu juga sebaliknya. Salahlah jika seseorang dewasa menyalahkan keluarganya atas keadaannya yang buruk. Aku yakin, setiap orang diberi hak untuk memilih jalan yang ingin ditempuhnya. Jika hidupnya buruk, pada akhirnya itu adalah kesalahannya sendiri. Jadi, jika kelak ada yang bertanya apakah seseorang yang kucintai berasal dari keluarga baik-baik, maka jawabku adalah, AKU TIDAK PEDULI. J

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 26 July 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: