Monthly Archives: August 2014

Aku Polisi (Kereta 2)

Pertama-tama aku ingin mengatakan bahwa judul ini hanya kebetulan belaka. Bukan berdasarkan ketidak sukaan atau pun kesukaan pribadi terhadap propesi yang satu ini. Sekali lagi aku mengingatkan, “Ini hanya kebetulan belaka.”
Suatu pagi, aku harus ke Jakarta dari tempat tinggalku di Depok. Dan transportasi yang paling praktis untuk digunakan adalah kereta komuter. Rute perjalanananku adalah dari rumah naik Mikrolet ke St. Pondok Cina, kemudian dari St. Pondok Cina naik kereta ke St. Tanah Abang, lalu naik Mikrolet lagi menuju tempat tujuanku. Perjalanan ini adalah perjalanan pagi pertama kali yang pernah kulakukan menaiki kereta menuju Stasiun Tanah Abang yang terkabar bahwa kepadatannya najubilah.
Jadi, cerita dahsyat ini dimulai pada saat aku tiba di St. Pondok Cina Depok pukul 07.00 WIB. Dari gerbang masuk, aku langsung tercengang melihat petron di stasiun ini seperti sungai manusia, terlihat padat mengisi lebar dan panjang petron. Kepala-kepala manusia di hadapanku terlihat disusun sedemikian rupa seperti kepala korek api. Dengan sedikit gugup aku terpaksa menyelipkan tubuhku di antara manusia-manusia yang tampak cemas dan kecewa itu. Aku mendengar beberapa calon penumpang mengeluh akan keterlambatan kereta. Dan beberapa orang mencaci-maki ketidak becusan para petugas dan juga pemerintah (pihak yang biasa dan sangat mudah untuk disalahkan). Aku pun akhirnya ikutan menunggu, namun tak kunjung datang.
Aku sudah menunggu hingga hampir satu jam lamanya dan aku tidak bisa menebak berapa jam waktu menunggu yang dihabiskan oleh wanita yang terus mencaci maki di sebelahku. Ia tampak murka sekaligus simpati pada orang yang mengalami hal yang sama dengannya. Perpaduan yang sangat mengejutkan yang bisa tampak dari raut seorang manusia, pikirku. Aku melirik jam bulat yang tergantung di atas petron, dan tiba-tiba jam itu tampak seperti hantu, sangat menakutkan dan memacu jantungku dengan sangat keras. Gila, aku pasti terlambat, pikirku. Ini benar-benar mengecewakan. Aku sangat gelisah, dan entah bagaimana kejadiannya, aku sudah berada di garis kuning pembatas petron saat kereta menuju Stasiun Tanah Abang akhirnya tiba.
Pintu gerbong kereta khusus wanita akhirnya terbuka tepat di hadapanku. Wajah-wajah rata tersuguhkan penuh keluh dan peluh. Kereta itu sudah penuh, tidak ada tempat lagi bagi kami bahkan hanya untuk berdiri berdesakan, pikirku. Namun, sesuatu yang tak kusangka tiba-tiba terjadi. Beberapa tangan mendorongku dari belakang. Mereka menyusupkanku dengan paksa ke dalam kereta yang sudah penuh. Dengan rok sepan dan sepatu berhak aku tergencet di antara dada dan punggung wanita-wanita lainya. Aku sedang bermimpi buruk, pikirku. Saat aku menempel pada tubuh orang-orang yang tak kukenali, untuk sesaat, semua terdengar hening dan diam. Tidak mungkin aku masuk, ini pasti hanya hayalan, atau kalu tidak, aku pasti berada tepat di pintu kereta, dan aku pasti akan tergencet pintu, aku harus turun, pikirku. Tetapi, sebelum aku sempat bergerak, aku mendengar suara pintu di belakangku tertutup klik. Matilah aku. Aku berpikir bahwa saat itu adalah perjalanan menuju neraka. Dan aku belum habis pikir kenapa aku bisa masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh manusia.
Perlahan, kereta bergerak dan akhirnya melaju. Semua orang terhimpit, mengeluh, dan berkeringat. Mereka mencoba bergerak-gerak agar mendapat sedikit ruang untuk bernasfas. Sedangkan aku, bergeming sesak nafas. Dan kami semua seperti bukan manusia saja. Kami seperti ikan hidup yang disesakkan ke dalam ember.
Kami melewati beberapa stasiun. Beberapa orang keluar dan kemudian digantikan dengan beberapa orang lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Dan setiap perhentian juga pemberangkatan, kami mengalami siksaan yang amat sangat. Jeritan terdengar di mana-mana. Kami kesakitan, terhimpit, terinjak, terbentur dan ketakutan akan segera mati karena kekurang oksigen. Sesekali aku mendapati tubuhku tidak menginjak lantai. Aku tergantung begitu saja di antara tubuh-tubuh. Betapa tidak berharganya nyawa orang-orang dalam kereta seperti ini, pikirku. Hanya demi sesuatu yang bersifat materi kami harus mempertaruhkan nyawa. Aku hampir saja menangis, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Saat kereta berhenti di salah satu stasiun, para penumpang banyak yang keluar. Kami sedikit lega, walau masih saja berdiri penuh peluh. Aku memperhatika banyak kancing kemeja yang terlepas, termasuk kemeja yang kukenakan. Dan saat aku mengancingkan atasanku, aku melihat seorang wanita tegap memasuki kereta dengan sangat paksa dan menyusupkan tubuhnya. Ia menyenggol penumpang lainnya begitu saja hingga ia bisa berada di tengah-tangah gerbong. Dan saat kereta melaju, gelombang manusia pun kembali terjadi. Kami semua oleng ke belakang. Jeritan pun kembali tedengar. Akan tetapi, diantara jeritan dan keluhan itu, terdengar sesuatu yang sangat menjijikkan. Membuatku ingin muntah saja. Wanita tegap yang menyusup ke tengah itu berteriak-teriak dengan nada angkuh luar biasa. Oh, Tuhan, ampunilah dia, doaku saat itu. Wanita itu berteriak murka, “AKU POLISI! AKU POLISI! JANGAN DORONG-DORONG DONG!!!”

Advertisements