Tentang Buah Mangga

Banyak hal yang bisa diperdebatkan, bahkan buah mangga sekalipun bisa menjadi sumber perdebatan dan kemudian menyala menjadi api pertengkaran jika kau mau. Aku suka buah mangga, tetapi aku tidak ingin berdebat tentang mangga pada penggemar buah semangka. Aku tidak berniat merusak kesenanganku pada buah ini dengan memaksakan rasa mangga menurut lidahku pada lidah orang lain. Namun jika seseorang menganggap mangga adalah buah paling menjijikkan di dunia dan ingin bertengkar dengan orang yang menyukai buah mangga, serta memiliki niat untuk memusnahkan pohon mangga hingga ke akar-akarnya, maka sebaiknya ia naik ke atas pohon mangga dan segeralah melompat.

Aku percaya bahwa pertengkaran adalah sumber bencana di dunia ini. Pertengkaran seperti wabah penyakit paling buruk, menakutkan dan mematikan sekaligus. Pertengkaran menguras air mata, mencabik hati, mencecerkan isi kepala, dan bisa membunuh tanpa ada sedikitpun belas kasih.

Jika kau tidak menyukai mangga, maka jangan dimasukkan ke dalam mulut. Jangan takut. Jika ada orang yang memintamu memakan buah mangga, maka minta dia memakan buah kesukaanmu, tetapi jangan sekalipun bertengkar. Anggap saja dia sedang ngidam. Dan yakinlah, buah yang tidak enak bagi lidahmu tidak akan membunuhmu.

Aku berpendapat bahwa orang yang suka bertengkar pada dasarnya adalah orang yang tidak bisa menilai apa yang paling berharga bagi hidupnya. Orang  yang suka bertengkar adalah orang yang tidak mengerti bahwa jiwa seseorang lebih berharga dari materi apapun di alam semesta ini. Orang yang suka memicu pertengkaran sama halnya dengan orang yang memercikkan air keras pada orang lain dengan tangannya sendiri. Kedua belah pihak akan melepuh. Keduanya akan rusak. Seperti kata pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Pertengkaran karena hal sepele adalah kebodohan paling menghancurkan dan mematikan. Bahkan hal besar sekalipun tidak seharusnya dipertengkarkan. Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik jika ada niat damai.

Jika aku menyukai mangga sedangkan saudaraku menyukai semangka, maka wajarkah aku membenci saudaraku dan bertengkar dengannya hanya karena selera kami berbeda? Wajarkah aku menembakinya dengan senjata api atau membakarnya hidup-hidup karena kami berbeda selera?

TIDAK.

Tentu saja akan terhina, memalukan dan terlihat bodoh jika kami bertengkar hanya karena berbeda selera. Aku akan memilih membuang buah manggaku jika buah itu membuat saudaraku mual dan muntah. Aku akan lebih memilih memakan daging semangka sekaligus kulitnya jika dengan begitu saudaraku nantinya akan duduk bersamaku dan menikmati buah apel berduaan denganku. Buah mangga rasanya memang sangat enak, tapi aku akan lebih memilih duduk damai dengan orang lain sembari menikmati senja dan melupakan buah mangga dan menikmati air kelap saja.

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 25 September 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: