Monthly Archives: December 2014

Orang Batak Dari Samosir Tidak Cium Tangan

Saya sering salah tingkah saat bertemu dengan orang yang lebih tua dari saya di luar Samosir. Dan yang membuat saya salah tingkah ini adalah perihal cium tangan. Mungkin hal cium tangan ini adalah perkara sederhana bagi kebanyakan orang Indonesia, namun ini sedikit janggal bagi kami orang Batak yang lahir dan dibesarkan di Samosir. Di Samosir, orang-orang hanya berjabat tangan, baik anak-anak terhadap orang tua/dewasa, antar anak-anak, atau pun sesama orang tua/dewasa. Sedangkan di luar Pulau Samosir, keadaannya berbeda. Saya tidak tahu perkara harus mencium tangan orang yang lebih tua ini awalnya dari mana (Mungkin lain waktu, kalau saya ingat, agar tahu, saya harus menanyakan orang yang dari sejak ia lahir sudah melakukan kegiatan cium tangan).

Pertama kali saya merasakan kejanggalan cium tangan ini adalah saat saya masih duduk di sekolah menengah atas (SMA) di Medan. Saya masih orang baru di kota, dan masih sangat kurang pengalaman. Saya ingat saat itu adalah awal bulan Januari, perayaan tahun baru, orang-orang Batak yang beragama Kristen biasanya berkunjung ke rumah saudara atau teman dengan membawa kue atau daging. Dan begitulah yang terjadi, saya bersama teman-teman sepermainan berkunjung ke rumah seorang teman yang orang tuanya mengundang kami untuk merayakan tahun baru di rumahnya. Saat tiba di rumah teman yang mengundang, ayah dan ibunya sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan kami. Saya adalah orang yang berjalan paling depan saat itu. Dengan senyum sopan dan raut terimakasih karena sudah diundang, saya bersalaman dengan orangtua temanku dan langsung berjalan ke arah pintu masuk. Namun, sebelum sempat memasuki rumah, peristiwa yang membuatku ingin pingsan karena merasa tak berbudaya pun terjadi di depan mata. Teman-teman yang lain menyalam dan kemudian mencium tangan ayah dan ibu dari temanku. Kiamat sudah tiba.

Saat itu saya sempat berpikir harus mengulangi kembali cara saya bersalaman, mungkin dengan memasuki kembali barisan teman-teman yang bergiliran menyalami dan mencium tangan orang tua itu akan menyelamatkan saya dari bencana akibat salah berperilaku. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, saya memutuskan untuk tidak bersalaman lagi, dan akibatnya perayaan tahun baru itu terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Saya memutuskan untuk memendam saja rasa bodoh saya karena tidak tahu perkara cium tangan itu. Saya kemudian berjanji saat itu, di tengah keramaian orang, di dekat meja-meja penuh kue-kue dan makanan enak serta minuman segar, namun yang seperti ruang penyiksaan bagi saya, bahwa saya mulai saat itu akan mencium tangan orang yang lebih tua dari saya saat bertemu.

Tetapi sayang sekali, walaupun saya sudah berjanji, hingga sekarang saya masih sering lupa untuk mencium tangan orang yang tua atau lebih tua dari saya. Akibatnya orang-orang pun sering memandang saya dengan pandangan menghina. Mereka menganggap saya tidak sopan dan kasar. Saya pernah tanpa sengaja mendengar seorang wanita berbisik kepada temannya bahwa saya tidak mencium tangan karena saya orang Batak. Saya sedikit merasa tidak enak memikirkan bahwa sterotip tentang orang Batak bersifat tidak sopan dan kasar  kini bertambah kuat karena saya lupa perihal cium tangan ini.

Namun, jika ada orang yang ingin tahu kenapa saya dan juga kebanyakan orang Batak asli yang lahir dan dibesarkan di Samosir sering lupa atau tidak mencium tangan atau melakukan cium tangan ini, maka saya akan menerangkan dari pengetahuan saya yang saya tahu masih sangat sedikit ini, namun saya rasa sudah cukup untuk menerangkan perkara ini. Budaya kami, budaya orang Batak Toba memiliki peraturan yang berbeda dari budaya lain di Indonesia, bahkan dari budaya-budaya lain yang ada di dunia ini. Mungkin ini terdengar berlebihan, namun ini memang berbeda. Bagi orang Batak, derajat manusia tidak ada yang lebih ditinggikan atau lebih direndahkan karena seseorang itu bayi atau pun seseorang itu sudah tua. Penghormatan terhadap seseorang tidak diukur oleh umur atau kasta atau kekayaan atau jabatan.

Orang Batak memiliki falsafah “Dalihan Na Tolu” yaitu “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Dalam bahasa Indonesia bila diartikan dengan sederhan maka maknanya sebagai berikut, “Somba marhula-hula” artinya keluarga pihak laki-laki harus menghormati seluruh keluarga pihak perempuan atau keluarga sang istri (dari tingkat ibu, oppung/kakek hingga seterusnya), karena telah mau memberikan putrinya sebagai istri dan memberikan keturunan dengan satu marga kepada pihak laki-laki. “Manat mardongan tubu” artinya adalah menjaga hubungan baik dengan saudara (hubungan dengan abang atau adik) dan juga dengan  kelompok satu rumpun marga, karena saudara sekandung dan satu marga adalah pihak yang diajak untuk diskusi perihal pelaksanaan adat dan juga nantinya merupakan panitia pelaksana adat, maka persaudaraan yang dijalin dengan baik akan otomatis menghasilkan pelaksanaan adat yang baik. Serta “elek marboru” bermakana harus mengasihi saudara perempuan, karena saudara perempuan dari sebuah marga akan menjadi pihak yang sibuk membantu saudara laki-lakinya dalam upacara adat.

Maka, setiap laki-laki pada hakikatnya, dalam adat batak, memiliki 3 status yang berbeda dalam dirinya. Dia bisa berada dalam posisi pihak yang menghormati atau dihormati, atau menjaga hubungan, atau dikasihi atau mengasihi dalam satu upacara adat. Jadi, inilah akar dari sering lupa atau bahkan tidak pernah orang Batak Toba dari Samosir seperti saya ini melakukan cium tangan (salim) kepada orang yang lebih berdasarkan umur atau jabatan atau kedudukan dari dirinya. Kami dididik untuk tahu terlebih dahulu apa status/posisi yang harus kami perankan, apakah kami adalah pihak yang menghormati atau dihormati? Apakah kami pihak yang harus mengasihi atau dikasihi? Ataukah kita sejajar? Dan ini hanya bisa diketahui berdasarkan marga atau persaudaraan.

Dalam suku Batak, seseorang bisa saja memanggil orang yang lebih muda dari umurnya dengan sebutan abang/kakak, seorang perempuan tua bisa saja memanggil anak laki-laki berumur 5 tahun dengan panggilan oppung/kakek, orang yang berjabatan tinggi atau berkedudukan tinggi dalam pemerintahan bisa menjadi pelayan dalam satu upacara adat, orang yang kaya-raya harus menghormati pihak keluarga istrinya walau mungkin keluarga istrinya itu adalah keluarga yang paling miskin sedunia. Semua tergantung status marga dan hubungan persaudaraan. Jadi, mohon dimaklumi jika kami sering lupa atau tidak mencium tangan orang yang lebih tua, karena kami memang tidak terlatih dan tidak biasa melakukan hal seperti itu. Ini bukan karena orang Batak bersifat kasar atau tidak beradat atau tidak berbudaya, namun karena adat-istiadat budaya kita berbeda. Itu saja.

Cabai dan Cabayes

cabaiiCabayes adalah seorang pahlawan cabai. Ia bahkan dianggap sebagai tuhan oleh beberapa orang penggemar pedas. Dulu, Cabayes bernama Samsuri, namun karena ia mengorbankan hidupnya demi rasa pedas, maka orang-orang memanggil dia dengan panggilan “Tuan Cabai”, dan saat ia dipanggil seperti itu, ia akan menjawab “yes?”. Begitulah sejarah namanya. Karena orang-orang gemar memanggil pahlawan mereka dengan panggilan khusus yang unik dan mudah diingat, maka Samsuri si pahlawan pedas, sekarang berubah nama menjadi Cabayes. Read the rest of this entry