Cabai dan Cabayes

cabaiiCabayes adalah seorang pahlawan cabai. Ia bahkan dianggap sebagai tuhan oleh beberapa orang penggemar pedas. Dulu, Cabayes bernama Samsuri, namun karena ia mengorbankan hidupnya demi rasa pedas, maka orang-orang memanggil dia dengan panggilan “Tuan Cabai”, dan saat ia dipanggil seperti itu, ia akan menjawab “yes?”. Begitulah sejarah namanya. Karena orang-orang gemar memanggil pahlawan mereka dengan panggilan khusus yang unik dan mudah diingat, maka Samsuri si pahlawan pedas, sekarang berubah nama menjadi Cabayes.

Cabayes lahir di sebuah pedesaan yang sangat terbelakang. Di desanya, orang-orang hidup seperti lumut di atas batu, situasi hidup yang kacau balau. Mereka segan untuk hidup, namun untuk mati mereka tidak mau (jika tidak ingin dikatakan bahwa mereka tidak tahu caranya untuk mati). Penduduk di desa Cabayes tidak pernah tahu apa artinya kenyang. Semua orang seperti tulang-belulang yang memiliki nafas, bergerak lamban dan bersuara pelan seperti cicitan tikus. Mereka hidup dalam kelaparan dan kesenduan, walau begitu, mereka sangat taat dengan peraturan keagamaan.

Cabayes kecil selalu berdoa setiap pagi di bawah pohon cherry di belakang rumahnya. Ia tekun meminta kepada pemilik kekuatan yang tidak tampak, yang dipanggilnya tuhan, agar kelak saat ia dewasa ia ditempatkan jauh dari orang-orang yang tampak seperti hantu yang berkeluyuran seperti di desanya ini. Dan (mungkin) karena ketaatan dan kemauan keras Cabayes, ia pun di tempatkan tuhan jauh dari desa tempat ia dilahirkan. Ia diajak oleh seseorang yang dipanggilnya paman ke sebuah kota. Ia diberi pekerjaan sebagai tukang tambal ban, pekerjaan yang membuat Cabayes semakin tekun untuk berdoa dan berbuat baik. Cabayes mengucap syukur setiap hari dan tidak pernah lupa tersenyum untuk menunjukkan bahwa hidupnya penuh berkat yang tidak putus-putus. Namun, sesuatu hal terjadi. Otak cabayes tiba-tiba berfungsi seperti otak orang yang tahu membaca. Ia memikirkan sesuatu, sesuatu yang akan disebut sebagai sebuah dosa oleh orang-orang yang tinggal di desa kelahirannya.

Kejadian itu terjadi saat Cabayes berada di sebuah warung makan Padang. Ini adalah pertamakalinya Cabayes menyicipi makanan enak dan bisa merasa kenyang. Ia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa saat rasa pedas yang sangat pas dengan daging sapi empuk, menyentuh lidahnya. Sebuah rasa yang membuatnya ingin menangis karena terharu oleh rasa bahagia. Cabayes kemudian berpikir (ini adalah pikiran bebas yang pernah ia miliki untuk pertama kalinya dan mungkin terakhir kalinya) bahwa ada sesuatu yang lebih dahsyat dari rasa sendu, yakni rasa pedas. Ia memutuskan saat itu juga untuk mencari tahu tentang asal usul pedas, segala yang berhubungan dengan rasa itu dan bagaimana mengolahnya agar nikmat di mulut. Dan begitulah awalanya, hanya selama sepuluh hari Cabayes mencari tahu dan kemudian ia sudah menjadi pahlawan cabai.

Cabayes mengungkapkan pendapat-pendapatnya tentang cabai, asal usul cabai, kandungan cabai, bagaimana cabai bisa mengeluarkan rasa pedas, bagaimana cabai bisa membuat seseorang menjadi pintar dan berani, hingga bagaimana cabai berperan dalam pergerakan alam semesta. Ia mencampur semua makanan dengan cabai. Bubur cabai hijau, pisang goreng cabai, nasi merah cabai bombay, pai cabai, spageti cabai level sepuluh, dan bahkan ia mencampur minuman-minuman dengan cabai. Ia meminum susu dengan saus cabai setiap pagi dan kebiasaanya ini sangat menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Kata Cabayes, susu yang dicampur dengan cabai terbukti menjernihkan pikiran, membuat tubuh segar, serta memutihkan gigi.

Akhirnya, semua tindak-tanduk yang berhubungan dengan cabai ini membuat Cabayes terkenal. Ia sering muncul di TV, menghadiri rapat penting para penemu, mendapat piala penghargaan sebagai pemuda yang sangat kreatif dan inspiratif, mengadakan seminar-seminar di kampus-kampus, dan dia memiliki berbagai akun sosial media yang ditangani oleh admin bergelar sarjana komunikasi dan memiliki follower yang sangat luar biasa banyaknya.

Cabayes dipuja-puja oleh penggemarnya. Cabayes besar kepala. Ia mengingini kekuasaan. Ia mengingini sesuatu untuk dikekang. Ia mengumumkan bahwa setiap makanan yang tidak dicampur dengan cabai adalah sebenar-benarnya makanan haram. Awalnya ia menjalankan peraturan tentang segala hal tidak boleh terpisah dari cabai ini di desa tempat kelahiranya, yang saat ini telah mempercayai bahwa Cabayes adalah nabi. Di desa itu kalender harus bergambar cabai, motor harus berwarna merah seperti cabai, dan semua kegiatan, baik tentang hal-hal praktis, harus dilakukan dengan persetujuan Cabayes serta cabai tidak boleh lepas dari hal-hal itu. Singkat kata, cabai harus ada pada dan dalam segala hal dan Cabayes adalah nabi.

Cabayes tidak puas hanya dianggap nabi, ia tidak lagi menyukai pedas, ia sudah bosan dengan rasa itu. Ia kini diam-diam membenci cabai. Gambar cabai ada di mana-mana, tapi tidak dengan dirinya. Ia membenci cabai. Ia iri pada cabai. Cabai kini berfoto dengan model-model sexy. Ia ingin sekali memusnahkan cabai. Cabai kini lebih dikagumi daripada dirinya. Cabayes murka. Cabayes akhirnya bunuh diri.

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 3 December 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: