Balas Dendam

samurai-swordAku membayar kopi, membereskan barang-barang bawaanku, dan melanjutkan perjalanan. Walau sudah tiga tahun berlalu, namun sama sekali tidak ada yang berubah dengan tempat ini. Warung-warung di pinggir jalan masih saja tampak kumuh dan kumal. Dinding kayu yang sudah menghitam belum di cat ulang dan tulisan-tulisan menu di bagian depan warung masih saja kehilangan beberapa huruf. Aku penasaran, apakah tidak pernah ada orang yang mengeluh dengan tulisan itu? Apakah pembeli tidak pernah memesan “asi goreng”, hingga pemilik warung akhirnya berniat memperbaiki daftar menu mereka? Ataukah orang-orang itu sama seperti aku, membiarkan saja?

Hujan yang baru saja berhenti meninggalkan genangan air di lobang-lobang menganga di tengah jalan. Aku mengenakan topiku, melepas gulungan celana, dan mengancing jaketku, namun tetap saja udara masih terasa sangat dingin menusuk tulangku. Aku terus berjalan menelusuri jalan becek, mengabaikan tatapan penasaran orang-orang yang berpapasan denganku, dan berusaha tetap tenang dengan pedang samurai di tanganku. Tidak akan ada orang yang mengenaliku dan tidak akan ada yang akan berani bertanya. Sudah kukatakan sebelumnya, sama sekali tidak ada yang berubah dengan tempat ini. Tidak akan ada kecurigaan, yang ada hanya sedikit rasa penasaran, rasa penasaran yang akan mereka lupakan setelah aku hilang dari pandangan. Kau lihatlah, bahkan pohon nangka di persimpangan jalan di hadapanku ini masih tampak sama seperti pertama kali aku melewatinya tiga tahun lalu. Pohon nangka ini seperti kehilangan kemampuan untuk bertambah tinggi ataupun bertampah tua.  Pohon itu tampak seperti laki-laki menjijikkan yang baru saja kubuat terbujur kaku tak bernafas.

Walau lampu-lampu kini menyala, namun jalanan tetap remang. Orang-orang tampaknya sangat kompak, mereka semua hanya memasang bolam lampu kecil murahan. Aku berbelok ke arah kanan, melewati jembatan darurat yang hanya terbuat dari papan-papan sisa banguna. Sepertinya, jembatan di atas kali ini dibuat hanya untuk memperpendek perjalanan dari stasiun kereta api menuju jalan raya. Papan kayunya disusun berbaris menyerupai lantai rumah panggung, dan jika tubuhku ini melompat-lompat di atasnya, jembatan ini pastilah akan runtuh. Dua orang wanita berjalan di hadapanku, satu berjalan pincang dan yang satunya lagi, yang berbadan lebih mungil dengan baju polkadot, berjalan normal, tetapi ia tampaknya menunjukan raut wajah simpati serta berusaha menyamakan langkahnya tetap pendek-pendek mengikuti wanita di sampingnya.

Jalan raya sangat ramai. Jamku menunjukkan pukul 18.10.

Aku menaiki angkot biru, dan duduk di bangku tempel dekat pintu. Semua penumpang adalah perempuan, kecuali aku. Walau hanya selintas saja, namun aku bisa merasakan bahwa mereka menatap samurai di tanganku dengan penasaran yang tertahan. Namun kukatakan sekali lagi padamu, orang-orang sama saja, baik perempuan atau laki-laki, baik penumpang kereta maupun penumpang angkot, bahkan satpam yang bertugas menjaga apartemen si laki-laki tua bangka, yang mungkin mayatnya akan ditemukan besok atau lusa, pun sama sekali tidak menanyakan perihal samurai yang kubawa di tanganku. Kau tahu, samurai terlalu sulit untuk dibicarakan. Aku bukan bermaksud mengatakan bahwa pedang jenis ini sangat sakral seperti tuhan, hingga membuat orang-orang menjaga mulut dan pikiran masing-masing terhadap benda ini. Tetapi aku hanya ingin memberitahumu bahwa sesuatu yang tidak kau pahami atau tidak kau kenali dengan pasti, akan membuatmu menjaga mulut. Jika seseorang di dalam angkot ini mengenali samurai, dia pastilah bertanya sesuatu.

“Apakah itu samurai?”

“Apa?”

“Yang ada di dalam sarung, apakah itu samurai?”

“Iya. Kau tahu tentang ini?”

“Hanya sedikit. Kakakku pernah mempelajarinya. Ia menceritakan beberapa hal tentang samurai padaku. Apakah kau baru saja berlatih?”

“Tidak. Maksudku, iya aku baru saja pulang berlatih, hanya saja itu tadi pagi. Kakakmu belajar di mana?”

“Tidak tahu. Ia hanya mengatakan hal-hal dangkal tentang samurai. Lagi pula, ayahku sudah mengirimnya ke luar negri dan memaksanya bersumpah untuk tidak pernah memegang pedang itu lagi.”

“Kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa ayahmu memaksanya bersumpah?”

“Kakakku berubah. Ia lebih pendiam dan berperilaku amat sangat tenang. Lebih tenang dari telaga kecil di malam hari yang damai tak berangin. Jenis ketenangan yang menimbulkan ketakutan. Kami bahkan tidak mampu lagi menyadari keberadaannya di rumah. Ia berjalan seperti kucing jantan hitam, melangkah ringan tanpa suara sedikitpun. Oh, ia bahkan mirip denganmu, bertubuh kurus dan tidak terlalu tinggi. Ia juga sering mengenakan baju merah dengan celana hitam.”

“Apakah hanya itu alasan ayahmu untuk memisahkan kakakmu dengan samurai?”

“Sebenarnya ada alasan yang lebih rumit. Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

“Apakah orang tuamu mendukungmu, atau berusaha menjauhkanmu dari samurai seperti yang dilakukan ayahku?”

“Aku tidak punya orang tua.”

“Benarkah? Aku minta maaf.”

“Bukan salahmu.”

“Sebenarnya aku sangat penasaran denganmu, tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu, jika kau ingin mendengar.”

“Aku ingin mendengarnya.”

“Jika nanti seseorang melukai orang yang kau cintai, aku mohon padamu, atas nama seorang adik perempuan dari seorang laki-laki yang menguasai pedang yang sama denganmu, jangan pernah menggunakan samurai untuk membalas dendam. Jangan pernah membalas dendam.”

“Akan kuingat.”

“Baiklah, aku sudah sampai. Senang berbincang denganmu. Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 6 March 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: