Bertahan, Bayi Kecil!

SF: Google

SF: Google

Tubuhku gemetar meraba-raba kegelapan. Kupikir, jika aku menutup mata, akan sama saja. Jika aku terjatuh ke dalam jurang, paling-paling mati saja. Namun apakah kematian datang semudah itu? Tidak. Kau tahu, minggu lalu sepupuku tertabrak mobil. Kedua kakinya remuk, tangan kanannya patah, wajahnya tak berbentuk lagi, dan ia tidak sadarkan diri selama enam hari, tapi ia tidak mati, malah semakin membaik.

“Kau pikir kau siapa? Kau tidak punya hak mengatur hiduku”. Perkataan Andri melintas lagi, seperti guntur di siang bolong. Guntur di siang bolong? Aneh sekali rasanya memikirkan siang bolong di tengah malam.

Air hujan ini sangat bandal, semakin lama semakin deras saja. Aku muak. Apakah hujan tidak mengerti keadaanku? Tentu saja tidak, tidak mungkin ada yang mengerti. Bagaimana mungkin aku mengharapkan hujan untuk mengerti? Aku pasti sudah gila.

“Oh, bukankah itu suara derik ranting? Apakah itu si pohon tua?”

Sepertinya aku berada di bawah pohon tua sekarang. Aku harus cepat melangkah. Pohon itu seharusnya dirawat, paling tidak, ranting-rantingnya yang menjorok ke arah jalan, dipotong saja. Jika rantingnya patah dan menimpaku, siapa yang akan menolongku? Siapa yang akan disalahkan? Apakah nanti aku akan menyalahkan si pohon tua? Tidak mungkin, itu tidak sopan. Pohon tua tidak boleh disalahkan, sama halnya dengan orang tua.

Jalan di depanku gelap sekali. Seharusnya pemerintah tidak boleh pelit dan malas seperti itu. Bukankah satu lampu jalan di jalur ini sudah cukup? Itu sangat mudah, hanya di pasang satu bolam di tiang listrik di samping gubuk dekat jembatan, maka jalan ini akan terang, atau paling tidak remang.

Kenapa mereka tidak memikirkan hal-hal seperti yang kupikirkan? Jika aku pemerintah, aku juga akan membuat trotoar di sini, dan membangun sebuah rumah penampungan di sana. Anak-anak terlantar dan wanita yang diterlantarkan seharusnya ditampung. Tapi apa boleh dikata, aku bukan pemerintah dan mereka tak pernah berpikir seperti caraku berpikir.

“Ah, aspal di bawah kakiku sangat dingin sekali. Seharusnya aku mengenakan sandal. Bodoh sekali.”

Apakah kau bisa merasakan itu? Pepohonan serta semak-semak di sekitarku sedang mengamatiku.

“Mengamatiku?” Akan lucu sekali jika mereka memiliki wajah dan mengamatiku.

“Akan ditaruh di mana? Di ujung paling atas pokok, atau di tengah saja?” Aneh sekali.

 Aku melangkah pendek-pendek, kakiku berat dan sulit digerakkan, seperti dilengketi permen karet, berusaha tetap menempel pada bumi dan berusaha tak keluar dari jalur.

“Oh, sebentar, seingatku pepohonan memiliki wajah.”

Saat aku kecil, aku pernah melihat pepohonan berbincang-bincang di pinggiran ladang milik pamanku, pamanku yang sudah mati bunuh diri tiga tahun lalu. Ia lebih memilih mati saja ketimbang hidup bersama istri dan anak-anaknya yang pendiam. Pepohonan itu membincangkan kabar yang terbawa angin sehari sebelumnya. Kabar itu tentang ayahku yang akhirnya memiliki seorang anak di seberang pulau tempatnya merantau.

“Tapi aku tidak ingat lagi wajah mereka ada di bagian mana. Mungkinkah di dekat akar?”

Bagaimana jika malam ini para pohon buka mulut? Apakah mereka akan bertanya tentang kewarasanku? Apakah mereka akan memberitahuku bahwa saat ini, di balik punggung mereka, ada sesuatu yang diam-diam mengamatiku?

Namun tidak apa-apa jika itu terjadi. Ini bukan masalah bagiku, malah akan lebih baik jika ada yang sedang mengamatiku sekarang. Bukankah itu artinya aku tidak sendirian di hujan badai malam ini? Oh, tentu saja aku tidak sendiri.

“Aku lahir di ujung jalan sana,”

“Di mana?”

“Di dekat perempatan, sebelah kanan dari sini.”

“Rumah tempatku lahir tidak besar, tidak juga kecil, rumah itu sangat menyenangkan untuk dihuni. Berkat kiriman uang dari ayahku, keluargaku selalu cukup makan. Kami memiliki sebuah sepeda motor berwarna merah. Saat aku masih gadis dan bekerja sebagai tenaga honorer, adikku yang paling bungsu, anak keempat ibuku yang tanganya bengkok, biasanya mengantarkanku dengan motor merah itu ke kantor camat yang bangunannya masih saja terbuat dari papan kayu, yang walaupun bangunan-bangunan di sampingnya sudah terbuat dari beton.

“Aku tidak bisa mengerti mengapa orang-orang senang mempertahankan hal-hal yang sudah ketinggalan jaman. Jika kita sudah menemukan yang baru yang lebih baik dan berguna, bukankah sebaiknya kita menggunakan yang baru itu saja?”

“Begitu menurutmu?”

“Ya, aku berpikir seperti itu. Sesuatu yang sudah ketinggalan jaman dan kurang bermanfaat sebaiknya digantikan oleh sesuatu yang baru yang lebih masuk akal dan berguna. Kau setuju tidak?”

“Hmmm…”

“Bukankah ini malam Jumat? Seharusnya para hantu berkeliaran di sini. Apakah para hantu masuk ke dalam kubur mereka? Apakah para hantu menghindari hujan, seolah mereka takut menjadi basah dan dingin?”

Genangan air yang sudah setinggi mata kakiku mengalir dengan serpihan-serpihan. “Apakah menurutmu aku bisa tetap dalam jalur walau aku tidak bisa melihat dalam gelap?”

“Tentu saja bisa. Dulu, kau selalu melewai jalan ini saat masih sekolah. Tidak ada yang berubah hingga sekarang. Tidak ada perluasan atau jalur yang baru di jalan ini.”

“Kau benar. Bagaimana dengan lobang? Ahh!!!”

“Oh, apakah kau baik-baik saja?”

“Aku terjerembab. Kakiku sakit sekali.”

“Seharusnya aku memperingatkanmu tentang lobang-lobang. Maafkan aku.”

“Tidak usah minta maaf, aku memang selalu sial hari ini.”

Lubang penuh genangan air telah mematahkan kaki kiriku dan membenturkan perutku ke aspal dingin.

“Aku tidak jatuh ke dalam jurang, tidak juga tertimpa batang pohon, namun lobang ini yang membuatku terjatuh. Ini sudah cukup untuk menghentikanku malam ini.”

“Aku prihatin padamu.”

“Kenapa aku tidak mati saja?”

“Kau siapa? Kenapa ingin mati?”

“Aku wanita yang menikahi lelaki pemuja minuman dan aku kini sedang mengandung.  Laki-laki itu pilihan orangtuaku. Kau tahu tidak? Aku ini pesakitan. Seluruh tubuhku sakit, begitu juga batinku. Tidak ada orang yang mau mendengar pendapatku, tidak juga memperhatikanku deritaku.”

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku seorang ibu rumah tangga.”

“Ibu rumah tangga?”

“Oh, yang benar saja. Apakah kau percaya padaku? Oh, tentu saja tidak. Bukankah aneh sekali jika kau bisa percaya padaku? Baiklah aku akan jujur padamu, karena sepertinya malam ini akan sangat panjang. Tidak bijak jika aku  harus membohongimu.”

“Terserah kamu saja. Jika kau ingin berbohong, berbohonglah. Asal kau senang.”

“Aku sangat kedinginan. Aku merasakan sesuatu sedang mengalir keluar dari dalam tubuhku.”

“Bangun!”

“Aku selalu menipu diriku sendiri demi orang lain. Aku tidak lagi akan merasa senang kalau harus berbohong. Aku lelah sudah berbohong terus. Malam ini aku akan berkata jujur padamu.”

“Bangun!”

“Sebenarnya, aku masih ingin menjadi ibu rumah tangga. Kau tahu tidak, sekarang ini aku sedang dalam proses? Lucu sekali kan? Aku sedang belajar menjadi seorang ibu, sekaligus belajar sebagai istri yang penurut. Aku berharapa bahwa suatu saat nanti, jika aku bertahan, aku akan menjadi ibu rumah tangga telaten dengan anak-anak yang berhasil menjadi pegawai negeri, dan kalau bisa, aku akan selalu mendampingi suaminku ke pesta pernikahan. Mungkin akan menarik juga jika aku kelak menjadi pemimpin kelompok paduan suara di gereja di kaki bukit itu.”

“Bangun!”

“Hujan ini sepertinya senang sekali membasahiku, sekan aku ini adalah seonggok daging tak bernyawa yang membutuhkan bantuan untuk pembusukan di tengah kegelapan.”

“Bangun!”

“Bukankah menurutmu hujan ini terlalu lebat dan dingin? Seharusnya, jika aku adalah Tuhan… jika aku adalah Tuhan? Pikiran apa itu? Aneh sekali malam ini. Aku memikirkan banyak hal-hal aneh di kepalaku.”

“Bangun!”

“Apakah menurutmu aku ini sudah gila?”

“Tidak, kau tidak gila. Malah sebaliknya. Menurutku, kau akan terlihat aneh jika kau tidak berpikir seperti itu malam ini. Jangan berpikir seperti itu lagi. Dan sekarang, kau harus bangun.”

“Kau baik sekali tidak menganggapku gila. Terimakasih.”

“Bangunlah!”

“Jika aku jadi Tuhan, maka malam ini aku akan menurunkan salju dari langit. Kudengar, salju akan tampak indah saat jatuh melayang ke bumi. Jika salju turun, maka kepingan putih kecil itu akan lembut menyentuh wajahku. Tidak akan seperti butiran hujan ini.”

“Jika kau adalah Tuhan, maka untuk apa lagi kau berbaring di sini?”

“Oh, kau benar sekali. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu?”

“Itu dikarenakan kepalamu sedang memikirkan banyak hal aneh. Bangunlah, jangan tidur terendam seperti itu. Kau ingin pergi, bukan? Katakan, kau ini mau kemana? Cepatlah, lanjutkan perjalananmu!”

“Tidak tahu. Mungkin ke rumah ibuku.”

“Apakah menurutmu ibumu akan menerimamu?”

“Tentu saja dia menerimaku. Kenapa kau bertanya begitu?”

Apakah ibuku akan menerimaku? Bagaimana mungkin ibuku tidak menerimaku? Setelah aku dinikahkan, serta orangtuaku menerima mas kawin, apakah aku tidak lagi berhak pulang ke rumah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan? Aneh sekali jika itu benar.

“Berapa lama lagi kau akan berbaring seperti itu? Bukankah kau merasa kedinginan?”

“Selama aku bisa. Selama aku mau.”

“Bayi dalam kandunganmu bisa saja membeku bersamamu.”

“Biarkan saja membeku. Bukan urusanmu! Kau pikir kau siapa? kau tidak berhak memerintahku! Biarkan aku membeku bersam bayiku. Itu bukan urusanmu! Apakah kau dengar? Itu sama sekali bukan urusanmu!”

“Kumohon, jangan berkata begitu. Bangunlah!

“Oh, lihatlah air hujan ini! Ternyata hujan ini adalah berkah bagiku dan bayiku. Rasanya asin.”

“Hujan itu membasuh air matamu?”

“Hujan membasuh air mata.”

“Kalau begitu, hujan bisa juga membasuh jiwa-jiwa yang terluka. Jadi, bangunlah sekarang juga.”

“Apa maksudmu dengan hujan membasuh jiwa-jiwa?”

Aku tidak mendengar jawaban.

“Kau di mana? Aku tidak bisa melihatmu.” Apa yang menjalar di ujung kakiku itu?

“Apakah kau hantu?”

Aku sudah menunggu, namun sama sekali tidak mendapat jawaban. “Baiklah, aku mengerti kenapa kau tidak ingin berbicara lagi. Sebaiknya aku menggerakan badanku sekuat tenaga. Seperti ini, bukan?” Aku meremukan pergelangan kaki kiriku dan menjejakkan kaki kananku di atas aspal. Oh, sakit sekali. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.

“Ini sakit sekali. Aku ingin berbaring dan berbincang saja. Apakah bosan berbicara denganku?”

Aku sama sekali tidak mendapat jawaban. Hanya ada suara hujan ini dan suara air mengalir di sekitarku. Dari kejauhan, aku hanya bisa mendengar suara ranting patah, mungkin itu ranting si pohon tua.

“Baiklah, kau pergi saja! Aku pulang sekarang.”

Ucapanku ini aneh sekali rasanya. Kenapa aku berpamitan pada sosok yang sudah terlebih dahulu meninggalkanku? Apakah aku sudah gila sekarang. Oh tidak, aku tidak gila, aku hanya banyak pikiran saja.

Apakah aku mampu menelusuri kembali malam ini? Aku merasakan seluruh tubuhku sakit sekali. Kaki kiriku tidak bisa kugerakkan. Melangkah perlahan dengan kaki kananku pun menyakitkan sekali. Sangat sulit menyeimbangkan tubuh. Jika aku menyeret tubuhku, maka sakitnya akan mematahkan gigiku.

Oh, bisakah kau merasakan bayiku? Bayi dalam perutku kini dingin dan diam saja. semoga dia tidak apa-apa. Aku akan pulang.

“Bertahanlah bayi kecil! Kita akan kembali pulang, pulang ke rumah bapakmu. Kita pulang ke rumah lelaki pilihan ibuku. Bertahanlah! Kita pulang, bayi kecil! Jangan diam begitu saja.”

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 8 March 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: