Monthly Archives: July 2015

Kenangan Sunyi dari Samosir

memoriiSaat aku mengingat kembali pada masa kanak-kanak di Samosir, yang pertama kali selalu hadir dalam kepalaku adalah ingatan tentang sebuah perkampungan mati di tengah hutan. Tempat itu sudah ditinggalkan dan mungkin sudah dilupakan oleh orang-orang yang pernah tinggal di sana, namun tidak denganku.

Perkampungan itu berada di sisi salah satu jalan tikus berbatu menuju sekolah dasar yang berada di kaki bukit tempatku menimba ilmu. Aku tidak tahu nama perkampungan itu, sama halnya dengan ketidaktahuan-ku pada nama pulau yang kutempati hingga aku berusia remaja, jadi aku menamainya sendiri dengan perkampungan hantu. Di perkampungan hantu masih berdiri beberapa rumah tradisional batak yang hampir ambruk. Dinding-dinding kayunya yang mulai membusuk dan terkoyak di beberapa sisi tampak seperti luka besar yang tak akan pernah bisa disembuhkan. Atapnya, yang terbuat dari ijuk seperti rambut yang lama tak dicuci dan tak disisir, ditumbuhi alang-alang serta beberapa jenis rumput liar lainnya. Ironinya, saat musim berbunga, rumput-rumput itu akan memekarkan bunga yang berwarna-warni, seperti sebuah keindahan yang sedang memahkotai rumah bobrok hitam dan suram bagi para hantu kenangan.

Perkampungan ini benar-benar membuat merinding. Saat melewatinya, aku selalu saja merasakan hawa kemurungan, kesepian, kerinduan dan rasa takut yang berhembus dari pintu-pintu dan jendela-jendela rumah-rumah yang tak berdaun. Dan tempat inilah yang seakan menjadi wadah dari kenangan-kenangan lainnya dalam ingatanku, seperti bebatuan kenangan yang bertumpuk-tumpuk dalam keranjang yang juga terbuat dari kenangan-kenangan merana dari masa lalu.

Mungkin akan terdengar aneh bagi orang-orang yang tidak pernah lama tinggal di Samosir, bahwasanya aku menggambarkan pulau itu sebagai pulau yang kering dan berdebu. Walau kenyataannya Samosir ditumbuhi tumbuhan hijau dan dikelilingi air danau Toba yang melimpah berwarna biru, tempat itu tetap saja gersang dalam ingatan masa kanak-kanakku.

Di masa kanak-kanakku, aku hanya merasakan bagian dari kehampaan pulau itu, sama sekali tidak ada keindahanya (Keindahan Samosir baru kusadari setelah aku mengunjungi beberapa tempat yang dikatakan orang-orang sebagai tempat wisata yang indah, namun tidak begitu indah di mataku. Mungkin inilah alasan mengapa aku sulit terpuaskan oleh keindahan alam lainya, karena aku sudah hidup lama di tengah-tengah keindahan yang tak pernah kusadari).

Saat aku kanak-kanak, pulau itu tidak memiliki sesuatu yang mampu memberikan kepuasan bagi seorang anak perempuan sepertiku. Di pulau itu tidak ada toko penjual boneka, mainan untuk memasak, buku-buku bergambar, permen-permen, ataupun kue-kue manis. Sama sekali tidak ada taman yang kusus untuk bermain bagi anak-anak. Aku hanya memandangi langit yang tinggi, air danau yang biru dan kadang abu-abu, tumbuhan di mana-mana, pelangi di atas bukit atau danau jika turun hujan dan berhenti di siang hari, hewan-hewan, serta bukit-bukit hijau di sekelilingku, hingga membuatku merasa muak tak tertahankan di penghujung hari. Tidak banyak hal yang terjadi di sana. Kehidupan orang-orang berjalan seperti diulang-ulang tiap harinya.

Setiap kali mendengar para wisatawan mengagumi keindahan Samosir dan Danau Toba dan mengatakan bahwa aku sangat beruntung lahir dan dibesarkan di tempat itu, aku selalu berkata dalam hati, “Andai kau sekali saja pernah mencicipi hidup di sini!”

Bukan karena aku menyesali bahwa alam ini telah menempatkanku di Samosir, malahan aku bersyukur untuk kenangan suram itu, aku hanya berpikir, mungkin banyak orang yang sepertiku, seperti orang-orang yang pernah tinggal di perkampungan hantu, bahwa manusia sebenarnya memang HARUS selalu bergerak, berpindah-pindah, menemukan tempat-tempat baru agar bisa bersyukur atas kehidupan yang sesungguhnya sangat indah dan baik.