Monthly Archives: August 2015

Depresi

Depresi tidak sama dengan sedih
Sedih dapat kau obati dengan menangis
Depresi hanya menjatuhkanmu ke dalam mati
Depresi mengajarimu bahwa tidak seorang pun di dunia ini lebih buruk dari keadaanmu
Depresi membisikkan padamu bahwa tak seorang pun yang menginginkanmu
Bahkan ibumu tidak lagi mencintaimu

Depresi menarikmu ke sumur penyesalan
Mengatakan bahwa semua hal buruk adalah tanggungjawabmu
Depresi menjauhkanmu dari sanak keluarga
Mengatakan bahwa mereka tidak layak untukmu
Depresi memenjarakanmu dalam ketiadaan
Ketiadaan harapan dan cinta

Depresi membuatmu menggeliat
Menggeliat minta mati
Depresi merenggutmu dari Tuhanmu
Mencabik segala harapan yang pernah ada dalam dirimu

Depresi mengatakan padamu bahwa impianmu adalah hal konyol
Cita-citamu adalah sampah
Depresi menginjakmu, melumatmu hingga menyatu dengan kehinaan
Depresi mengatakan padamu tidak ada hal baik di masa depan
Depresi membisikanmu bahwa tidak akan ada bantuan dari mana saja

Depresi memenuhi gelas kopimu dengan air mata
Depresi menggali kuburmu di kamarmu sendiri, mengatakan tidak ada orang yang sependeritaan denganmu
Depresi merenggut ingatanmu tentang masa lalu dan masa kini, hingga bayangmu hilang dari cermin
Depresi mengatakan bahwa ingatan akan masa-masa indah di masa lalu hanyalah fatamorgana
Depresi meneriakimu agar kau mati saja
Karena depresi tidak menginginkanmu ada

Advertisements

Bunga Kuning

Hari ini aku harus ke pasar. Bunga-bunga akan banyak bertebaran di dalam got di belakang toko. Aku sangat suka bunga berwarna kuning dengan kelopak tebal. Selain mudah ditebak, bunga kuning biasanya tidak terlalu layu seperti bunga-bunga lain yang dibuang para pedagang ke dalam lumpur.

“Hey, Jo! Cari bunga lagi?”

“Ya. Benar. Asal kau tahu saja, aku punya kekasih baru,” jawabku kesal. Lelaki yang baru menyapa aku adalah penjual ikan di pasar ini. Dia itu bau sekali, lebih bau dari lumpur got. Tetapi bukan itu yang membuat aku  sangat tidak menyukainya. Sifat pelit dan panggilan dia untukku yang tidak kusukai. Dia memanggil aku “Jo”, dari Hijou (Hijau). Kata dia, bunga-bunga kuning milikku berwarna hijau dan aku pantas dipanggil “Hijo” karena bunga itu. Ia tidak pernah memberi uang sepeser pun walau aku memohon hingga kakiku sakit karena terlalu lama berdiri di samping meja ikannya yang bau busuk.

“Baiklah, semoga kau beruntung mendapat bunga hijau untuk kekasih barumu!”

“Terimakasih!” Sebenarnya, aku tidak pernah menginginkan ucapan dan harapan dari dia. Perkataannya membuat aku muak.

“Hey, Bob! Apakah jaket kuning itu sudah kau buang?”

“Sudah!” kataku sambil lalu. Perempuan ini lagi. Aku tidak pernah memiliki jaket berwarna kuning. Kuning hanya cocok untuk bunga. Dan perempuan ini selalu saja bertanya hal yang sama. Jika dia tidak pernah membantuku melepas celana hijau yang hampir memotong pergelangan kakiku, maka aku tidak akan mau berbicara dengan dia.

“Bagaimana degan luka itu, apakah sudah membaik?” teriaknya lagi dari kejauhan.

“Sudah!” kataku pelan. Dia sepertinya ingin selalu memberitahu pada semua orang bahwa aku pernah berada di tahap paling rendah. Dia ingin mengatakan bahwa jika saja dia tidak membantuku, maka sudah mati lah aku. Orang-orang memang senang sekali memamerkan bantuan yang sudah mereka berikan. Tapi dia itu lebih menjijikkan lagi. Dia pamer untuk satu kebaikan saja, memamerkannya setiap hari, membicarakannya berulang-ulang seolah dia baik setiap saat. Kau tahu, sesuatu yang terselubung? Begitulah dia berperilaku. Aku memperingatimu, jangan dekat-dekat dengannya, apalagi sampai meminta bantuan! Dia memanggilku “Bob” karena rambut di kepalaku kini merekat seperti akar-akar berlumpur.

“Hey, Jaka! Aku dengar kau punya kekasih baru, benarkah itu?”

“Iya, benar. Dia mirip bunga kuning.  Dan baik seperi Nona.”

“Oh, Bagus sekali! Senang mendengar itu. Aku punya kue untukmu hari ini. Ambillah jika kau sudah kembali dengan bunga kuningmu.”

“Terimakasih, Nona Ibu Guru! Kukatakan padamu, untuk hari ini, lagi-lagi kau sangat baik padaku. Semoga murid-muridmu belajar dengan baik dan mereka mendengarkan perkataanmu agar tidak berteriak-teriak kepadaku.”

“Oh, apakah mereka masih berteriak padamu?”

“Ya.. Mereka masih berteriak keras-keras seperti biasa. Bukan karena aku tidak menyukai teriakan ‘Orang gila! Orang gila!’ milik mereka itu, aku hanya khawatir bahwa orang lain akan terganggu. Itu saja.”

“Kalau begitu, aku akan berjalan pulang denganmu hari ini. Bagaimana menurutmu?”

“Oh… kau baik sekali Nona Ibu Guru! Tapi sayang sekali, jalan menuju rumah kita di tutup hari ini. Penjual lampu, yang memiliki mata setengah, sedang mengadakan pesta. Mereka menutup jalan raya dengan terpal kuning yang sangat lebar dan bersayap. Kita tidak bisa lewat. Sungguh. Aku tegaskan padamu Nona Ibu Guru, mereka tidak akan membiarkan kita lewat! Dekat-dekat pun tidak boleh.”

“Kalau begitu kita jalan dari gang di belakan rumah Pak RT saja, setuju?”

“Ah, itu ide yang sangat buruk sekali. Aku minta maaf Nona Ibu Guru, tetapi aku harus tegaskan, itu ide yang sangat buruk! Tidak tahu kah Nona Ibu Guru, bahwa minggu lalu Pak RT menyuruh para warga memarahiku dan menyuruhku agar aku meninggalkan daerah ini?”

“Maafkan aku, Jaka. Aku sama sekali tidak tahu masalah itu. Nanti aku akan ke rumah Pak RT, memintanya agar tidak menyuruh warga memarahimu. Pergilah mengambil bunga dan setelah itu ambil kue ini di lapak Bu Siti, lalu temui kekasihmu yang cantik seperti bunga kuning.”

“Oh, aku senang sekali, Nona Ibu Guru! Aku akan memberimu bunga kuning jika kita bertemu lagi.”

“Baiklah. Sampai jumpa lagi, Jaka.”

“Sampai jumpa lagi. Terimakasih untuk kue itu, Nona Ibu Guru.”