Monthly Archives: September 2015

Langkah Lemah Karya Seni

Museum Nasional Indonesia telah membangkitkan jenis cinta yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Jenis cinta yang tertuju pada nenek moyang, nenek moyang Indonesia. Mendapati betapa jelas cinta dan keindahan yang dituang nenek moyang kita pada benda-benda seni yang dipajang dalam museum, membuatku menangis terharu. Nenek moyang kita telah menitipkan keindahan pikiran dan perasaan mereka melalui karya-karya seni serta perkakas yang mereka gunakan sehari-hari. Benda-benda itu seolah menyapaku, menanyakan kabarku, mengingatkanku akan luhurnya budaya kita. Semuanya memperagakan kehalusan dan keindahan perasaan dan pikiran nenek moyang kita.
Akan tetapi, benda seni dan situs-situs yang terdapat dalam museum itu, museum yang terbesar di Asia Tenggara itu, juga mengingatkanku betapa jarang aku melihat karya seni seperti itu dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Dari materi yang digunakan nenek moyang kita untuk mewujudkan pikiran dan perasaan mereka, aku yakin nenek moyang kita tidak kaya. Mereka hidup sederhana, menjalin hubungan yang harmonis dengan alam, menuangkan keindahan, harapan, serta syukur yang mereka rasakan pada batu, kayu, tembikar, kain, dan benda-benda lain yang mereka dapatkan langsung dari alam. Semuanya indah. Dan materi dari benda-benda yang dipergunakan nenek moyang kita itu sebenarnya sangat mudah kita dapatkan saat ini.
Namun apa sebab kita tidak mencipta? Apa sebab kita ceroboh? Apa sebab kebanyakan dari kita orang Indonesia sudah tidak memperhatikan keindahan dan tidak mengingini karya seni?
Banyak bidang seni yang kita ketahui saat ini. Namun sangat sedikit bidang seni yang digemari masyarakat di Indonesia. Lantas, bagaimanakah seniman kita yang sedikit itu hidup? Seberapa besar pergumulan mereka menghadapi masyarakat kita saat ini?
Bentuk rumah-rumah kita monoton tanpa memperhatikan keindahan. Di rumah kita sudah sangat jarang didapati karya seni. Jika pun ada karya seni, kebanyakan merupakan produk dari luar negeri. Atau benda yang tampak indah itu adalah produk instan dari hasil mesin. Lingkungan dan alam sekitar kita tidak lagi diperhatikan. Jalan-jalan kita sesak sekaligus hampa. Tingkah laku kita serampangan.
Jadi, apakah minimnya karya seni mempengaruhi kehidupan kita? Apakah ketidakadaan kemampuan mencipta adalah penyebab sifat kasar sebahagian besar generasi ini?
Karena saat ini kita tahu bahwa kebanyakan orang menghabiskan hari-hari dengan menonton televisi dan sibuk di media sosial.
Baru saja kita dikejutkan oleh berita tentang ISIS yang merusak dan menghancurkan benda-benda bersejarah di Museum Nineveh, Kota Mosul, Irak. Diperkirakan situs yang dihancurkan mencapai 173 situs. Mereka menghancurkan patung yang sudah berusia 3000 tahun. Mereka beralasan bahwa benda bersejarah itu adalah berhala. Namun diyakini, ISIS yang sudah menduduki museum itu semenjak bulan Juni, tidak menghancurkan semua benda bersejarah. Mereka diduga menjual sejumlah benda di pasar gelap guna membiayai operasi berdarah mereka di wilayah itu.
Kejadian ini memperlihatkan pada kita bahwa orang-orang yang tidak mengharagai seni budaya dan keindahan adalah orang-orang yang kasar dan jahat.
Kita tahu bahwa seni dan keindahan kaligrafi yang spektakuler tercipta di Arab. Kita mengenalnya dengan “Seni kaligrafi Islam”. Ada seorang seniman besar mengatakan bahwa seni dan keindahan kaligrafi Islam adalah citra intelek yang mewujud dalam bentuk. Seni kaligrafi ini adalah perpaduan pikiran dan perasaan yang indah. Lantas, mengapa mereka (ISIS dan ekstremis lainnya) merusak ciptaan pendahulu mereka? Mengapa mereka merusak karya nenek moyang mereka? Mengapa mereka menuduh karya seni nenek moyang mereka adalah berhala?
Dan lagi-lagi, yang terlintas dalam pikiranku sebagai jawaban adalah bahwa penyebab kita bersifat kasar, pemarah, dan jahat adalah karena sangat kurangnya, bahkan tidak adanya keinginan kita untuk mencipta karya seni. Putusnya hubungan kita dengan keindahan dan jiwa alam semesta membuat kita tidak sanggup mencipta. Dan yang paling miris adalah bahwa tidak adanya lagi penghargaan dan rasa syukur pada pencipta alam semesta ini membuat jiwa kita hampa dan jahat.
Sangat minimnya karya seni dan keindahan budaya yang dapat kita nikmat, serta kurangnya penghargaan kita akan seni telah mengikis dan bahkan menghilangkan rasa halus dari perasaan kita. Di sekolah formal kita tidak diajari dengan serius tentang seni dan budaya. Di sekolah formal, kita tidak diajari untuk menciptakan karya seni sendiri. Lalu, dari manakah kita dapat belajar mencipta karya seni? Entahlah. Mungkin dari media sosial.

Advertisements