Monthly Archives: October 2015

Paling Tidak, Sekali Saja

Aku menatap keluar jendela. Mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang seakan menyerbuku tak henti-henti. Masalah yang kuhadapi ini tak sekalipun terbayangkan akan terjadi pada diriku. Kehidupanku kacau balau dalam sekejap mata. Hubungan yang berakhir tanpa penjelasan, kesalahpahaman dengan teman kantor, penyakit yang tak mungkin kuhadapi sendiri. Semuanya mendatangkan gejolak emosi yang membuatku ingin melarikan diri dari dunia ini.
Seekor burung berukuran kecil, (mungkin burung pipit?) terbang dari atap rumah di seberang jalan, hinggap pada sebuah pohon di depan toko perkakas dapur bergaya minimalis, kemudian hilang di balik rumpun dedaunan.
Aneh melihat pohon itu tumbuh subur di antara bangunan yang berdempetan. Sendiri di tengah-tengah kegersangan. Namun bukan dua keanehan itu yang membuatku berlari ke luar, tapi karena sosok pohon muda dan rimbun ini. Pohon ini adalah pohon yang persis sama dengan pohon yang pernah kulihat di masa laluku. Pohon ini membawakanku kenangan-kenangan yang kupikir telah hilang.
Pagi itu mentari bersinar cerah. Dan seperti biasa aku berjalan menuju puncak bukit dengan pria yang menjadi kekasihku saat itu. Pria itu tinggi kurus dan memiliki sebuah kaca mata hitam yang tak sekalipun tidak dikenakannya saat berjalan-jalan pagi seperti saat itu sejak dibeli dari sebuah toko mewah ternama di Jakarta pada ulang tahunnya ke-23. Dia tampak keren dengan kaca mata itu dan sekaligus tampak arogan.
Walau berada di perbukitan, tempat kami berlibur untuk dua minggu bersama teman-teman dari pria yang menjadi kekasihku saat itu cukup lengkap, teratur dan membuat betah. Ada sebuah bioskop di ujung jalan dekat kantor pos, restoran padang yang mewah, sebuah bar yang mengingatkanmu akan tempat berkumpul para mafia dalam film-film Hongkong, rumah-rumah penginapan, toko-toko mainan, toko pakaian pria dan wanita, toko perlengkapan untuk anak-anak, toko bunga, toko buah dan sayur, sebuah caffe bergaya mediterania berdempetan dengan toko buku, ada dua mini market yang berseberangan yang seolah memperjelas persaingan mereka, toko-toko sovenir, restoran-restoran kecil, dan yang paling banyak dari yang lainnya adalah toko-toko kue. Kota kecil ini memang terkenal dengan kue-kuenya yang enak dan berkualitas. Dan saat kami melintas pagi itu di jalan utama kota, toko-toko masih tutup dan jalanan masih sangat sepi.
Di depan toko kue yang memberikan secangkir kopi gratis hingga pukul sepuluh pagi, tiba-tiba pria yang menjadi kekasihku saat itu berhenti dan terpana menatap sebuah pohon hijau lebat. “Aneh sekali. Aku mengenali pohon ini,” katanya memulai. “Pohon ini persis sama dengan pohon di masa kanak-kanakku. Pohon ini pernah tumbuh di samping rumah nenekku. Pohon yang persis sama dengan pohon ini, pohon muda dan penuh harapan.”
“Tidak mungkin ada yang persis sama di dunia ini,” kataku sembari mengamati pohon di hadapan kami, seolah pohon itu adalah sebuah patung yang sedang dipamerkan dalam sebuah galeri.
“Ada. Pohon ini salah satunya. Aku bahkan mengenali semua ranting-ranting ini. pohon ini membangkitkan rasa rindu, demikian juga pohon di masa laluku,” katanya dan kemudian menyentuh batang pohon dengan ujung-ujung jemarinya. “Bahkan rasa ini juga masih sama. Tidak sedikitpun hilang atau berubah,” bisiknya. “Apakah kau percaya bahwa kejadian di masa lalu yang kita sangka telah hilang, bisa hadir dengan sangat jelas dan kuat dalam ingatan? Kenangan-kenangan yang bisa menarikmu pada rasa sesal dan rasa salah, seolah jika bisa, kau ingin kembali ke masa itu dan memperbaiki semuanya.”
“Aku tidak percaya,” kataku. “Mungkin juga belum. Aku belum pernah merasa hal yang seperti itu. Dan kemungkinan besar tidak akan berpikiran seperti itu. Apa yang terjadi, memang harus terjadi. Tidak perlu disesali. Kita harus berjalan terus. Dan kalau bisa, melakukan hal yang lebih baik di masa mendatang,” kataku begitu naif.
Kini aku berdiri menatap pohon yang sama, pohon yang tampak persis dengan pohon yang pernah di sentuh oleh pria yang pernah menjadi kekasihku, namun berada di tempat yang sangat berbeda. Pria itu ternyata benar. Saat ini aku ingin kembali, paling tidak sekali saja, ke masa lalu.

Advertisements