AKU YANG BANGKIT DARI KUBUR

            Semuanya membingungkan. Saat ini Udin duduk jongkok di depan pintuku. Ia adalah  tetanggaku yang minggu lalu dikeroyok massa karena diduga mencuri ayam. Bekas-bekas luka di wajahnya mulai menutup, dan memar-memarnya kini mulai menguning. Ia memegangi telepon genggamnya, mengetik sesuatu, dan sesekali mengajukan pertanyaan padaku. “Sekarang Mas sudah ingat lahir tanggal berapa?” tanya dia tanpa berpaling dari layar yang digenggamannya.

            “Bagaimana aku mengingat jika aku sama sekali tidak pernah tahu?” Kataku kecewa. “Ibuku tidak pernah memberitahuku. Jika aku bertanya, ia selalu menjawab bahwa aku lahir di tengah malam ketika ayahku baru saja kembali dari warung kampung sebelah dalam keadaan mabuk berat. Kau tahu, ayahku,  semoga ia tenang di alam sana, selalu membeli minuman keras saat ia memperoleh uang, dan saat hari kelahiranku ia memperoleh uang dari hasil penjualan telur ayam yang dicurinya. Ibuku juga memberitahuku bahwa saat itu ayahku menganjurkan agar ibuku melahirkan esok harinya saja, di mana orang-orang sudah bangun dari tidur. Namun ia tidak pernah mengingat hari dan tanggal berapa saat semua kejadian itu terjadi.”

            “Jadi, ayahmu pencuri, ya?”

            “Kau ini minta dipukul lagi, atau apa?”

            “Kau tahu, aku sebenarnya tidak pernah mencuri ayam. Bahkan rupa ayam, yang katanya kucuri  itu, tidak pernah sekalipun aku melihatnya. Tahi ayam saja selalu kuhindari, tahi yang baunya membuatku ingin mati, bagaimana mungkin aku memasuki kandang ayamnya yang penuh dengan tahi.”

            “Kalau kau memang tidak mencuri, kenapa kau mengakui bahwa kau mencuri?”

            “Karena semua orang percaya bahwa aku telah mencuri. Jika aku katakan ‘Tidak, aku tidak mencuri,’ mereka akan membunuhku. Mereka hanya ingin menyiksa seseorang. Mereka hanya ingin meluapkan kebringasan mereka yang terpendam. Tidak masalah aku salah atau tidak, yang penting mereka puas.”

            “Apakah hal seperti yang kau alami yang sedang terjadi padaku saat ini?” Tanyaku. Aku merasakan jantungku tiba-tiba berdegup kencang bersama kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku sangat takut.

            “Sepertinya sama,” kata Udin. Ia meluruskan kaki kanannya dan kemudian duduk di lantai semen yang mengilat karena minyak kelapa yang kuoleskan tadi malam. “Hanya saja, kau memperoleh massa yang lebih banyak. Dan bedanya lagi, mereka tidak akan memukulimu, mereka semua mengagumimu,” jelasnya.

“Apakah itu berarti bahwa semua ini tidak akan mendatangkan musibah bagiku?”

“Tentu saja tidak akan mendatangkan musibah. Tapi dengan satu syarat, kau melakukan hal sama seperti yang aku lakukan, mengakui semua kebohongan ini adalah kebenaran, karena itu semua yang ingin mereka percayai,” katanya. “Bagaimana ini, kau tidak tahu tanggal lahirmu, sedangkan Facebook ini memintanya?” Imbuhnya.

Setelah  beberapa pertanyaan untuk persyaratan bisa kujawab dengan lancar, akhirnya tibalah saat di mana semuanya hanya kesia-siaan. Aku tidak akan terkenal dan mereka akan memukuliku karena kebohongan yang aku sendiri tidak tahu dari mana asal mulanya ini. “Sudahlah, hentikan saja! Aku pasrah menerima semua yang akan mereka tuduhkan dan yang akan mereka perbuat padaku,” kataku.

“Kita palsukan saja. Kau pakai saja lah tanggal lahirku,” katanya dan mengetik di kolom-kolom.

“Terserah kamu saja. Aku  juga tidak mengerti,” kataku. Aku mengenakan sendalku dan meninggalkannya di depan pintu.

Kini, semua orang di kampungku bangga padaku. Mereka perlahan-lahan ikut percaya pada berita yang  sebelumnya mereka tahu adalah sebuah kebohongan besar yang tersebar di internet. Dan bahkan aku sendiri terkadang percaya bahwa yang diberitakan itu memang benar-benar terjadi padaku saat aku tergiur oleh rasa kagum saat mendengar bahwa kini sudah ribuan orang membagikan dan menyukai berita palsu itu di Facebook. Dan saat ini, temanku yang malang itu ingin membuatkan akun Facebook atas namaku.

Aku sangat kebingungan. Aku kini sulit membedakan mana yang menjadi kenyataan dan mana yang menjadi kebohongan. Apakah aku benar-benar telah bangkit dari kubur? Apakah aku pernah mati?

Aku terus berjalan melewati batas kampung, melewati pematang sawah, dan berhenti di samping kuburan ayahku. Di sini tepatnya aku berdiri saat sepupuku memotretku dua minggu yang lalu, saat kami melakukan jiarah siang itu. Ia memasukkan foto itu ke Facebook, seseorang mengkopinya, melampirkan artikel berita bohong. Berita itu berjudul, “Kesaksian lelaki yang bangkit dari kubur.” Dan akulah lelaki di dalam foto itu, foto yang kepalanya dilingkari dengan lingkaran merah dan ditunjuk dengan panah merah agar para pembaca mengetahui yang mana lelaki yang bangkit dari kubur. Aku lah dia, aku yang bangkit dari kubur.

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 11 November 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: