Daging Anjing

Gambo baru saja makan daging anjing. Ia duduk di atas batu, memandangi indahnya danau. “Kenyang perut senang lah hati,” katanya pada angin semilir. Sudah lebih dari sebulan ia tidak makan daging. Bahkan ia hanya makan dua kali sehari tanpa pernah merasa kenyang di tahun-tahun hidupnya yang malang. Hari ini sungguh indah, bahkan bebek-bebek milik kepala desa, tadi pagi, bertelur di pantai. Ia memunguti telur-telur itu dan sudah menjualnya ke Mak Sornop. Mak Sornop adalah perempuan yang senang mengucapkan “Puji Tuhan”. Wanita tua itu juga berkata demikian padanya saat menyerahkan telur-telur bebek yang bukan miliknya. Gambo menyukai seruan itu. Ia ingin sekali menggunakannya saat mendapat kabar menyenangkan. Dan saat itu sangat dinantikannya.
Maka, Gambo berseru “Puji Tuhan!” ketika Hudon Birong memberitahu bahwa seekor anjing liar memasuki perkampungan mereka.
“Tapi kita mendapat sedikit masalah,” kata Hudon Birong pada Gambo empat hari yang lalu. “Keluarga Hariara sepertinya berminat memelihara anjing itu. Mereka mulai memberinya makan.”
“Dasar kentut!” Teriak Gambo.  “Keluarga itu selalu saja buat masalah. Mereka butuh dimatikan sesekali!”
“Keluarga itu sulit matinya,” kata Hudon Birong. “Bahkan babi milik mereka tetap saja hidup walau sudah makan racun.”
“Makan racun?”
“Minggu lalu, agar kau tahu saja, Si Gumoang menyuruhku memberi babi-babi mereka makan racun dengan upah sebungkus rokok Marlboro.”
“Dan babi itu tidak mati?”
“Benar-benar tidak mati,” kata Hudon Birong seraya menggarut-garut kepalanya yang penuh kutu. “Aku yakin mereka pakai pelindung.”
“Sepertinya begitu.” Gambo mengupil. “Mereka pasti pake Dukun.”
“Dukun sakti,” kata Hudon Birong manggut-manggut. “Tapi kali ini, Dukun itu tak akan mampu berbuat apa-apa. Aku sudah tau penangkalnya.”
“Apa?”
“Bambu kuning.”
“Bambu kuning anti kolor?”
“Ya.. bambu kuning itu,” kata Hudon Birong seraya menatap Gambo. “Kau tahu juga nyanyian itu rupanya.”
“Kau dapat dari mana bambu itu?”
“Si Gumong yang ngasih aku minggu lalu. Dia bawa dari Siantar.”
“Kau kerja banyak untuk dia, ya?”
“Begitulah. Bambu itu upah untuk nyuri cangkul Oppung Lobang.”
“Bambu untuk cangkul?”
“Apa salahnya?” Kata Hudon Birong. “Aku butuh bambu, bukan cangkul.”
“Dulu, aku juga terima kerja dari Gumoang. Tapi sekarang  aku setop karena tidak suka dia lagi.”
“Aku juga kadang-kadang tidak suka. Tapi dia punya banyak uang. Aku tidak punya uang.”
“Itu benar.”
“Beritahu aku, kenapa kau tidak suka dia?”
“Dia hanya membayarku dengan Teh Botol Sosro untuk mencuri lima lembar papan kayu dari labuhan.”
“Pelit sekali,” kata Hudon Birong “Aku juga tidak suka dia kalau begitu. Jadi, kau mau menangkap anjing itu bersamaku?”
“Tentu saja, kawan,” kata Gambo. “Kalau dapat anjing itu, kita akan memotongnya di rumahku. Memanggang dagingnya, lantas tulang-tulangnya kita jadikan sup.”
“Aduh, air liurku sudah menetes,” kata Hudon Birong. “Besok, aku tunggu kau di simpang, dekat rumah Keluarga Hariara.”
“Okeh! Jangan lupa, bawa bambu kuning. Kita habisi Dukun setan jahanam itu.”

Advertisements

About Yusa Sitio

Saya suka kopi, makanan enak, dan kisah. Saya juga menyukai pohon, rumput, hujan, dan sejarah. Tempat ini merupakan wadah dari beberapa hasil imajinasi, jangan dinilai secara subjektif. Saya di sini kadang bukan saya yang sebenarnya, jangan tertipu.

Posted on 27 April 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: