Monthly Archives: February 2017

Harga Mati

Saya punya permohonan pada semesta, jika kelak saya menulis novel, maka tidak akan ada satu orang pun yang mati dari awal hingga akhir cerita. Semua orang hanya berjuang mengalahkan sifat jahat dalam dirinya, dan membantu orang yang butuh bantuan. Semua orang mencoba bertumbuh dan berkembang untuk kebaikan hidup di dunia. Bekerja sama agar bumi menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi semua mahkluk. Indah sekali membayangkan dunia itu, hingga saya ingin menangis saja karena gembira.

Namun novel itu belum ada, dan saya masih tetap berjuang untuk berkembang dan bertumbuh di dunia nyata ini, di mana setiap hari disuguhi dengan berita kematian. Di mana-mana orang dimatikan. Di mana-mana orang ingin mematikan orang lain. Di mana-mana ada orang yang mematikan dirinya sendiri. Di mana-mana orang berteriak “Singkirkan orang-orang itu!” Di mana-mana ada yang bilang “Mereka berbeda, matikan!” Di mana-mana saya membaca “RI harga mati!”

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kehancuran dan kematian yang diakibatkan oleh kebodohan dan kejahatan yang dirancang adalah tidak ada batasnya.

Di Indonesia, kekerasan bukan hal tabu. Hanya persoalan sex saja yang tabu. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin anak-anak di negara ini akan mati jika melihat orang lain ciuman atau melihat pakain sexy. Di Indonesia, mungkin lebih baik melihat mayat bertumpuk-tumpuk daripada melihat bencong yang berpegangan tangan. Lebih baik menemukan perempuan yang menggantung diri di kamar, daripada menemukan perempuan yang bergembira bersama temannya di bar pada malam hari. Sedangkan pelaku kekerasan dan kejahatan? Mereka akan masuk pemberitaan dan terkenal.

Di negeri ini, laki-laki yang memperkosa perempuan dewasa dan anak-anak adalah hal biasa dan dijatuhi hukuman ringan, atau dinikahkan saja kalu masih hidup dan terlanjur hamil atau diselesaikan secara kekeluargaan, sedangkan LGBT akan dikutuki masuk neraka, disiksa, dirampas hak mereka sebagai manusia, dan kalau boleh terlebih dahulu dipukuli ramai-ramai hingga mati atau dibakar hidup-hidup. Walau mereka tidak sedikitpun melakukan kejahatan, walau mereka tidak sedikitpun menyentuh ujung rambutmu. Kejahatan mereka adalah karena mereka berbeda. Kita biasa mendengar seorang copet yang dikeroyok massa hingga hampir kehilangan nyawa dan kemudian dipenjara, dan koruptor yang mencuri uang negara hingga miliaran rupiah, akan senyum-senyum di depan kamera, kemudian dipenjara beberapa tahun saja lantas berhak mencalonkan diri lagi untuk menjabat jika sudah bebas. Artinya, jika memang ingin menekuni sebuah profesi, tekuni dengan sepenuh hati. Jika ingin menjadi pencuri, sekolah saja dulu, lalu jadi pejabat atau penguasa, kemudian mencurilah dengan curian besar. Jangan mencuri sandal atau mencopet dompet yang belum tentu ada uang di dalamnya. Atau paling tidak, pintarlah berlakon, jadi penyambung lidah dunia nyata dan dunia tuhan-tuhanan. Kau akan punya uang. Katakan saja dengan restu Tuhan Yang Maha Esa dan doa-doa yang dipanjatkan dengan tekun sekali, maka semoga saja uang yang kau sentuh akan berlipat ganda. Akan sangat banyak orang yang percaya, bahkan orang yang sudah mengecap pendidikan di perguruan tinggi sekalipun akan ada yang menjadi pengikutmu jika kau bersungguh-sungguh berlakon.

Kehidupan seolah tidak berharga. Kasih sayang hilang dari hati. Banyak orang bertindak beringas dan menjijikkan. Orang-orang rela mati demi sesuatu. Orang-orang diracuni pikirannya. Katanya, kekerasan bagian dari cinta. Sesuatu yang indah katanya hanya bisa diperoleh dengan menyerahkan tumbal nyawa terlebih dahulu. Seperti cerita prasejarah saja. Orang-orang jahat mengelabui yang lain. Mereka membunuh arti cinta yang sesungguhnya, membunuh kasih sayang yang suci dan lembut. Orang-orang, banyak yang gila kekuasaan serta gila harta.

William Burroughs, penulis yang memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba karena katanya obat-obatan itu membuat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa dan ia merasa mati, memperkirakan bahwa apa yang bisa diakibatkan oleh obat-obatan terhadap manusia juga bisa dilakukan oleh hal-hal lain. Salah satunya adalah kekuasaan. Banyak orang yang ketergantungan pada kekuasaan. Keinginan yang jahat untuk menguasi orang-orang yang tidak berdaya. Orang-orang yang ketergantungan pada kekuasaan ini, yang merasa diri paling benar dan selalu benar, akan menderita luar biasa saat kehilangan kekuasaan. Persis sama seperti pengguna narkoba. Orang-orang yang ketergantungan ini akan melakukan segala hal untuk medapat kekuasaan. Orang-orang seperti ini adalah perusak kehidupan. Dan kita tahu apa yang sudah diperbuat orang-orang jenis ini di negeri ini dan di negara lain. Mereka membunuh orang-orang. Mereka menghancurkan kehidupan.

Republik Indonesia, negara yang kita cintai ini, negara di mana rakyatnya berseru-seru “RI harga mati!” pernah ikut berperan melakukan pembunuhan massal, melakukan tindakan tidak bermoral pada rakyatnya. Hasil keputusan final sidang Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) di Den Haag menyatakan negara Indonesia bertanggungjawab atas 10 tindakan kejahatan HAM berat yang terjadi pada 1965-1966. Ratusan ribu orang mati dibunuh. Negara ini bertanggungjawab untuk kematian itu. Pemerintah negara ini seharusnya meminta maaf kepada semua korban, yaitu para pemimpin PKI, anggota atau simpatisannya, loyalis Sukarno, anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), serikat buruh, serikat guru, dan khususnya kalangan Tionghoa atau yang berdarah campuran, kepada penyintas, dan keluarga mereka. Namun sampai hari ini kita tidak pernah mendengar permintaan maaf itu, malahan kita ditakut-takuti (entah siapa yang menakut-nakuti) dengan lambang palu arit dan kabar-kabar bahwa negara Cina sebentar lagi akan menjajah Indonesia.

Tidak hanya di Indonesia, jenis kejahatan seperti ini juga banyak terjadi di negara lain. Kematian seolah bukti cinta. Membunuh dan dibunuh seolah bukti patriotisme. Salah satu kejahatan di mana negara berperan pada kejahatan HAM namun pemerintah tidak mau meminta maaf pada korban dan keluarganya adalah kejahatan HAM di Okinawa, sebuah pulau kecil di Jepang. Pada saat perang dunia ke-2, pihak tentara Jepang memerintahkan penduduk yang tinggal di Okinawa untuk melakukan bunuh diri massal. Tentara pada saat itu mengatakan pada penduduk pulau itu bahawa orang Amerika sangat kejam, bahwa tentara Amerika akan memerkosa semua wanita dan akan membunuh semua laki-laki. Jadi, sebelum tentara Amerika mendarat, sebaiknya mereka bunuh diri. Lebih dari lima ratus orang mati bunuh diri. Para kakek membunuh anaknya, para suami membunuh istrinya. Dan pemerintah Jepang tidak mau meminta maaf, mengatakan bunuh diri massal itu adalah sikap patriotisme.

Orang-orang yang gila kekuasaan, orang sakit jiwa yang bernafsu mengendalikan segala sistem kehidupan ini akan melakukan segala cara demi kekuasaan. Nyawa orang-orang  yang mencoba menghalangi mereka tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka akan mengarang berbagai cerita untuk mendapat simpatisan. Agama dan patriotisme adalah hal-hal yang sering sekali ditunggangi. Orang-orang yang gila kekuasaan ini tidak pernah tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang mampu menguasai dunia ini. Dan menurutku, hal itu disebabkan karena mereka tidak pernah membaca buku sastra. Mereka tidak sadar bahwa dunia ini sangat kompleks. Tidak seorang pun bisa mengendalikan semuanya. Orang-orang yang gila kekuasaan ini adalah perusak. Tidak bermoral dan harus dilawan. Jadi, demi apapun, jangan pernah mau membunuh, dibunuh apalagi bunuh diri. Cintai nyawamu. Cintai nyawa orang lain. Cintai kehidupan ini.

Advertisements