Monthly Archives: May 2017

Mental Miskin

Processed with VSCO with c1 presetFranz Kafka pernah berkata bahwa ia tidak bisa membuat orang lain mengerti mengenai apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Dan saya pikir hal ini terjadi pada semua orang. Selalu ada sesuatu yang besar di dalam jiwa kita yang sulit kita pahami. Hanya saja, ada orang yang mau meneliti dirinya lebih dalam, dan tidak sedikit yang membiarkan dirinya terlunta-lunta, terbawa arus, membiarkan dunia membungkus jiwanya, pasrah pada lingkungannya, dan berjalan seperti mayat hidup.

Saya tidak bilang saya bijak, tetapi saya bisa bilang bahwa saya memilih untuk terus belajar. Bertahun-tahun berjuang sekuat tenaga mengalahkan sesuatu yang buruk dalam diri saya untuk menjadi seperti apa saya saat ini. Mengalahkan racun yang tumbuh di dalam diri. Masuk kedalam badai batin yang sangat parah. Saya pernah berpikir bahwa saya tidak akan pernah selamat. Saya berpikir bahwa racun ini yang akan membunuhku. Racun ini yang akan mencabikku dari dalam. Penyakit yang sepertinya banyak menyerang manusia di Indonesia. Karena menurut saya, banyak sekali kekacauan di negeri ini yang diakibatkan oleh racun yang satu ini. Racun ini kunamai “Mental Miskin”. Orang lain mungkin menggolongkannya sebagai inferiority complex.

Saya lahir dan besar di pulau Samosir saat di mana uang adalah hal langkah. Seperti desa-desa lainnya, tidak ada pergerakan uang yang nyata. Orang-orang hidup sengsara oleh kemiskinan. Atau bisa dibilang telah dimiskinkan, diperas, dibodohi, dikucilkan dari peradaban. Namun bukan siapa yang memiskinkan dan bagaimana  yang akan saya bicarakan saat ini (mungkin suatu saat nanti akan saya ceritakan), tapi saya akan membahas tentang dampak kemiskinan pada mental.

Menjadi anak perempuan dan hanya memiliki beberapa potong baju dan tidak memiliki sandal untuk dipakai sudah cukup membuat harga diri terperosok ke sumur kehinaan saat berhadapan dengan para pendatang yang berpakaian rapih bersih lengkap dengan sepatu berkilau. Kepala akan terasa sangat berat dan mata akan terasa panas ingin menangis. Belum lagi hal besar lain yang kita sadari tidak pernah kita miliki dan lihat namun dimiliki dan sudah dilihat oleh orang lain.

Saya pernah menganggap bahwa turis manca negara yang datang ke tempat kami datangnya dari surga, orang-orang yang harus dihormati, orang-orang yang harus dipuja sekaligus ditakuti. Saya pernah iri pada orang kota yang berkunjung ke desa kami, bahkan pada saudara sendiri. Saya merasa terhina setiap kali ada orang yang memberikan pakain bekas atau bantuan lainnya padaku dan keluargaku. Saya merasa bahwa dunia ini tidak adil pada kami. Saya malu melihat orang-orang desaku meminta-minta pada turis. Saya malu saat menyadari bahwa kami anak-anak berebut gembira ke pembuangan sampah yang dibawa oleh truk kuning dari seberang pulau ke sungai kami. Mengorek-orek sampah seperti berada di tengah-tengah harta karun. Saya malu. Saya terhina. Saya tidak tahu kenapa. Dan itulah yang saya alami setiap saat di masa kanak-kanak dulu. Rasa hina bertumpuk-tumpuk setiap harinya, membuatku sesak bernafas. Kemiskinan di sekitarku membuatku ingin pamit saja dari dunia ini. Ingin sekali melarikan diri dari semua kemelaratan yang kusaksikan di depan mataku. Melarikan diri dari anak-anak yang ingusnya mengering membungkus wajahnya. Tidak ingin melihat ibu-ibu hamil yang kurus kering kerontang. Melarikan diri dari orangtua yang memukuli anak-anaknya. Tidak mau mendengar pertengkaran keluarga yang terjadi di sekitarku karena ketidakadaan sesuatu untuk dimakan. Ingin sekali melarikan diri dari lingkungan yang memuja-muja orang yang memiliki banyak uang dan membangga-banggakan anak-anak berkulit lebih putih, dan dengan terang-terangan menyatakan mereka yang putih adalah cantik.

Dan rasa hina ini ternyata tanpa kusadari tertanam kuat dalam diriku, sekalipun keadaan sudah berubah. Saat saya pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah, hal baru sangat menekan jiwaku. Banyak sekali hal berat yang harus saya hadapi seorang diri di usiaku yang masih remaja. Saya hidup sendiri di kota besar. Saya memikul rasa hinaku yang sudah kutumpuk-tumpuk, berusaha sekuat tenaga mengangkat kepala, berjuang menghadapi hidup seorang diri, dan berusaha tetap sadar agar tidak pingsan di tengah jalan.

Banyak pengalaman pertama di masa remajaku yang menimbulkan emosi yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Betapa beratnya bagiku menghadapinya seorang diri. Bahkan hal kecil seperti pengalaman pertama menonton film di bioskop membuat lututku bergetar. Berkunjung kerumah sakit untuk pertama kali membuatku berkeringat dingin karena tidak tahu harus memulai dari mana kunjungan itu. Dokter-dokter tampak seperti dewa bagiku. Tidak terjangkau dan suci. Saya hidup seperti di awang-awang. Jatuh cinta dan patah hati. Semuanya seperti badai yang tak berkesudahan. Masa remajaku kuhabiskan dengan keringat dingin ketakutan dan lutut bergetar karena keheranan. Saya merasa linglung.

Tahun-tahun terlewati begitu saja. Saya masih tidak bisa berhenti mengamati orang-orang dan lingkungan di sekitarku. Saya memiliki ketertarikan mengamati semua hal yang terjadi di dalam kehidupan ini. Seperti ingin menyerap semuanya dan meletakkanya di pundakku. Bahkan saat teman-temanku tampak tidak peduli tentang keadaan temannya sendiri, saya malah sudah mencari tahu tentang perang di Iraq.

Banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal terjadi dalam hidup ini. Hal yang bahkan sedikitpun tidak pernah terlintas dalam kepala, bisa terjadi begitu saja. Dulu saya berpikir bahwa semesta ini akan dengan senang hati membenturkan kepalaku ke tembok dan menertawakan darah yang mengalir di pipiku. Dunia ini seperti mempermainkanku dengan keji. Satu contoh yang pernah terjadi dalam hidupku dan pernah menyayat hatikku sangat dalam tanpa pernah kuduga akan terjadi adalah ucapan seorang laki-laki padaku melalui telephon. Hingga saat ini saya tidak tahu siapa dia. Namun aku tahu dia mengenaliku. Jika dia membaca tulisan ini, saya hanya mau dia tahu bahwa saya selalu menduga-duga apa yang sudah semesta ini lakukan padanya sebagai balasan untuk perkataannya yang sangat tidak beradap padaku. Saya tidak pernah ingin membalas perbuatannya. Saya hanya ingin dia menyadari kesalahannya. Dan jangan pernah meminta maaf padaku. Meminta maaflah pada Tuhan. Saya menjadikan pengalaman itu sebagai pengingat agar selalu berusaha, sekuat tenaga, untuk tidak mengucapkan kata-kata yang bisa membuat orang lain sedih. Karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya apa yang sudah dan sedang dialami oleh seseorang. Kita tidak tahu luka apa yang sedang diderita oleh jiwa seseorang.

Pertama kali menyadari bahwa saya memiliki mental miskin adalah saat saya mendengarkan orkestra. Saya ketakutan setengah mati. Merasa bahwa saya tidak layak mendengarkan musik klasik. Musik klasik hanya untuk orang kaya, hanya untuk orang kota. Berhari-hari perang batin terjadi di dalam diriku setelah kejadian itu. Benarkah ada orang yang tidak layak menikmati keindahan? Benarkah hanya orang kaya yang berhak bahagia? Benarkah orang berkulit gelap tidak cantik? Benarkah orang kampung adalah orang bodoh?

Tidak bolehkah orang kampung memiliki cita-cita tinggi? Tidak bolehkah wanita berkulit coklat percaya diri? Tidak bolehkah orang miskin bahagia? Tidak bolehkah kami anak dari desa tinggal di kota dan memiliki pekerjaan yang layak?

Saya sepertinya tahu apa jawaban orang banyak untuk semua pertanyaan itu, kita yang seumur hidup sudah diajari, ditekan, diguna-gunai, baik secara sadar atau tidak, oleh keluarga dan lingkungan bahwa uang adalah satu-satunya yang harus dikejar di dunia ini dan penampilan adalah satu-satunya yang membuatmu dihargai atau tidak oleh orang lain.

Kau tidak perlu memiliki empati, asal kau punya banyak uang maka segala puji bagimu. Kau tidak perlu memiliki keahlian, asal kulitmu putih bersih dengan make-up sempurna maka kau diagung-agungkan. Kita semua berusaha menjadi sempurna tanpa menyadari bahwa manusia bukan robot yang bisa disempurnakan. Kita berusaha menjadi sama. Kita dipaksa sama oleh korporasi. Kita didorong ke lembah kehancuran oleh iklan dari para kapitalis. Mereka menciptakan standar-standar yang harus dimiliki agar bisa digolongkan sebagai manusia sempurna, agar produk-produk mereka dibeli. Lingkungan kita mengajarkan pada kita bahwa semua orang kaya adalah orang-orang yang diberkati Tuhan, hanya orang yang berpendidikan tinggi yang boleh berpendapat, penguasa adalah tangan-tangan Tuhan, orang-orang miskin adalah orang terkutuk, perempuan tidak berhak mengajukan keberatan. Dan kita tidak sadar dan tidak memiliki kesempatan untuk berpikir seberapa jauh kita sudah tenggelam dalam kehancuran mental. Mental miskin. Kita dibuat memiliki mental miskin. Kita dirancang menjadi pemuja uang, pemuja penampilan. Orang-orang korupsi. Para pejabat tidak malu untuk disuap. Semua karena uang.

Saya mengalami apa yang dikatakan orang-orang tentang jiwa sakit menyerang fisik. Saat mental miskin karena tekanan lingkungan memuncak, tubuh saya collapse. Saya runtuh. Saya pingsan di tengah keramaian. Benar-benar pingsan dalam arti yang sebenar-benarnya.

Saya tidak tahu seberapa banyak orang seperti saya. Mungkin ada yang mengalami derita lebih parah dari saya atau lebih ringan. Orang-orang yang lahir tidak dengan bergelimang harta, orang-orang yang lahir tidak berkulit putih, orang-orang yang lahir tidak sesuai dengan standar cantik atau tampan dari dunia masa kini, orang-orang yang tidak pintar seperti yang diharapkan dunia ini, saya tahu betapa derita itu menekan jiwa kita. Membuat kita memohon-mohon agar mati saja.

Buku-buku yang menyelamatkanku. Musik menyelamatkanku. Film-film menyelamatkanku. Karya seni menyelamatkanku. Karya dari seniman sejati akan menyadarkan kita bahwa kita sedang ditipu dunia, dan itu yang akan membebaskan. Mengenali diri kita, berani menjelajahi dan menghadapi batin kita sendiri membuat kita sadar betapa berharga kehidupan ini. Kita tidak butuh menjadi manusia sempurna seperti apa yang diharapkan dunia ini untuk kita. Memberontaklah. Bebaskan diri dari cengkraman kapitalis. Merdekalah. Derita di sekitar kita sudah cukup. Jangan biarkan racun yang dituang padamu membunuhmu. Lawan! Lawan dengan karya. Lawan dengan karya seni. Belajar menciptakan sesuatu. Dengan berkarya, kita tidak lagi harus ikut meminum darah orang lemah yang tidak berdaya, kita tidak lagi harus menelan racun dunia ini. Menikmati hasil jerih payah tanpa menyakiti orang lain. Dan dengan berkarya, semoga mulut kita tidak lagi memakan makanan yang membuat kita takut berbicara saat harus mengungkapkan kebenaran. Belajarlah untuk tidak menyakiti orang lain. Mari terus belajar untuk tidak ikut menabur racun di dunia ini. Bantu orang lain.

Dan sebagai penutup, saya memberitahukan sekali lagi, bahwa saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang sudah saya alami. Karena di awal tulisan ini juga saya sudah mengutip perkataan Franz Kafka, penulis tersohor itu, bahwa ia tidak bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan tidak bisa memaksa orang lain untuk mengerti.

 

Advertisements