Daging Anjing

Gambo baru saja makan daging anjing. Ia duduk di atas batu, memandangi indahnya danau. “Kenyang perut senang lah hati,” katanya pada angin semilir. Sudah lebih dari sebulan ia tidak makan daging. Bahkan ia hanya makan dua kali sehari tanpa pernah merasa kenyang di tahun-tahun hidupnya yang malang. Hari ini sungguh indah, bahkan bebek-bebek milik kepala desa, tadi pagi, bertelur di pantai. Ia memunguti telur-telur itu dan sudah menjualnya ke Mak Sornop. Mak Sornop adalah perempuan yang senang mengucapkan “Puji Tuhan”. Wanita tua itu juga berkata demikian padanya saat menyerahkan telur-telur bebek yang bukan miliknya. Gambo menyukai seruan itu. Ia ingin sekali menggunakannya saat mendapat kabar menyenangkan. Dan saat itu sangat dinantikannya.
Maka, Gambo berseru “Puji Tuhan!” ketika Hudon Birong memberitahu bahwa seekor anjing liar memasuki perkampungan mereka.
“Tapi kita mendapat sedikit masalah,” kata Hudon Birong pada Gambo empat hari yang lalu. “Keluarga Hariara sepertinya berminat memelihara anjing itu. Mereka mulai memberinya makan.”
“Dasar kentut!” Teriak Gambo.  “Keluarga itu selalu saja buat masalah. Mereka butuh dimatikan sesekali!”
“Keluarga itu sulit matinya,” kata Hudon Birong. “Bahkan babi milik mereka tetap saja hidup walau sudah makan racun.”
“Makan racun?”
“Minggu lalu, agar kau tahu saja, Si Gumoang menyuruhku memberi babi-babi mereka makan racun dengan upah sebungkus rokok Marlboro.”
“Dan babi itu tidak mati?”
“Benar-benar tidak mati,” kata Hudon Birong seraya menggarut-garut kepalanya yang penuh kutu. “Aku yakin mereka pakai pelindung.”
“Sepertinya begitu.” Gambo mengupil. “Mereka pasti pake Dukun.”
“Dukun sakti,” kata Hudon Birong manggut-manggut. “Tapi kali ini, Dukun itu tak akan mampu berbuat apa-apa. Aku sudah tau penangkalnya.”
“Apa?”
“Bambu kuning.”
“Bambu kuning anti kolor?”
“Ya.. bambu kuning itu,” kata Hudon Birong seraya menatap Gambo. “Kau tahu juga nyanyian itu rupanya.”
“Kau dapat dari mana bambu itu?”
“Si Gumong yang ngasih aku minggu lalu. Dia bawa dari Siantar.”
“Kau kerja banyak untuk dia, ya?”
“Begitulah. Bambu itu upah untuk nyuri cangkul Oppung Lobang.”
“Bambu untuk cangkul?”
“Apa salahnya?” Kata Hudon Birong. “Aku butuh bambu, bukan cangkul.”
“Dulu, aku juga terima kerja dari Gumoang. Tapi sekarang  aku setop karena tidak suka dia lagi.”
“Aku juga kadang-kadang tidak suka. Tapi dia punya banyak uang. Aku tidak punya uang.”
“Itu benar.”
“Beritahu aku, kenapa kau tidak suka dia?”
“Dia hanya membayarku dengan Teh Botol Sosro untuk mencuri lima lembar papan kayu dari labuhan.”
“Pelit sekali,” kata Hudon Birong “Aku juga tidak suka dia kalau begitu. Jadi, kau mau menangkap anjing itu bersamaku?”
“Tentu saja, kawan,” kata Gambo. “Kalau dapat anjing itu, kita akan memotongnya di rumahku. Memanggang dagingnya, lantas tulang-tulangnya kita jadikan sup.”
“Aduh, air liurku sudah menetes,” kata Hudon Birong. “Besok, aku tunggu kau di simpang, dekat rumah Keluarga Hariara.”
“Okeh! Jangan lupa, bawa bambu kuning. Kita habisi Dukun setan jahanam itu.”

Batak dan Hal-hal Lain

Saya tidak bangga menjadi orang Batak. Saya juga tidak malu menjadi orang Batak. Jika ditanya tiga atau empat tahun lalu, saat ruang pergaulan saya masih sempit dan buku yang saya baca masih sangat sedikit, saya bisa bilang saya bangga menjadi orang Batak. Mengenal banyak orang dari suku, agama dan ras yang berbeda, menonton film, serta membaca buku dari berbagai negara, merubah cara pandang saya tentang arti kebanggaan. George Carlin pernah berkata bahwa ia tidak pernah bisa mengerti tentang orang-orang yang bangga akan etnisnya atau negaranya. Menurut dia, sebuah kebanggaan harusnya didapat dari sesuatu yang kita pilih atau kita perjuangkan sendiri, bukan dari sesuatu yang kita peroleh dengan tidak sengaja atau dari hal-hal yang kita bawa dari lahir. Saya ingin digolongkan pada orang-orang yang berpikir seperti George Carlin, dan jika pun tidak bisa, saya akan tetap mengikuti saran dari stand-up komedian, aktor, sekaligus penulis dari Amerika ini tentang arti dari sebuah kebanggaan. Menjadi Batak atau Dayak atau suku lainnya bukan sebuah keahlian, itu adalah sebuah kebetulan. Dan karena kebetulan gen saya berasal dari orang-orang yang bersuku Batak, maka saya disebut orang Batak.
Saya memilih mencintai, mencintai budaya bangsa Indonesia. Saya mencintai adat-istiadat suku Batak, adat-istiadat yang membesarkan saya. Saya juga mencintai perasaan halus dan dalam yang ditimbulkan oleh alunan Gamelan Jawa, mencintai kebahagian dan semangat yang ditimbulkan oleh tarian rakyat dari Papua, mencintai cara orang-orang Bali mencintai alam, mencintai rasa masakan Minang, kagum pada cara nenek moyang suku Toraja melaksanakan upacara pemakaman. Saya mencintai berbagai-bagai hal dari suku-suku yang ada di Indonesia. Dan karena mencintai, maka saya mendukung dan bangga pada orang-orang yang berkarya dan pada ide-ide cemerlang. Dan saya juga paham bahwa mereka yang berkarya berhak mendapat pujian.
Namun, seperti yang kita tahu, mencintai bukan perkara yang mudah. Lebih-lebih, mencoba mencintai hal-hal yang sulit dipahami (Akibat dari sangat tipis dan hampir putus, bahkan sebahagian memang sudah putus, baik disengaja maupun tidak, penghubung antara budaya asli kita dengan budaya campur-aduk yang di mana kita hidup saat ini).
Kita para pemuda, paling tidak saya sendiri, seolah-olah hidup mengambang. Memiliki akar sendiri, tapi hanya mampu menjalar di permukaan saja. Sangat mudah diombang-ambing oleh zaman. Hampir tidak memiliki tumpuan untuk berpijak. Penakut dan kosong inisiatif. Saya yang lahir sebagai orang Batak dan yang dibesarkan dengan tradisi Batak yang sangat kental di Samosir, asal usul suku Batak, masih saja kesulitan memahami makna dari sistem kekerabatan, kesulitan memahami makna dari upacara adat serta hal-hal yang bersangkutan dengannya, seperti membedakan jenis-jenis Ulos, jenis Jambar, jenis Tor-tor (tarian), jenis-jenis Gondang (musik tradisional Batak) dan lain sebagainya, yang harus dipersembahkan atau dimainkan pada upacara adat Batak (Karena semua hal-hal itu memiliki arti dan nilai tersendiri).
Saya mempertanyakan, kita semua mungkin mempertanyakan, kenapa bangsa yang dulu dikenal sebagai bangsa yang besar, bangsa pemberani, bangsa penjelajah samudra, bangsa yang memiliki tingkat intelektual tinggi, dan bangsa yang dikenal sebagai penyerbu yang gagah perkasa, pencipta karya seni yang luar biasa, menjadi penakut kerdil, pesimis, dan sangat jarang berkarya?
Kita hidup bermasyarakat, namun tidak memiliki cita-cita dan idaman sendiri dalam bermasyarakat. Kita terlepas dari budaya nenek moyang kita yang hebat itu. Kita sangat jarang menjadikan adat-istiadat kita sebagai inspirasi dalam berkarya (bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa kita ini malas berkarya). Banyak sekali idiologi, serta banyak cita-cita dan juga idaman hidup yang bisa kita temui saat ini. Namun tak satupun yang berasal dari budaya asli Indonesia, budaya yang sebenar-benarnya adalah yang cocok untuk kita.
Jadi, apakah masih ada kemungkinan untuk kita kembali jaya seperti leluhur kita? Apakah kita masih bisa kembali pada kebudayaan bangsa sendiri yang telah teruji waktu? Apakah kita masih bisa kembali menjadikan adat-istiadat yang sudah dirumuskan beratus tahun oleh nenek moyang kita sebagai bahan inspirasi dalam berkarya?
Mencoba menggali, mengesplorasi, dan mempelajari yang masih tersisa dari budaya kita, saya pikir, adalah hal yang masih mungkin bisa kita lakukan saat ini jika kita masih memiliki keinginan kuat untuk itu. Suku Batak masih menjalankkan beberapa adat-istiadat dan masih mempertahankan sistem kekerabatannya hingga saat ini. Jadi, saya akan mencoba menggambarkan orang Batak secara subjektif (hal ini tidak terhindarkan karena saya sendiri adalah Batak), dengan harapan akan bisa membantu (mungkin sangat sedikit) memperlihatkan budaya Batak yang masih tersisa dan hubunganya terhadap kegemaran orang-orang Batak. Semoga yang masih tersisa ini masih tetap bisa menginspirasi kita.
Siapa kami? Kenapa kami seperti ini? Kenapa kami mendapat stereotip sebagai orang-orang yang kasar yang pintar bernyanyi?
Stereotip, dari dasarnya sudah salah, dan menstereotipkan orang Batak sebagai orang-orang yang kasar adalah hal yang sangat-sangat salah. Apapun stereotip yang ditujukan pada suatu suku atau agama atau ras atau suatu golongan adalah memang salah.
Dan saya yakin bahwa menuliskan hal-hal ini tidak akan dituduh sebagai “Culture appropriation”, karena saya, kedua orangtua saya, dan nenek moyang saya semuanya masih asli suku Batak, Batak Toba, dan saya dibesarkan dengan adat-istiadat Batak yang masih kental. Agar bergembira saja, agar dicintai saja, serta agar mudah dipahami, dan semoga tidak dianggap melakukan stereotip, karena ini hanya pendapat pribadi akan sesuatu yang saya amati dalam waktu yang cukup lama, dan saya juga menghidupinya. Saya menggambarkan kami, orang-orang Batak, seperti di bawah ini.
Jika kami memasuki toko buku Gramedia, kami akan cenderung memilih buku karangan George Orwell, Haruki Murakami, Orhan Pamuk, Tan Malaka dan buku-buku lain yang ditulis oleh penulis yang sejenis. Dan untuk kalangan pembaca pemula, kemungkinan besar akan memilih buku-buku karangan Paulo Coelho. Untuk buku karangan Paulo Coelho, “The Alchemist” akan menjadi pilihan utama. Adat-istiadat suku Batak membebaskan semua orang untuk berbicara, semua pendapat dihargai, dan semua orang diakui bermartabat tinggi, karena semua perempuan adalah putri raja dan semua laki-laki adalah putra raja (yang ini memang terdengar aneh), maka yang menyangkut dan yang berkebalikan dengan hal-hal ini akan menarik perhatian orang Batak. Budaya kesamaan derajat ini bisa kita temukan pada filosofis suku Batak tentang hidup bermasyarakat. Filosofis itu disebut “Dalihan Na Tolu”. Filosfis atau prinsip ini adalah tentang hak dan tanggungjawab bermasyarakat. Jika disederhanakan lagi, maka filosofis ini bermakna bahwa setiap orang harus saling menghormati, setiap orang harus memiliki moral menghargai dan menolong orang lain. Kehidupan bermasyarakat akan menjadi buruk atau bahkan menjadi sebuah tragedi jika salah satu atau lebih dari tiga hal ini hilang. Maka buku-buku yang mempropogandakan, terutama tentang kebebasan, kesetaraan, keadilan, tentang memperoleh hak dan menjalankan kewajiban, tentang bobroknya sebuah masyarakat, adanya kehidupan atau tempat yang aneh dan ganjil, seperti cerita adanya kota kucing dalam buku 1Q84 karya Haruki Murakami, akan sangat menarik perhatian dan keingintahuan kami.
Jika kami ingin menonton film, maka film yang kami pilih, jika tersedia, cenderung pada jenis film “Black Comedy”. Seni lakon sudah lama menjadi bagian budaya suku Batak, kami menyebutnya “Opera Batak”. Opera Batak adalah seni pementasan cerita. Dalam opera ini tiga aspek dipentaskan, yakni nyanyian, musik, tarian dan lakon cerita, namun berbeda dengan opera Eropa, dalam opera Batak ketiga aspek tersebut tidak berkaitan satu dengan yang lainnya. Dan kebanyakan dari cerita yang dilakonkan adalah cerita komedi yang didasari oleh sisi gelap kehidupan sehari-hari. Salah satu cerita yang umum adalah tentang Si Gale-gale, anak lelaki kesayangan dan kebanggaan orangtuanya, yang tewas karena adanya perang, yang arwahnya dipanggil kembali ke dunia karena orangtuanya tidak mampu menerima kematian. Arwah itu kemudian merasuk ke dalam patung kayu, dan menari-nari jika mendengar alunan Gondang (musik tradisional Batak).
Ada lagi cerita yang sangat terkenal dan berkembang luas tak terkendali, tentang nenek moyang orang Batak yang memakan manusia. Manusia yang dimakan itu adalah manusia yang datang dari Eropa dan berjenis kelamin laki-laki. Orang Batak zaman dahulu itu menganggap orang Eropa itu adalah penyusup/ pencuri (Mencuri adalah tindak kejahatan paling tinggi bagi suku Batak zaman dahulu. Seorang pencuri akan dihukum mati, dihukum pancung. Darahnya sebahagian diminum oleh kepala adat, telinga, telapak tangan dan telapak kaki serta jantung dimasak, lalu dimakan para kaum pria. Mereka menganggap bahwa roh manusia terdapat pada bagian tubuh tersebut. Potongan tubuh si pencuri yang masih tersisa akan dibuang ke danau Toba). Dan demikianlah yang terjadi pada orang Eropa, mereka memasaknya, lalu memakannya. Jika jenis cerita seperti ini yang lahir dari suku Batak dan tetap diceritakan walau sudah berpuluh-puluh tahun, maka film jenis “black comedy” kemungkinan besar memang jenis film yang paling menarik perhatian kami.
Namun, cerita opera Batak yang saya favoritkan adalah cerita “Si Boru Tumbaga”. Cerita ini mengingatkan saya bahwa kita adalah orang-orang yang merdeka. Dan adat-istiadat juga boleh kita pertanyakan. Kita berhak berpendapat, pun mengajukan keberatan. Seperti kata Knut Hamsun, penulis dari Norwegia, “Ragukan segala sesuatu”. Juga, sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Tan Malaka, “Sekarang, besok dibatalkan oleh yang lebih sempurna. Ini pun akan dibatalkan oleh yang lebih sempurna… ad infinitum… tak putus-putus. Kita jangan kecewa karena keadaan ini. Sebaliknya kita harus gembira dan puas, karena untuk kita dan anak cucu kita masih ada yang lebih baik dan sempurna daripada yang sebelumnya, dalam segala hal yang harus kita capai. Tesis, anti tesis dan sintesis. Perbaikan bukanlah benda kosong, mengejar perbaikan bukan pekerjaan yang sia-sia. Bukankah masyarakat yang beradab feodal pun lebih baik dari masyarakat kayu-mengayu (buas bunuh-membunuh)?”
Jika kami memilih menjadi hewan, maka kami memilih menjadi singa. Kekaguman nenek moyang suku Batak pada jenis hewan ini terukir dalam salah satu jenis Gorga (ornamen rumah Batak), yang disebut dengan “Singa-singa”. Kami ingin menjadi makhluk bebas yang memburu makanan, bukan pemakan bangkai. Kami ingin bermartabat tinggi. Dan cita-cita hidup kami adalah “Horas Jala Gabe” (Selamat dan Sukses), Horas adalah sebuah doa agar hidup sehat, baik rohani maupun jasmani. Gabe adalah sebuah idaman, idaman akan kesuksesan dalam segala hal.
Dan jika kami adalah pecundang, maka kami memilih menjadi pecundang yang membenarkan diri sendiri ketimbang menjadi pecundang yang mengasihani diri sendiri.
Jika memilih lagu, maka jenis lagu yang kemungkinan paling dipilih orang Batak adalah, tentu saja, jenis lagu yang diciptakan oleh nenek moyangnya sendiri, yang diciptakan oleh anggota suku sendiri. Suku Batak memiliki instrumen musik tradisional sendiri. Dan menurut saya, penyebab mengapa orang-orang Batak banyak yang pandai bernyanyi adalah karena orang Batak terbiasa dengan nyanyian. Ibu saya pernah bercerita bahwa Opungnya (neneknya) dan wanita-wanita Batak lainnya, sebelum mengenal agama seperti saat ini, mengutarakan isi pikiran mereka, keluhan-keluhan mereka, harapan mereka kepada Mula Jadi Nabolon (Pencipta Alam Semesta yang dipercayai oleh nenek moyang suku Batak) melalui nyanyian. Seperti doa yang memiliki nada. Saya bisa tahu bagaimana indahnya senandung itu karena nenek saya pernah mencontohkannya. Para wanita-wanita suku Batak di zaman dahulu kala, masih kata opung dari ibu saya, juga menuliskan harapan-harapan mereka dalam Aksara Batak di tenunan kain Ulos yang mereka tenun sendiri (Saya sendiri belum pernah melihat Ulos yang memiliki tulisan ini, kemungkinan besar Ulos seperti itu sudah musnah). Mereka akan menyenandungkan kata-kata itu saat mengangin-anginkan kain ulosnya di siang hari. Jika ingin tahu salah satu jenis senandungan ini, kita masih bisa mendengarkannya ketika seorang anggota keluarga Batak meninggal dunia. Biasanya akan ada anggota keluarga yang menyenandungkan kesedihanya, menyenandungkan kepiluan hatinya karena ditingal pergi. Kami menyebutnya “Mangandung”.
Seni musik dan tari adalah bagian dari budaya Batak. Semua upacara adat harus diiringi musik dan tari. Upacara pernikahan yang berlangsung dari pagi hingga malam diiringi musik dan tari. Upacara kematian bagi orang yang sudah tua, yang berlangsung berhari-hari, juga diiringi musik dan tari, yang disebut dengan istilah “Margondang”. Dan banyak sekali upacara-upacara adat lainnya, yang sekarang sudah hilang karena dilarang oleh agama untuk dijalankan, semuanya diiringi musik dan tari. Mungkin inilah akar dari kesenangan orang-orang Batak dalam seni musik dan tari.
Kita tahu bahwa lagu-lagu Batak sudah mendunia. Lagu Sing Sing So, Sik Sik Si Batumanikam, Tilo Tilo, dan Butet sebagai contoh. Saya tidak tahu ilmu musik, namun dari telinga seorang pendengar yang merupakan anggota dari suku Batak, asal-muasal lagu-lagu ini, saya akan memberikan pandangan pribadi.
Lagu-lagu yang mendunia itu adalah lagu-lagu yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki pemikiran baik. Mereka adalah bagian dari kelompok orang-orang hebat seperti yang disebutkan dalam buku-buku sejarah. Orang-orang yang memahami apa arti dari sebuah karya seni. Mereka menciptakan lirik dan musik yang menarik dan mengasyikan. Dan itu sudah cukup. Mereka tidak mengutamakan pendidikan moral dalam karya, tidak seperti kebanyakan lagu-lagu zaman sekarang ini, yang memaksakan pandangan moral mereka pada pendengarnya, atau memberikan lirik-lirik dan musik yang ditiru-tiru dari lagu lain yang sudah pernah ada tanpa memberikan pengaruh pribadi atau kontribusi baru di dalam karya tersebut. Jika bicara tentang moral, mama-mama orang Batak, dari pagi hingga pagi, sudah lebih dari cukup menceramahi anak-anaknya. Dan jika bicara meniru-niru, itu bukan sebuah karya seni, itu plagiat atau mencuri, dan mencuri, sekali lagi, adalah tindak kejahatan paling tinggi bagi orang Batak.
Kebudayaan asli kita tentu saja sangat bisa menginspirasi kita untuk berkarya. Kebudayaan bangsa kita, adat-istiadat nenek moyang kita, adalah budaya yang sangat indah dan kuat. Kebudayaan bangsa kita bukan budaya massa, bukan budaya pop.
Dan akhirnya, bukankah karya seni itu adalah bayangan dari masyarakat, walaupun kadang-kadang jauh melebihi keadaan masyarakat itu sendiri?

AKU YANG BANGKIT DARI KUBUR

            Semuanya membingungkan. Saat ini Udin duduk jongkok di depan pintuku. Ia adalah  tetanggaku yang minggu lalu dikeroyok massa karena diduga mencuri ayam. Bekas-bekas luka di wajahnya mulai menutup, dan memar-memarnya kini mulai menguning. Ia memegangi telepon genggamnya, mengetik sesuatu, dan sesekali mengajukan pertanyaan padaku. “Sekarang Mas sudah ingat lahir tanggal berapa?” tanya dia tanpa berpaling dari layar yang digenggamannya.

            “Bagaimana aku mengingat jika aku sama sekali tidak pernah tahu?” Kataku kecewa. “Ibuku tidak pernah memberitahuku. Jika aku bertanya, ia selalu menjawab bahwa aku lahir di tengah malam ketika ayahku baru saja kembali dari warung kampung sebelah dalam keadaan mabuk berat. Kau tahu, ayahku,  semoga ia tenang di alam sana, selalu membeli minuman keras saat ia memperoleh uang, dan saat hari kelahiranku ia memperoleh uang dari hasil penjualan telur ayam yang dicurinya. Ibuku juga memberitahuku bahwa saat itu ayahku menganjurkan agar ibuku melahirkan esok harinya saja, di mana orang-orang sudah bangun dari tidur. Namun ia tidak pernah mengingat hari dan tanggal berapa saat semua kejadian itu terjadi.”

            “Jadi, ayahmu pencuri, ya?”

            “Kau ini minta dipukul lagi, atau apa?”

            “Kau tahu, aku sebenarnya tidak pernah mencuri ayam. Bahkan rupa ayam, yang katanya kucuri  itu, tidak pernah sekalipun aku melihatnya. Tahi ayam saja selalu kuhindari, tahi yang baunya membuatku ingin mati, bagaimana mungkin aku memasuki kandang ayamnya yang penuh dengan tahi.”

            “Kalau kau memang tidak mencuri, kenapa kau mengakui bahwa kau mencuri?”

            “Karena semua orang percaya bahwa aku telah mencuri. Jika aku katakan ‘Tidak, aku tidak mencuri,’ mereka akan membunuhku. Mereka hanya ingin menyiksa seseorang. Mereka hanya ingin meluapkan kebringasan mereka yang terpendam. Tidak masalah aku salah atau tidak, yang penting mereka puas.”

            “Apakah hal seperti yang kau alami yang sedang terjadi padaku saat ini?” Tanyaku. Aku merasakan jantungku tiba-tiba berdegup kencang bersama kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku sangat takut.

            “Sepertinya sama,” kata Udin. Ia meluruskan kaki kanannya dan kemudian duduk di lantai semen yang mengilat karena minyak kelapa yang kuoleskan tadi malam. “Hanya saja, kau memperoleh massa yang lebih banyak. Dan bedanya lagi, mereka tidak akan memukulimu, mereka semua mengagumimu,” jelasnya.

“Apakah itu berarti bahwa semua ini tidak akan mendatangkan musibah bagiku?”

“Tentu saja tidak akan mendatangkan musibah. Tapi dengan satu syarat, kau melakukan hal sama seperti yang aku lakukan, mengakui semua kebohongan ini adalah kebenaran, karena itu semua yang ingin mereka percayai,” katanya. “Bagaimana ini, kau tidak tahu tanggal lahirmu, sedangkan Facebook ini memintanya?” Imbuhnya.

Setelah  beberapa pertanyaan untuk persyaratan bisa kujawab dengan lancar, akhirnya tibalah saat di mana semuanya hanya kesia-siaan. Aku tidak akan terkenal dan mereka akan memukuliku karena kebohongan yang aku sendiri tidak tahu dari mana asal mulanya ini. “Sudahlah, hentikan saja! Aku pasrah menerima semua yang akan mereka tuduhkan dan yang akan mereka perbuat padaku,” kataku.

“Kita palsukan saja. Kau pakai saja lah tanggal lahirku,” katanya dan mengetik di kolom-kolom.

“Terserah kamu saja. Aku  juga tidak mengerti,” kataku. Aku mengenakan sendalku dan meninggalkannya di depan pintu.

Kini, semua orang di kampungku bangga padaku. Mereka perlahan-lahan ikut percaya pada berita yang  sebelumnya mereka tahu adalah sebuah kebohongan besar yang tersebar di internet. Dan bahkan aku sendiri terkadang percaya bahwa yang diberitakan itu memang benar-benar terjadi padaku saat aku tergiur oleh rasa kagum saat mendengar bahwa kini sudah ribuan orang membagikan dan menyukai berita palsu itu di Facebook. Dan saat ini, temanku yang malang itu ingin membuatkan akun Facebook atas namaku.

Aku sangat kebingungan. Aku kini sulit membedakan mana yang menjadi kenyataan dan mana yang menjadi kebohongan. Apakah aku benar-benar telah bangkit dari kubur? Apakah aku pernah mati?

Aku terus berjalan melewati batas kampung, melewati pematang sawah, dan berhenti di samping kuburan ayahku. Di sini tepatnya aku berdiri saat sepupuku memotretku dua minggu yang lalu, saat kami melakukan jiarah siang itu. Ia memasukkan foto itu ke Facebook, seseorang mengkopinya, melampirkan artikel berita bohong. Berita itu berjudul, “Kesaksian lelaki yang bangkit dari kubur.” Dan akulah lelaki di dalam foto itu, foto yang kepalanya dilingkari dengan lingkaran merah dan ditunjuk dengan panah merah agar para pembaca mengetahui yang mana lelaki yang bangkit dari kubur. Aku lah dia, aku yang bangkit dari kubur.