Blog Archives

Saya Minoritas di Indonesia

gorgabatak_raymondsitoruswordpress-1

Gorga Batak Toba. ps:saya bukan pemilik foto ini

Akhir-akhir ini saya banyak kecewa dengan ucapan dan tindakan orang-orang di negeri ini. Jauh dari rasa kecewa yang pernah saya alami sebelumnya. Saya sudah cukup banyak mendengar, membaca dan belajar tentang sejarah bangsa ini. Semenjak saya bisa menggunakan otak di kepala sampai nanti menutup mata akan tetap menjadi bagian dari sejarah negeri ini. Namun baru belakangan ini saya sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa saya adalah bagian dari kelompok yang dikucilkan. Saya adalah bagian dari kelompok yang terancam. Saya adalah anggota dari kelompok minoritas yang mungkin besok bisa mati di rumah ibadahnya dengan kepala hancur dan tubuh tercerai-berai. Saya bisa mati seperti itu, dan kematianku hanya dianggap pengalihan isu.

Segala kebanggaanku pada Indonesia tiba-tiba runtuh. Kecintaanku pada adat budayaku seperti terkoyak. Cita-citaku seperti lenyap sekejap dari pandangan mata.

Saya berusaha mengulang membuka-buka halaman buku yang pernah saya baca. Mencari-cari apa sebenarnya yang sedang terjadi pada saya dan kelompokku. Berusaha untuk tidak marah, berusaha mencari jawaban untuk jiwaku  yang sangat kalut. Jujur, saya sangat takut. Sangat takut dengan teror yang tersebar di mana-mana. Teror pekat di udara yang kuhirup. Saya curiga pada orang-orang yang berbeda keyakinan denganku. Menerka-nerka, apa yang akan mereka perbuat padaku dan o rang-orang yang kucintai? Dengan cara apa mereka akan membunuhku?

Mungkin karena saya banyak membaca buku-buku, pergerakan kemarahan, dan keangkuhan mayoritas ini sangat mudah terlihat oleh mataku. Jika ini terus berlanjut, saya tahu akan seperti apa saya dan kelompokku.

Negeri ini tempat lahir nenek moyangku. Tapi saya dianggap asing karena kepercayaan yang saya anut. Kepercayaan yang dicocolkan kepadaku tanpa persetujuan. Saya dihina oleh orang-orang yang sejarah nenek moyangnya sendiri dia tidak tahu. Saya dihina oleh orang-orang yang tidak tahu sejarah negerinya. Kelompokku diancam akan diusir dari tanah air sendiri oleh pengecut bodoh tak tahu diri. Kelompokku diancam akan dibunuh oleh orang-orang bengis yang mengumbar amoral milik mereka. Anggota dari minoritas dibunuh begitu saja karena mereka berbeda keyakinan.

Saya ingin menjerit sekuat tenaga di tanah leluhurku di Samosir. Saya ingin mengadu pada nenek-moyang suku Batak Toba, menuntut pada pendahuluku kenapa memilih beragama Kristen? Kenapa mereka terlalu mencintai anjing, hewan berburu kesayangan mereka itu? Apakah mereka lebih sayang anjing daripada anak cucu mereka? Kenapa mereka suka memakan daging babi? Tidak bisa kah mereka mengganti kepala babi dengan kepala kambing di pesta adat mereka? Kenapa mereka tidak mau melepas adat budaya mereka, dan kemudia memilih agama yang banyak dipilih oleh orang-orang di negeri ini? Sebegitu berharganya kah filsafat suka Batak Toba hingga sulit disatukan dengan agama yang dipilih oleh kebanyakan orang di negeri ini?

Saya mendengar orang-orang tertawa. Mereka menertawakan apa yang mereka anggap sebagai dosa saya, dosa yang diberikan oleh leluhurku dengan penuh kebanggaan dan senyum di wajahnya. Orang-orang itu menertawakan leluhurku dan diriku yang mereka anggap hina ini. Saya mendengar mereka memanggilku kafir. Saya mendengar mereka mengatakan leluhurku dan kelompokku akan dicampakkan ke neraka. Saya mendengar anggota dari kelompokku, anggota yang paling lugu dan cantik telah mati dibunuh oleh mereka yang memanggil kami kafir.

Saya patah hati. Patah harapan. Saya kembali membuka halaman-halaman buku. Mencari jawaban di buku sejarah. Tidak ada jalan keluar yang kutemukan. Hanya penggalan-penggalan peristiwa yang sangat mirip. Saya mengingat-ingat apa yang pernah saya baca dari buku-buku sastra, membaca kembali beberapa bagian. Dan hanya itu yang akhirnya bisa menenangkan jiwaku. Membantuku mengerti dan memahami kehidupan di sekitarku.

Jadi, saya akan berbagi padamu, orang-orang yang saya cintai, orang-orang yang menjadi anggota kelompok minoritas di negeri ini, orang-orang yang masing menginginkan kedamaian, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di bangsa ini menurut apa yang sudah saya pelajari dari buku-buku sastra. Semoga juga bisa menenangkan jiwamu yang sedang kalut itu. Mungkin akan terlihat sangat sederhana penjelasan yang saya tulis ini. Karena ini hanya rangkuman yang saya buat sendiri dengan waktu yang sangat terbatas. Maka tolong bacalah buku-buku sastra. Agar kita semua lebih paham apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Agar kita tahu melangkah dan bersikap dengan gagah berani. Karena lawan kita bukan anak-anak kecil nakal. Lawan kita adalah orang-orang dewasa yang memiliki alibi yang sempurna untuk menjalankan kejahatan mereka.

Kita sedang menghadapi para penjahat yang menggunakan topeng agama. Mereka menilai diri mereka sendiri sebagai orang-orang suci, pembela Tuhan. Jadi, mari kita sebut mereka orang suci. Seperti kata Albert Camus, bahwa dewasa ini ideologi cuma peduli pada penolakan manusia lainnya, mereka yang sendirian bertanggung jawab terhadap kepalsuan. Sejak itulah kita membunuh. Maka mari kita pahami alasan kenapa orang suci di negeri ini berteriak “Bunuh!” dan membunuh. Dari kemarahan dan dendam mereka itu, apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka tuntut?

Dari rekaman video-video yang tersebar luas, dari berita yang saya baca di media-media pemberitaan yang terpercaya, dan juga dari tulisan yang langsung saya baca dari orang-orang yang saya kenal maupun tidak kenal di media sosial, maka dari berbagai sumber itu, saya bisa menyimpulkan bahwa orang-orang itu sedang terjangkit pemikiran salah. Mereka dibelenggu satu sistem dari intelijen yang tersesat yang mengingini kekuasaan, menyenangi kemenangan yang gelap di mana langit dan bumi dihancurkan.

Paham sesat seperti yang tersebar saat ini sudah lama ada. Hanya saja kini kejahatan itu tanpa rasa malu diumbar. Kejahatan itu mengglobal, menjamur rata di setiap sudut bumi. Sejarah sering menyebut akar dari tindakan sesat ini sebagai Nihilisme.

Diyakini bahwa paham Nihilisme adalah akar yang melahirkan nazi di Jerman, paham yang melahirkan fasisme. Kejahatan yang menganggap kelompoknya atau golongannya sendiri saja pemilik dari segala hak. Kelompok ekstrem seperti ini harus terlebih dahulu sekuat tenaga memusnahkan kelompok yang berbeda dengan mereka. Kemudian merebut kekuasaan untuk diri mereka sendiri. Paham sesat ini juga akhirnya harus memiliki seorang pemimpin, pemimpin mereka harus diktator dalam pemerintahan otoriter.

Kita menerima atau tidak, saat ini kita hidup di dunia yang dikungkung oleh kapitalis. Dan menakutkan mengetahui bahwa bangsa yang menganut sistem pemerintahan Demokrasi seperti negara Indonesia ini ternyata juga sangat bisa berubah dengan sangat cepat. Selain kapitalis yang mencekiknya, paham seperti Nihilisme bisa dengan mudah mengancam kesatuan bangsa. Hanya dengan menanam hayalan pada kepala mayoritas bahwa kelompok mereka akan mendapat surga dunia dan surga kayangan dengan cara-cara tertentu, maka negara yang bersistem pemerintahan demokrasi sekalipun akan berubah menjadi negara fasis.

Sialnya, selain kecenderungan fasisme, negara kita juga terancam oleh orang-orang yang ingin melakukan revolusi. Entah revolusi apa. Mereka menyerukan revolusi untuk Indonesia, baik secara malu-malu atau secara terang-terangan. Mereka seperti orang-orang mabuk, orang mabuk berwatak lemah. Mereka tidak pernah sadar dan paham bahwa mimpi profetik Marx dan inspirasi yang kelewat batas dari Hegel atau dari Nietzsche harus dibangun di atas teror. Mereka tidak mau tahu bahwa setiap kaum revolusioner berakhir dengan menjadi penindas atau pembangkang.

Saya tidak lagi heran mengetahu bahwa dunia yang beringas ini mengekang para wanita. Saya tidak heran mengetahui bahwa hampir semua sistem pemerintahan dan ideologi merampas hak para wanita sebagai manusia. Saya tidak heran karena dari buku-buku yang pernah ada, dari tulisan orang-orang yang sekuat tenaga menjunjung kemanusiaan, kebanyakan dari mereka adalah lelaki, menyatakan bahwa kelemah lembutan dan rasa kasih sayang adalah titik kelemahan orang pandai yang bertugas untuk mencapai kekuasaan penuh, kekuasaan yang mengkehendaki kelompoknya mempunyai segala hak.

Maka, untuk semua orang yang masih mencintai kedamaian, untuk kita wanita yang dianggap lemah dalam sebuah sistem yang sedang berlaku saat ini, yakinlah kita yang lebih mengenal kelemahlembutan dan kasih sayang ini adalah lawan yang paling berbahaya untuk kerakusan kekuasaan. Cinta kita pada kehidupan, keindahan, kemanusiaan dan masa depan anak-anak kita adalah lawan dari setiap ekstremis. Jangan diam, karena diam di dunia kapitalis adalah berarti setuju dengan kejahatan yang sedang terjadi. Jangan membiarkan pemikiran bahwa kejahatan ini bisa dibenarkan karena kita hanyalah manusia yang penuh kekurangan. Kekurangan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk membunuh dan merampas hak orang lain. Albert Camus yang teguh memegang nilai-nilai kesusilaan itu mengatakan bahwa tugas kita bukanlah untuk mengumbar pengasingan kita, kejahatan-kejahatan kita, kerusakan-kerusakan kita sebagai manusia di bumi ini, tapi menjaga mereka dalam diri kita dan dalam diri orang lain. Jadi, mari kita bertindak, mari kita menyebar kasih sayang dan kelemah lembutan sebelum terlambat. Sebelum kejahatan, sebelum pembunuhan dan kerusakan merajalela di negeri ini.

Orang Batak Dari Samosir Tidak Cium Tangan

Saya sering salah tingkah saat bertemu dengan orang yang lebih tua dari saya di luar Samosir. Dan yang membuat saya salah tingkah ini adalah perihal cium tangan. Mungkin hal cium tangan ini adalah perkara sederhana bagi kebanyakan orang Indonesia, namun ini sedikit janggal bagi kami orang Batak yang lahir dan dibesarkan di Samosir. Di Samosir, orang-orang hanya berjabat tangan, baik anak-anak terhadap orang tua/dewasa, antar anak-anak, atau pun sesama orang tua/dewasa. Sedangkan di luar Pulau Samosir, keadaannya berbeda. Saya tidak tahu perkara harus mencium tangan orang yang lebih tua ini awalnya dari mana (Mungkin lain waktu, kalau saya ingat, agar tahu, saya harus menanyakan orang yang dari sejak ia lahir sudah melakukan kegiatan cium tangan).

Pertama kali saya merasakan kejanggalan cium tangan ini adalah saat saya masih duduk di sekolah menengah atas (SMA) di Medan. Saya masih orang baru di kota, dan masih sangat kurang pengalaman. Saya ingat saat itu adalah awal bulan Januari, perayaan tahun baru, orang-orang Batak yang beragama Kristen biasanya berkunjung ke rumah saudara atau teman dengan membawa kue atau daging. Dan begitulah yang terjadi, saya bersama teman-teman sepermainan berkunjung ke rumah seorang teman yang orang tuanya mengundang kami untuk merayakan tahun baru di rumahnya. Saat tiba di rumah teman yang mengundang, ayah dan ibunya sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan kami. Saya adalah orang yang berjalan paling depan saat itu. Dengan senyum sopan dan raut terimakasih karena sudah diundang, saya bersalaman dengan orangtua temanku dan langsung berjalan ke arah pintu masuk. Namun, sebelum sempat memasuki rumah, peristiwa yang membuatku ingin pingsan karena merasa tak berbudaya pun terjadi di depan mata. Teman-teman yang lain menyalam dan kemudian mencium tangan ayah dan ibu dari temanku. Kiamat sudah tiba.

Saat itu saya sempat berpikir harus mengulangi kembali cara saya bersalaman, mungkin dengan memasuki kembali barisan teman-teman yang bergiliran menyalami dan mencium tangan orang tua itu akan menyelamatkan saya dari bencana akibat salah berperilaku. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, saya memutuskan untuk tidak bersalaman lagi, dan akibatnya perayaan tahun baru itu terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Saya memutuskan untuk memendam saja rasa bodoh saya karena tidak tahu perkara cium tangan itu. Saya kemudian berjanji saat itu, di tengah keramaian orang, di dekat meja-meja penuh kue-kue dan makanan enak serta minuman segar, namun yang seperti ruang penyiksaan bagi saya, bahwa saya mulai saat itu akan mencium tangan orang yang lebih tua dari saya saat bertemu.

Tetapi sayang sekali, walaupun saya sudah berjanji, hingga sekarang saya masih sering lupa untuk mencium tangan orang yang tua atau lebih tua dari saya. Akibatnya orang-orang pun sering memandang saya dengan pandangan menghina. Mereka menganggap saya tidak sopan dan kasar. Saya pernah tanpa sengaja mendengar seorang wanita berbisik kepada temannya bahwa saya tidak mencium tangan karena saya orang Batak. Saya sedikit merasa tidak enak memikirkan bahwa sterotip tentang orang Batak bersifat tidak sopan dan kasar  kini bertambah kuat karena saya lupa perihal cium tangan ini.

Namun, jika ada orang yang ingin tahu kenapa saya dan juga kebanyakan orang Batak asli yang lahir dan dibesarkan di Samosir sering lupa atau tidak mencium tangan atau melakukan cium tangan ini, maka saya akan menerangkan dari pengetahuan saya yang saya tahu masih sangat sedikit ini, namun saya rasa sudah cukup untuk menerangkan perkara ini. Budaya kami, budaya orang Batak Toba memiliki peraturan yang berbeda dari budaya lain di Indonesia, bahkan dari budaya-budaya lain yang ada di dunia ini. Mungkin ini terdengar berlebihan, namun ini memang berbeda. Bagi orang Batak, derajat manusia tidak ada yang lebih ditinggikan atau lebih direndahkan karena seseorang itu bayi atau pun seseorang itu sudah tua. Penghormatan terhadap seseorang tidak diukur oleh umur atau kasta atau kekayaan atau jabatan.

Orang Batak memiliki falsafah “Dalihan Na Tolu” yaitu “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Dalam bahasa Indonesia bila diartikan dengan sederhan maka maknanya sebagai berikut, “Somba marhula-hula” artinya keluarga pihak laki-laki harus menghormati seluruh keluarga pihak perempuan atau keluarga sang istri (dari tingkat ibu, oppung/kakek hingga seterusnya), karena telah mau memberikan putrinya sebagai istri dan memberikan keturunan dengan satu marga kepada pihak laki-laki. “Manat mardongan tubu” artinya adalah menjaga hubungan baik dengan saudara (hubungan dengan abang atau adik) dan juga dengan  kelompok satu rumpun marga, karena saudara sekandung dan satu marga adalah pihak yang diajak untuk diskusi perihal pelaksanaan adat dan juga nantinya merupakan panitia pelaksana adat, maka persaudaraan yang dijalin dengan baik akan otomatis menghasilkan pelaksanaan adat yang baik. Serta “elek marboru” bermakana harus mengasihi saudara perempuan, karena saudara perempuan dari sebuah marga akan menjadi pihak yang sibuk membantu saudara laki-lakinya dalam upacara adat.

Maka, setiap laki-laki pada hakikatnya, dalam adat batak, memiliki 3 status yang berbeda dalam dirinya. Dia bisa berada dalam posisi pihak yang menghormati atau dihormati, atau menjaga hubungan, atau dikasihi atau mengasihi dalam satu upacara adat. Jadi, inilah akar dari sering lupa atau bahkan tidak pernah orang Batak Toba dari Samosir seperti saya ini melakukan cium tangan (salim) kepada orang yang lebih berdasarkan umur atau jabatan atau kedudukan dari dirinya. Kami dididik untuk tahu terlebih dahulu apa status/posisi yang harus kami perankan, apakah kami adalah pihak yang menghormati atau dihormati? Apakah kami pihak yang harus mengasihi atau dikasihi? Ataukah kita sejajar? Dan ini hanya bisa diketahui berdasarkan marga atau persaudaraan.

Dalam suku Batak, seseorang bisa saja memanggil orang yang lebih muda dari umurnya dengan sebutan abang/kakak, seorang perempuan tua bisa saja memanggil anak laki-laki berumur 5 tahun dengan panggilan oppung/kakek, orang yang berjabatan tinggi atau berkedudukan tinggi dalam pemerintahan bisa menjadi pelayan dalam satu upacara adat, orang yang kaya-raya harus menghormati pihak keluarga istrinya walau mungkin keluarga istrinya itu adalah keluarga yang paling miskin sedunia. Semua tergantung status marga dan hubungan persaudaraan. Jadi, mohon dimaklumi jika kami sering lupa atau tidak mencium tangan orang yang lebih tua, karena kami memang tidak terlatih dan tidak biasa melakukan hal seperti itu. Ini bukan karena orang Batak bersifat kasar atau tidak beradat atau tidak berbudaya, namun karena adat-istiadat budaya kita berbeda. Itu saja.